NYA KUMAHA CARANA MANG H? 2010/9/30 mh <[email protected]>
> > > bah oca, upload ka youtube geura, ke baraya sina download di didinya > > 2010/9/29 Roza R. Mintaredja <[email protected]> > > >> >> babaturan uin, kang rahmat leuweung, geus ngamimitian ngabedah palsapahna. >> uin gen keur diajar nabeuh. karindingna buatan bah olot ti sumedang. aya >> rekaman av na. kahayang mah di attach ka ieu milist, supaya balarea tiasa >> mimiti ngawanohan ku audio/videona. malah mun ditabeuh ku sorangan ditengah >> leuwueng, cnah bakalan di'sumpingan' ku ... beu! hn*0catea >> >> 2010/9/22 mh <[email protected]> >> >> >>> >>> beunang nyalin tina blogna kang denny yanuar >>> >>> =========== >>> Karinding, Alat Musik Karuhun Nan Unik >>> by Denny Yanuar <http://www.facebook.com/profile.php?id=1256932396> on >>> Tuesday, September 21, 2010 at 11:09pm >>> >>> BILA dilihat dari segi popularitasnya, mungkin hanya sedikit dari kita >>> yang mengenal keberadaan alat musik karinding. Padahal, alat musik ini >>> diprediksi sebagai salah satu jenis instrumen tertua yang merupakan warisan >>> dari peradaban kuno. >>> >>> Tempaan perjalanan sejarah yang sangat panjang tersebut temyata tidak >>> menjadikan eksistensinya makin dikenal masyarakat Terlebih, alat musik >>> karinding sempat dianggap musik komunis, karena kerap dimainkan anggota >>> Lekra, lembaga kebudayaan yang diprediksi bentukan Partai Komunis Indonesia >>> (PKT). Akibatnya, pada masa Orde Baru popularitas alat musik ini makin >>> tenggelam dan dilarang dimainkan. >>> >>> "Terlepas dari masalah politik itu, mungkin generasi sebelum kita juga >>> tidak berani mengeksplorasi alat musik karinding," kata Man Jasad (32), >>> salah seorang seniman Sunda yang mencoba mengangkat kembali popularitas alat >>> musik tersebut, saat ditemui di Common Room, Kamis (24/6).Bentuk dari alat >>> musik ini cukup sederhana. Ukuran standar karinding hanya sepanjang sekitar >>> 10 sentimeter dengan lebar 2 sentimeter. Semula alatmusik ini dibuat dari >>> pelepah kawung. Namun, karena sulitnya menemukan pelepah kawung, saat ini >>> para seniman memodifikasi pembuatan alat musik karinding menggunakan bahan >>> baku dari batang bambu. >>> >>> Menurut Man, untuk memainkan alat musik ini cukup mudah. Karinding >>> dimainkan dengan cara ditempelkan di mulut, lalu ditabuh (dipukul) salah >>> satu ujungnya dengan menggunakan telunjuk. Getaran antara karinding dan >>> mulut tersebutlah yang dapat menghasilkan irama yang unik dan menarik.Alat >>> musik karinding dapatdipadukan dengan berbagai jenis alat musik lain, >>> seperti lem-pung, suling, toleat, bahkan koto (alat musik Jepang). Tidak >>> hanya itu, dari beberapa eksplorasi yang pernah dilakukan, terbukti pula >>> bahwa karinding dapat dikolaborasikan dengan beberapa band modern, seperti >>> dengan grup band Burger Kill, beberapa waktu yang lalu. >>> >>> Lebih lanjut Man mengatakan, banyak alat musik yang hampir serupa dengan >>> karinding di daerah lain, seperti genggong di Bali, rinding di Jawa Tengah >>> bahkan dari luar negeri seperti alat musik jeusharp dari Tibet. "Akan >>> tetapi, belum adasejarah tertulis dari naskah kuno yang saya temukan. Hanya >>> berupa cerita lisan dari beberapa orang tua," ucapnya. >>> >>> Perlu pengembangan >>> >>> Untuk dapat memopulerkan kembali alat musik karinding di tengah derasnya >>> arus globalisasi bukanlah suatu perkara yang mudah. Pasalnya, hingga saat >>> ini apresiasi masyarakat terhadap perkembangan seni dan budaya masih sangat >>> minim, terlebih pada seni tradisional. >>> >>> Untuk menyiasatinya, sejak 2008, Man Jasad bersama beberapa rekan seniman >>> lainnya mencoba mengembangkan alat musik karinding ini sesuai dengan kondisi >>> zaman. "Buat pengembangannya, yang terpenting adalah pengemasan komposisi >>> musik agar bisa diterima oleh anak muda zaman sekarang. Jadi, intinya >>> dikemas dengan gaya kekinian, dari mulai penyajian sampai performanya," >>> tuturnya.Pengembangan musik karin- ding tersebut temyata cukup membuahkan >>> hasil. >>> >>> Hingga saat ini, telah banyak terbentuk grup karinding di berbagai >>> tempat. Di Cicalengka misalnya, terdapat grup Markipat Karinding yang >>> memainkan alat musik tersebut dengan menggunakan gaya vokal khas aliran >>> death metal. Selain itu, dalam beberapa pergelaran seni juga kerap ditemukan >>> pemaduan karinding dalam pembacaan puisi.Tidak hanya terbatas sampai disitu. >>> Bila kita perhatikan, di beberapa pertunjukan musik metal maupun underground >>> di Kota Bandung, saat ini tidak jarang diselipkan unsur budaya tradisional >>> di sela-sela acaranya. "Kebetulan saya sendiri sudah belasan tahun >>> berkecimpung di dunia musik metal. Jadi target utama saya awalnya kepada >>> anak muda yang suka musik metal," ucap Man. >>> >>> Walaupun perkembangan alat musik karinding saat ini mulai diterima oleh >>> kalangan muda, Man mengaku sempat menuai kritik dari beberapa kokolot >>> (senior) seni Sunda, karena cara penyajiannya dianggap tidak sesuai dengan >>> tradisi lama. "Akan tetapi, menurut saya pribadi, budaya itu merupakan suatu >>> produk manusia. Jadi, sah-sah saja untuk mengembangkannya sesuai dengan >>> kondisi kekinian. Lagi pula kita belum punya referensi berupa audio yang >>> sudah baku," kata Man. "Sekarang mah, yang paling penting bagaimana caranya >>> agar tradisi kita bisa berkontribusi aktif di Jawa Barat khususnya, umumnya >>> di Indonesia dan lebih jauh lagi secara global," katanya. (Albian-syah) >>> >>> >>> >>> Tiba-tiba sebilah kecil bambu itu menyerang berbagai daerah di Jawa >>> Barat; hampir seperti simsalabim mewujud jadi tema popular obrolan di >>> kalangan anak-anak muda, masuk ke dalam diskusi-diskusi seni dan budaya, >>> ikut hadir dalam perhelatan musik modern, bahkan kerap tertulis dalam status >>> para facebookers dan posting banyak blogger. Kedatangannya cukup >>> mencengangkan, dan tentu saja: tak terduga. Tak terduga, karena sebilah >>> bambu itu sama sekali bukan produk temuan kontemporer, melainkan tercipta >>> dari suatu waktu yang konon terbentang 6 abad dari masa ini, bahkan telah >>> dinyatakan punah. Sebilah bambu yang memproduksi bunyi dari vibra salah satu >>> komponennya itu bernama: karinding. Jika benar karinding telah punah atau >>> mati, maka dapat dipastikan kini hantunya bergentayangan liar di hampir tiap >>> sudut tempat. *Sejarah Karinding * >>> >>> >>> >>> Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk >>> mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi >>> hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat >>> musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun >>> memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika >>> sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. >>> Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu >>> atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat >>> kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di >>> kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada >>> jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti >>> gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini. >>> >>> >>> >>> Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum >>> adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka >>> karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata >>> karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan >>> dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di >>> bangsa lain pun memiliki alat musik ini--hanya berbeda namanya saja. Di Bali >>> bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan >>> beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues). >>> Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa >>> mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya >>> cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan >>> dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan >>> menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda >>> dimainkan dengan cara di tap atau dipukul. >>> >>> >>> >>> Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), >>> ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk >>> karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan >>> gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini >>> untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan >>> disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran >>> lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. >>> Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah >>> priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan >>> ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1] >>> >>> >>> >>> Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran >>> ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan >>> pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi >>> yang diproduksi. >>> >>> >>> >>> Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk >>> karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian >>> bambu yang dipotong hingga bergetar saat karinding diketuk dengan jari. Dan >>> ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan. >>> >>> >>> >>> Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas >>> tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau >>> menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” >>> karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah >>> dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan >>> akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara >>> konvensional—menurut penuturan Abah Olot--nada atau pirigan dalam memainkan >>> karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan >>> iring-iringan. >>> >>> >>> >>> *Karinding Hari Ini * >>> >>> >>> >>> Satu hal yang menarik dan patut kita cermati dalam melihat fenomena >>> kembalinya karinding secara masif di tengah masyarakat ini adalah bahwa >>> ternyata “kelahiran” kembali karinding ini tidak bermula di daerah-daerah >>> pedesaan yang masih bercorak tradiosional—yang biasanya masih memelihara >>> tradisi dan karuhun secara agak ketat. Namun karinding justru kembali hidup >>> dan popular di perkotaan, di kalangan masyarakat urban--juga generasi >>> muda--yang kultur sosialnya telah sangat modern, dalam arti telah melepaskan >>> sebagian besar tradisi karuhun dari kehidupan pribadi dan sosialnya. >>> >>> >>> >>> Sebagian ada yang menilai, seraya berbangga hati melihat fenomena ini. >>> Bagi mereka ini menunjukkan suatu kebangkitan budaya lokal. Karinding yang >>> merupakan seni buhun sanggup eksis dan bersaing dengan alat musik modern >>> yang cenderung berbau barat. >>> >>> >>> >>> Kita tahu bahwa modernitas kerap mengeliminir unsur lokalitas hingga >>> membuat manusia terjebak dalam alienasi atau keterasingan dari akar >>> sejarahnya sendiri hingga membawa manusia—juga secara kolektif: >>> masyarakat--pada masa-masa frustasi (frustasi sosial). Dalam waktu lama >>> frustasi yang berjalin serasi dengan rasa inferioritas di hadapan hegemoni >>> modern yang digjaya dan seperti tak mungkin dikalahkan ini menumbuhkan >>> perasaan “heroik” (atau ketakutan yang akut?) untuk kembali merebut jati >>> diri yang merasa telah dirampas oleh modernitas. Heroisme (atau ketakutan?) >>> inilah yang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk kembali masuk dan >>> menghubungkan diri secara lebih mendalam dengan akar budayanya sendiri >>> (fundamentalisme). Kemuculan kembali karinding sebagai alat musik buhun yang >>> telah ada enam ratusan tahunan yang lalu merupakan bentuk dari keinginan >>> sebagian masyarakat urban (sebagai korban utama dari modernitas) untuk >>> kembali terhubung dengan sejarahnya sendiri dan dengan itu kembali >>> meneguhkan identitasnya seraya melawan dari gempuran modernitas yang begitu >>> hegemonik. Maka dengan karinding mereka lawan hegemoni itu. >>> >>> >>> >>> Namun ada juga yang “biasa saja” bahkan cenderung pesimis dengan >>> kebangkitan karinding ini. Mereka sama sekali tidak melihat fenomena ini >>> sebagai kebangkitan seni dan budaya lokal dalam kehidupan kontemporer. >>> Masyarakat urban dan generasi muda sebagai tempat awal kelahirannya kembali >>> telah cukup bukti untuk menarik kesimpulan bahwa fenomena karinding ini >>> masih termasuk dalam fenomena modernitas. Yang baru, yang berbeda, yang >>> tidak nge-pop kerap menjadi prasyarat untuk seseorang atau komunitas >>> mendapat predikat modern. Maka, memainkan karinding saat ini adalah bentuk >>> modernitas; sekali lagi karena ia dianggap baru dan berbeda. >>> >>> >>> >>> Dan juga fakta bahwa banyak dari kalangan generasi muda yang memainkannya >>> dengan irama atau beat-beat kontemporer, lepas dari pakem karuhun, juga >>> mengkolaborasikannya dengan alat-alat musik modern lainnya. >>> >>> >>> >>> Karena karinding hanyalah fenomena modernitas dan karena itu bersifat >>> temporer, maka karinding pun akan cepat dilupakan jika keberadaannya di >>> tengah masyarakat telah mengalami bentuk kemapanan tertentu, atau telah >>> tergeser oleh sesuatu yang lain, yang lebih baru. >>> >>> >>> >>> Maka akhirnya semua kembali pada kita. Apakah kita akan memperlakukan >>> karinding ini sebagai warisan karuhun yang sakral dan wajib dimumule, >>> ataukah akan memperlakukannya hanya secara profan dan sekadar alat musik >>> biasa? Jika kita menyikapinya dengan sikap yang pertama berarti kita harus >>> menjaga orisinalitas dan tetekon-tetekon atau pakem yang terdapat di >>> dalamnya. Menjaganya untuk tetap lestari menjadi beban moril mendalam bagi >>> diri kita. Namun bila kita memilih sikap yang kedua maka berinovasilah >>> sebebas mungkin, bila perlu berkresasilah yang benar-benar baru, seperti >>> para karuhun dahulu menciptakan karinding. Itu semua pilihan. >>> >>> <http://www.facebook.com/photo.php?pid=30935873&fbid=1397445256954&op=1&view=all&subj=149502911757360&aid=-1&auser=0&oid=149502911757360&id=1256932396> >>> <http://www.facebook.com/photo.php?pid=30935874&fbid=1397446056974&op=1&view=all&subj=149502911757360&aid=-1&auser=0&oid=149502911757360&id=1256932396> >>> >>> >>> http://www.facebook.com/notes/denny-yanuar/karinding-alat-musik-karuhun-nan-unik/149502911757360 >>> >>> >> > >
