NAY POHACI 'INDUNG KURING'
by Richadiana Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on
Sunday, October 17, 2010 at 1:20pm

*SIAPA yang tidak mengenal mitologi NAY Pohaci di TATAR SUNDA? *

Mungkin secara umum telah banyak kenal ceritanya, namun tidak salah jikalau
diungkapkan ulang di sini (bari ngadaweung - ngopi - nanghunjar lambar...
emh... aya ku nikmat)



Mitologi Sunda mengandung filsafat struktur pemikiran di dalamnya juga
menjawab pertanyaan sangkan paran, asal-usul jati atau genesis ekologi Sunda
tempat nenek moyang- orang Sunda dahulu hidup,  antara lain terdapat
dalam *Pantun
Sulanjana, Wawacan Nyi Pohaci, Wawacan Pohaci Terus Dangdayang*.... hayu
cuang teuleuman piwejang KARUHUN urang anu sakitu mundelna ! kieu ringkesna
mah ...



Nyi Pohaci tidak dilahirkan oleh siapa pun tetapi diceritakan  berasal dari
sebutir telur yang semula dari tetesan air mata Dewa Naga Anta (dunia
bawah). Diawali Dewa Guru (dunia atas) yang hendak membangun istana maka
para dewa turut membantu membangun diantaranya - Bale Mariuk dan - Gedong
Sasaka Domas.



Akan tetapi Naga Anta tidak ikut membantu karena organ tangan yang berfungsi
untuk bekerja tidak dimilikinya, Naga Anta ditegur keras oleh Batara Narada,
wakil Dewa Guru. Betapa pilu Sang Naga Anta hingga tak kuasa menahan tangis
karena sesungguhnya bukan tidak hendak turut meembantu melainkan
keterbatasan kodrati atas organ tubunya yang tidak mampu.



Naga Anta meneteskan tiga bulir air mata dan serta merta berubah menjadi
tiga butir telur. Tiga telur itu hendak  dipersembahkannya kepada Dewa Guru.
Di tengah perjalanan Naga Anta ditegur Sang Elang, namun Naga Anta tiada
menjawab sepatah kata pun karena mulutnya tengah membawa telur (karena ia
tak punya tangan). Sang Elang berang dan seketika menyambar Naga Anta
sehingga dua butir telur yang tengah digenggam mulut Naga Anta jatuh di bumi
lalu menjelma menjadi Kakabuat dan Budug Basu (semacam babi hutan).



Akibatnya Naga Anta hanya dapat mempersembahkan sebutit telur saja ke
hadapan Dewa Guru, dan oleh Dewa Guru Naga Anta diminta untuk mengerami
telur tersebut. Tak lama kemudian telur itu menetas dan keluar seorang 'BAYI
PEREMPUAN' demikian elok parasnya dan gemulai, lalu dinamainya NAY POHACI,
Sang Bayi langsung disusui oleh Dewi Uma (istri Dewa Guru) dan diasuhnya
penuh kasih sayang layaknya seorang ibu kepada putri kandungnya. Waktu
berjalan dan tiada terasa NAY POHACI mangkat remaja dan wajahnya kian elok
tiada banding sehingga Dewa Guru jatuh cinta dan berniat memperistrinya.



Niatan 'Ayahanda-angkatnya' itu justru mengakibatkan Nay Pohaci jatuh sakit
dan tak lama berselang ia pun meninggal dunia. Dewa Guru memerintahkan
waruga Nay Pohaci dikubur di dunia tengah (tempat tinggal manusia)...
'ajaib'  dari kubur Nay Pohaci tumbuh berbagai  tanaman yang kemudian
diketahui dan terbukti sangat berguna bagi kehidupan manusia.



Dari organ Kepala tumbuh  pohon kelapa.

Dari organ Mata kanan tumbuh  padi (putih).

Dari organ Mata kiri tumbuh padi merah.

Dari organ Hati tumbuh padi ketan.

Dari organ Paha kanan tumbuh Awi (bambu) aur.

Dari organ Paha kiri tumbuh Awi (bambu) tali.

Dari organ Betis tumbuh pohon Aren (enau).

Dari organ Ususnya tumbuh akar tunjang.

Dari organ Rambut tumbuh rumputan. dll ...



Segenap ORGAN TUBUH NAY POHACI tidak ada yang dikecualikan -- tumbuh
berbagai tanaman yang sarat dengan kehidupan manusia di dunia atau dengan
kata lain 'APA YANG KITA MAKAN SEKARANG SEUTUHNYA BERASAL DARI TUBUH NAY
POHACI'



Namun apa yang terjadi ? Semua tanaman itu dirusak Kalabuat dan Budug Basu
tetapi kemudian Sanghiyang Maha Wenang menciptakan Jaka Sadana (Sulanjana),
Sri Sdana, dan Rambut Sadana (juga disebut Talimenar dan Talimenir) yang
juga lahir dari tetes air mata Sang Naga Anta tadi dan sejak itu Dewa Guru
menitahkan tiga bersaudara itu memelihara segala tanaman yang dibutuhkan
manusia (di sini bekait langsung kepada masyarakat Sunda - pantun
Sulanjana). Dewa Guru juga menitahkan Batara Semar dan membiakkan
tanaman-tanaman tersebut khusus di wilayah Kerajaan Pajajaran (baca: TATAR
SUNDA).



Jelas Nay Pohaci merupakan  sumber hidup masyarakat Pajajaran, itu sebabnya
masyarakat Tatar Sunda menghormati Nay Pohaci yang tiada lain adalah simbol
DEWI BUMI -MOTHER GODDES- MOTHER EARTH khususnya bagi masyarakat yang
memangku pokok kehidupan sebagai masyarakat AGRARIS.



Bagi masyarakat di era modern sekarang mungkin tidak terfikirkan bahwa 3
butir telur adalah SIMBOL TRI TANGTU= tiga dunia = tiag pola tingkat
kehidupan yang dialami manusia sejak LAHIR - HIDUP -MATI sebagai kesadaran
yang memaknai realitas faktual ruang - waktu dan bentuk KEBUDAYAAN SUNDA.



Konsep Pola hubungan tiga juga tercermin dalam pengaturan tatanan hunian,
tatanan umah dan interiornya, termasuk tatanan ekosistem dan ekologinya
(leuweung- lembur -laut), pola tenunnya (tri warna), pola peralatan
sehari-hari dan masih banyak lagi tak terrhitung. Yang pada hakekatnya
merupakan dasar kosmik holistik : langit (dunia atas), bumi (dunia bawah)
dan dunia manusia (dunia  tengah) membentuk kesatuan tiga. Jikalau
diterjemahkan ke dunia modern akan membentuk pola segitiga sama kaki: bagian
puncak segitiga = dunia atas atau langit; dasar segitiga = dunia bawah
(bumi) dan dunia tengah (manusia di atas bumi).



KANEKES lah yang nyatanya masih memegang pola tiga kosmik ini:

-  Lembur Cikeusik adalah dunia atas (langit, di puncak segi tiga)

-  Lembur Cikartawana (dunia tengah) dan

-  lembur Cibeo (dunia bawah)



Demikian IMAH SUNDA BUHUN dibangun dengan landasan dasar pola ini:

- Atap (dunia atas, biasanya arah atap ke hulu dan hilir atau arah atas dan
arah bawah),

- tempat tinggal keluarga (dunia tengah) dan

- kolong rumah (dunia bawah).



Maka MITOLOGI NAY POHACI bukan sekedar 'MITOS GOMBAL' melainkan interferensi
internal LULUHUR yang direpresentasikan ke dalam pengalaman EMPIRIS yang
benar2 'A POSTERIORI' guna menyikapi disertai RASA HORMAT yang SETINGI2NYA
terhadap LINGKUNGAN KEHIDUPAN BUDAY diman MANUSIA TELAH DITAKDIRKAN berada
di dalamnya di dalam PELUKAN NAY POHACI 'IBUNDA KANDUNG' URANG SUNDA!



Bahwa Nay Pohaci yang semula menghuni DUNIA ATAS lalu TURUN KE DUNIA TENGAH
setelah melalui DUNIA BAWAH - dahulu adalah daur KEHIDUPAN MANUSIA SE
UTUHNYA juga pola TIGA yang SOLID senantiasa terjadi di dalam segala aspek
kehidupan manusia.



Nay Pohaci yang "lahir" dari sebutir telur dengan dua butir telur lainnya
(bersaudara) adalah implikasi dari DERITA SANG NAGA ANTA . Dari tiga telur
akibat penderitaan Naga Anta itu (menangis) hanya satu telur yang sampai di
dunia atas (Dewa Guru) dan Nay Pohaci merupakan satu- satunya telur yang
menjadi "manusia" di dunia atas, sedang dua telur yang lain ada di dasar
segi tiga itu.



Nay Pohaci yang dibesarkan di dunia atas ini dan meninggal juga di dunia
atas, kematiannya tiada sia2  melainkan karena dicintai "pembesar" atau
"penguasa" dunia atas, Dewa Guru, sehingga ia dikirim ke dunia tengah dan
menganugrahkan kasih sayang melalui berbagai jenis tanaman yang berguna bagi
manusia. Maka pula tanaman adalah wujud emanasi mahkluk dunia atas,
karenanya  bersifat sakral. Oleh karena itu tidak hanya bagi MASYARAKAT
TATAR SUNDA saja, tetapi pada ETNIS2 LAIN DI MUKA BUMI dalam KOMUNITAS ADAT
ada himbauan untuk tidak memperlakukan segala tanaman dengan se-mena2
melainkan disertai rasa hormat sangat dalam dikala hendak menetik dan
dimanfaatkan sebagai makanan.



Bahwa Nay Pohaci dimusuhi dua saudara kandungnya (Kalabuat dan budug Basu :
Bandingkan ya dengan CARITA PARAHIYANGAN..)

yang dimaksud adalah HAMA dan pada tataran sama sebenarnya merupakan
pasangan antagonis. Karena di dalam setiap aspek kehidupan selalu saja ada
unsur-unsur antagonis yang berpasangan (LAKI-BINI; SUMAI ISTRI;
HUJAN-KEMARAU; TERANG-GELAP.. dlll sebagainya ... tambahkan sendiri)
demikian kiranya pasangan kehidupan dan kematian juga ada tanaman dan ada
hama perusak. Unsur Antagonis yang senantiasa ada dalam kenyataan lingkaran
kehidupan manusia secara berbalikan dan berperan dialektis yang harus
disadari dan diterima dalam kehidupan manusia. Layaknya beerkah dan
malapetaka juga dari sumber yang sama.



Bagi URANG SUNDA ada keyakinan bahwa dikala saat demikian terjadi maka
SANGHIYANG MAHA WENANG AKAN menganugrahi solusi alias  pemecahanNya, dengan
mengirimkan tiga pasangan pemusnah hama: masing-masing disebut Jaka Sadana,
Sri Sadana dan Rambut Sadana, atau Sulanjana, Talimenar dan Talimenir atau
KALABUAT dan BUDUG BASU.



Kiranya Mitologi SUNDA -  NAY POHACI SANGHIYANG RARANG mengisyaratkan ajaran
bahwa semua tanaman yang memberi manfaat hidup kepada manusia berasal dari
dunia atas; ancaman hama dan kerusakan dari dunia tengah; dan bahwa manusia
tidaklah sempurna meski telah dihadirkan "sempurna" dari dunia atas.



Kesempurnaan atau kebaikan sebenarnya lebih bersifat rohani-adikodrati. Pola
tiga ini distruktur dengan jalan "harmoni" Bawah-Atas terlebih dahulu. Nay
Pohaci dari tetes air mata Naga Anta bermakna rohani- adikodrati dunia
bawah- dari dunia bawah (bumi) dibawa ke dunia atas (langit), baru
diturunkan ke dunia tengah manusia. Mengingatkan struktur hubungan bawah -
atas - tengah dalam berbagai mitologi Sunda lainnya seperti Wawacan Guru
Gantangan.



Nay Pohaci adalah harmonisasi dunia bawah dan dunia atas yang lebih
ditekankan kepada segi sakralitas, dalam artian kesempurnaan dan
kebaikannya. Konsep pemikiran atas - bawah - tengah merupakan simbol
bersatunya unsur bumi dan langit atau tanah dan air hujan khusus nya di
dalam kehidupan masyarakat peladang (paling signifikan adalah Sunda -
KANEKES; juga DAYAK - Borneo) yang dapat menyumbuhkan dan menyuburkan segala
jenis tanaman dibutuhkan masyarakat Sunda. Apa yang dapat dipahami adalah
bahwa dunia tengah (manusia) berlaku hukum kausalitas (segala tumbuhan subur
jikalau air hujan bertemu/menyirami tanah); rusaknya tanaman juga karena
hukum kausalitas (dihajar hama sampai hadas!... heuheuheu..).



Namun agaknya peristiwa tiga butir telur dari bulir air mata di dunia bawah
tidak berlaku hukum kausalitas melainkain hukum spontanitas! Hukum
Spontanitas yang brlaku atas peristiwa bagaimana bulir air mata menjadi tiga
butir telur; tiga butir telur 'UJUG2'  jadi tiga mahluk hidup (Kalabuat,
Budugbasu, dan Nay  Pohaci? ); juga  bagaimana hukum kausalitas dunia
manusia, jikalau tubuh Nay Pohaci melahirkan berbagai jenis tumbuhan?
Semuanya atas dasar hukum spontanitas (jika SANGHIYANG MAHA WENANG
MENGHENDAKINYA - maka semuanya TERJADI SEKETIKA)- beyond compare - beyond
the world ! Suatu isyarat kepada manusia bahwa alam rohani bekerja bukan
berdasarkan hukum sebab- akibat manusia (Manusia lahir akibat hubungan
seksual lelaki dan perempuan, tetapi  Nay Pohaci bukan hasil kerja seksual
siapa pun. Nyi Pohaci itu berasal dari setetes air mata Dewa Anta, jadi
seksual atau nonseksual) tetapi dalam tataran SAKRAL atau KERAMAT  dan yang
membawa BERKAH bagi manusia.



Maka Mitos Nay Pohaci adalah hasil renungan pemikiran manusia Sunda
(KARUHUN) mengebai asal-usul kehidupan di bumi dengan berbagai aspeknya
(adanya berbagai jenis padi;  bambu dan jenis tanaman merambat, juga Aren -
kelapa dll. dsb) Semuanya  diperlukan manusia (khususnya lingkungan alam
URANG SUNDA) setiap hari dalam memenuhi kepentingan kelangsungan hidupnya.

- Padi untuk makanan pokok.

- Tanaman merambat untuk makanan tambahan.

- Rumput untuk ternak.

- Bambu untuk rumah.

- Pohon Aren diperoleh ijuk untuk atap rumah juga peralatan mengolah
sehari-hari (tuak untuk upacara religi) dll



Mitoslah yang mengajarkan bahwa semua itu bukan ciptaan manusia melainan
hadir eksistensial berkat hukum spontanitas dunia rohani tadi. Tentu saja
pola pikir yang demikian itu bukan monopoli manusia Sunda (semua mitologi
manusia berpola sama - universal- bagaimana alam lingkungan yang tersedia
bagi manusia Sunda ditanggapi dengan realitas kesadaran budayanya).
Sebagaimana URANG SUNDA menangggapi lingkungannya  melalui kehidupan
berladang (HUMA). HUMA inilah yang menjadi pilihan yang pada gilirannya
dipahami hingga ke intinya yang terdalam. Bahwa PADI adalah makanan POKOK
dan lingkungan TATAR SUNDA memicunya untuk ditanama di LADANG (HUMA). Lalu,
HUMA bergantung kepada hujan yang turun dari LANGIT, implikasinya adalah
langit - dan bumi terjadi KAUSALITAS DIALEKTIS  dalam kehidupan manusia:
HUMA (LADANG= TANAH/ BUMI ) = NAY POHACI --->>>> AZAS PEREMPUAN sebagai
sumber KESUBURAN dan HUJAN (LANGIT= laki2) turut menyuburkannya!



Itu sebabnya PEMBERI HIDUP MANUSIA adalah INDUNG (IBU) dan LAKI2
melengkapinya, maka KEHIDUPAN ini TUMBUH BERKEMBANG dalam relativitas
alami.  cag!

http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/nay-pohaci-indung-kuring/445115714474

Kirim email ke