heheh ... :) kapayun ka mana ...kang...lamun istilah "ngawula ka gusti" , 
"sajarah badan", sareng " shalawat badan" ...bilih akang nguninga ....mah ulah 
sungkan nya ....kanggo di caritaken... heheh

--- Pada Ming, 17/10/10, mh <[email protected]> menulis:

Dari: mh <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] Budaya - Mitos Nay Pohaci?
Kepada: [email protected]
Cc: "Richadiana Kartakusuma" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 17 Oktober, 2010, 11:51 PM















 
 



  


    
      
      
      walah poekeun kang, pakait sareng carita naon tah "kiai babusdaka" teh.
sor ambu dian, geura ka payun tah. hehehe

2010/10/17 syampady none <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      upami kecap "kiai babusdaka" ... saderek uninga teu...

--- Pada Ming, 17/10/10, mh <[email protected]> menulis:


Dari: mh <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] Budaya - Mitos Nay Pohaci?

Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 17 Oktober, 2010, 9:43 PM















 
 



    
      
      
      katinggalina mah nu beda teh masalah gelaran, atawa ceuk ambu dian (nu 
nulis artikelna) mah cenah sebutan honorifik.
da ari tokohna mah sarua nya. 

sami di kawasan garut ge, katelahna teh "nyi mas pohaci sang hyang sri"


 

2010/10/17 syampady none <[email protected]>

















 



  


    
      
      
      mun telepat di lembur kuring mah disebut na NYI MAS POHACI Sang HYang SRI 
,,,anu di anggo bahsanna ku kahurun sesepu di dilembur kuring....



--- Pada Ming, 17/10/10, mh <[email protected]> menulis:


Dari: mh <[email protected]>

Judul: [kisunda] Budaya - Mitos Nay Pohaci?
Kepada: "Ki Sunda" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 17 Oktober, 2010, 5:13 PM

















 
 



    
      
      
      NAY POHACI 'INDUNG KURING'by Richadiana Kartakusuma on Sunday, October 
17, 2010 at 1:20pm


SIAPA yang tidak mengenal mitologi NAY Pohaci di TATAR SUNDA? Mungkin
 secara umum telah banyak kenal ceritanya, namun tidak salah jikalau 
diungkapkan ulang di sini (bari ngadaweung - ngopi - nanghunjar 
lambar... emh... aya ku nikmat) Mitologi Sunda mengandung 
filsafat struktur  pemikiran di dalamnya juga menjawab pertanyaan 
sangkan paran,  asal-usul jati atau genesis ekologi Sunda tempat nenek 
moyang- orang Sunda  dahulu hidup,  antara lain terdapat dalam Pantun 
Sulanjana, Wawacan Nyi Pohaci, Wawacan Pohaci Terus Dangdayang.... hayu cuang 
teuleuman piwejang KARUHUN urang anu sakitu mundelna ! kieu ringkesna mah ... 


 Nyi
 Pohaci tidak dilahirkan oleh siapa  pun tetapi diceritakan  berasal 
dari sebutir telur yang semula dari  tetesan air mata Dewa Naga Anta 
(dunia bawah). Diawali Dewa Guru  (dunia atas) yang hendak membangun 
istana maka para dewa turut membantu membangun diantaranya - Bale Mariuk
 dan - Gedong Sasaka Domas. Akan tetapi Naga Anta tidak 
ikut membantu karena organ tangan yang berfungsi untuk bekerja tidak 
dimilikinya, Naga Anta ditegur keras oleh Batara Narada,  wakil Dewa 
Guru. Betapa pilu Sang Naga Anta hingga tak kuasa menahan tangis karena 
sesungguhnya bukan tidak hendak turut meembantu melainkan keterbatasan 
kodrati atas organ tubunya yang tidak mampu. Naga Anta 
meneteskan tiga bulir air mata dan serta merta berubah  menjadi tiga 
butir telur. Tiga telur itu hendak   dipersembahkannya kepada Dewa  
Guru. Di tengah perjalanan Naga Anta ditegur Sang Elang, namun Naga Anta
 tiada menjawab sepatah kata pun karena mulutnya tengah membawa telur 
(karena ia tak punya tangan). Sang Elang berang dan  seketika menyambar 
Naga Anta sehingga dua butir telur yang tengah digenggam mulut Naga Anta
 jatuh di bumi lalu menjelma menjadi  Kakabuat dan Budug Basu (semacam 
babi hutan). Akibatnya Naga Anta hanya dapat 
mempersembahkan sebutit telur saja ke hadapan Dewa Guru, dan oleh Dewa 
Guru Naga Anta diminta untuk mengerami telur tersebut. Tak lama kemudian
 telur itu menetas dan keluar seorang 'BAYI PEREMPUAN' demikian elok 
parasnya dan gemulai, lalu dinamainya NAY POHACI, Sang Bayi langsung 
disusui oleh Dewi Uma (istri Dewa Guru) dan diasuhnya penuh kasih sayang
 layaknya seorang ibu kepada putri kandungnya. Waktu berjalan dan tiada 
terasa NAY POHACI mangkat remaja dan wajahnya kian elok tiada banding 
sehingga Dewa Guru jatuh cinta dan berniat memperistrinya. Niatan
 'Ayahanda-angkatnya' itu justru mengakibatkan Nay Pohaci jatuh sakit 
dan tak lama berselang ia pun meninggal dunia. Dewa Guru memerintahkan 
waruga Nay Pohaci dikubur di dunia tengah (tempat tinggal manusia)... 
'ajaib'  dari kubur Nay Pohaci tumbuh berbagai  tanaman yang kemudian 
diketahui dan terbukti sangat berguna bagi  kehidupan manusia. Dari organ 
Kepala tumbuh  pohon kelapa.Dari organ Mata kanan tumbuh  padi (putih).Dari 
organ Mata kiri tumbuh padi merah.Dari organ Hati tumbuh padi ketan.


Dari organ Paha kanan tumbuh Awi (bambu) aur.Dari organ Paha kiri tumbuh Awi 
(bambu) tali.Dari organ Betis tumbuh pohon Aren (enau).Dari organ Ususnya 
tumbuh akar tunjang.Dari organ Rambut tumbuh rumputan. dll ...


 Segenap
 ORGAN TUBUH NAY POHACI tidak ada yang dikecualikan -- tumbuh berbagai 
tanaman yang sarat dengan kehidupan manusia di dunia atau dengan kata 
lain 'APA YANG KITA MAKAN SEKARANG SEUTUHNYA BERASAL DARI TUBUH NAY 
POHACI' Namun apa yang terjadi ? Semua tanaman  itu 
dirusak Kalabuat dan Budug Basu tetapi kemudian Sanghiyang Maha  Wenang 
menciptakan Jaka Sadana (Sulanjana), Sri Sdana, dan Rambut  Sadana (juga
 disebut Talimenar dan Talimenir) yang juga lahir dari tetes air mata 
Sang Naga Anta tadi dan sejak itu Dewa Guru menitahkan tiga bersaudara 
itu memelihara segala tanaman  yang dibutuhkan manusia (di sini bekait 
langsung kepada masyarakat Sunda - pantun Sulanjana). Dewa Guru  juga 
menitahkan Batara Semar  dan membiakkan tanaman-tanaman tersebut khusus 
di wilayah Kerajaan Pajajaran (baca: TATAR SUNDA). Jelas 
Nay Pohaci merupakan  sumber hidup masyarakat Pajajaran, itu sebabnya 
masyarakat Tatar Sunda menghormati Nay Pohaci yang tiada lain adalah 
simbol DEWI BUMI -MOTHER GODDES- MOTHER EARTH khususnya bagi masyarakat 
yang memangku pokok kehidupan sebagai masyarakat AGRARIS. Bagi
 masyarakat di era modern sekarang mungkin  tidak terfikirkan bahwa 3 
butir telur adalah SIMBOL TRI TANGTU= tiga dunia = tiag pola tingkat 
kehidupan yang dialami manusia sejak LAHIR - HIDUP -MATI sebagai 
kesadaran yang memaknai realitas faktual ruang - waktu dan bentuk 
KEBUDAYAAN SUNDA. Konsep Pola  hubungan tiga juga 
tercermin dalam pengaturan tatanan hunian, tatanan umah dan interiornya,
 termasuk tatanan ekosistem dan ekologinya (leuweung- lembur -laut), 
pola  tenunnya (tri warna), pola peralatan sehari-hari dan masih banyak 
lagi tak terrhitung. Yang pada hakekatnya merupakan dasar kosmik 
holistik : langit (dunia atas), bumi  (dunia bawah) dan dunia manusia 
(dunia  tengah) membentuk  kesatuan tiga. Jikalau diterjemahkan ke dunia
 modern akan membentuk pola segitiga sama kaki: bagian puncak segitiga =
 dunia atas atau langit; dasar segitiga = dunia bawah (bumi) dan dunia 
tengah (manusia di  atas bumi). KANEKES lah yang nyatanya masih memegang pola 
tiga kosmik ini:-  Lembur Cikeusik adalah dunia atas (langit, di puncak segi 
tiga)-  Lembur Cikartawana (dunia tengah) dan


-  lembur Cibeo (dunia bawah) Demikian IMAH SUNDA BUHUN dibangun dengan 
landasan dasar pola ini:- Atap  (dunia atas, biasanya arah atap ke hulu dan 
hilir atau arah atas dan  arah bawah),- tempat tinggal keluarga (dunia tengah) 
dan


- kolong rumah  (dunia bawah). Maka
 MITOLOGI NAY POHACI bukan sekedar 'MITOS GOMBAL' melainkan interferensi
 internal LULUHUR yang direpresentasikan ke dalam pengalaman EMPIRIS 
yang benar2 'A POSTERIORI' guna menyikapi disertai RASA HORMAT yang 
SETINGI2NYA terhadap LINGKUNGAN KEHIDUPAN BUDAY diman MANUSIA TELAH 
DITAKDIRKAN berada di dalamnya di dalam PELUKAN NAY POHACI 'IBUNDA 
KANDUNG' URANG SUNDA! Bahwa Nay Pohaci yang semula 
menghuni DUNIA ATAS lalu TURUN KE DUNIA TENGAH setelah melalui DUNIA 
BAWAH - dahulu adalah daur KEHIDUPAN MANUSIA SE UTUHNYA juga pola TIGA 
yang SOLID senantiasa terjadi di dalam segala aspek kehidupan manusia. Nay
 Pohaci yang "lahir" dari  sebutir telur dengan dua butir telur lainnya 
(bersaudara) adalah implikasi dari DERITA SANG NAGA ANTA . Dari tiga  
telur akibat penderitaan Naga Anta itu (menangis) hanya satu telur yang 
 sampai di dunia atas (Dewa Guru) dan Nay Pohaci merupakan satu- satunya
 telur yang  menjadi "manusia" di dunia atas, sedang dua telur yang lain
 ada di dasar  segi tiga itu. Nay Pohaci yang dibesarkan 
di dunia atas ini dan meninggal juga di dunia  atas, kematiannya tiada 
sia2  melainkan karena dicintai "pembesar" atau "penguasa" dunia  atas, 
Dewa Guru, sehingga ia dikirim ke dunia tengah dan menganugrahkan kasih 
sayang melalui berbagai jenis tanaman yang berguna bagi manusia. Maka 
pula tanaman adalah wujud  emanasi mahkluk dunia atas, karenanya  
bersifat sakral. Oleh karena itu tidak hanya bagi MASYARAKAT TATAR SUNDA
 saja, tetapi pada ETNIS2 LAIN DI MUKA BUMI dalam KOMUNITAS ADAT ada 
himbauan untuk tidak memperlakukan segala tanaman dengan se-mena2 
melainkan disertai rasa  hormat sangat dalam dikala hendak menetik dan 
dimanfaatkan sebagai makanan. Bahwa Nay  Pohaci dimusuhi dua saudara kandungnya 
(Kalabuat dan budug Basu : Bandingkan ya dengan CARITA PARAHIYANGAN..)yang
 dimaksud adalah HAMA dan pada tataran sama sebenarnya merupakan 
pasangan  antagonis. Karena di dalam setiap aspek kehidupan selalu saja 
ada unsur-unsur antagonis yang berpasangan (LAKI-BINI; SUMAI ISTRI; 
HUJAN-KEMARAU; TERANG-GELAP.. dlll sebagainya ... tambahkan sendiri) 
demikian kiranya pasangan kehidupan dan kematian juga ada tanaman dan 
ada hama perusak. Unsur Antagonis yang senantiasa ada dalam kenyataan 
lingkaran kehidupan manusia secara berbalikan  dan berperan dialektis 
yang harus disadari dan diterima dalam kehidupan manusia. Layaknya 
beerkah dan malapetaka juga dari  sumber yang sama. Bagi 
URANG SUNDA ada keyakinan bahwa dikala saat demikian terjadi maka 
SANGHIYANG MAHA WENANG AKAN menganugrahi solusi alias  pemecahanNya, 
dengan mengirimkan tiga pasangan pemusnah  hama: masing-masing disebut 
Jaka Sadana, Sri Sadana dan Rambut Sadana, atau  Sulanjana, Talimenar 
dan Talimenir atau KALABUAT dan BUDUG BASU. Kiranya 
Mitologi SUNDA -  NAY POHACI SANGHIYANG RARANG mengisyaratkan ajaran 
bahwa semua tanaman yang memberi manfaat  hidup kepada manusia berasal 
dari dunia atas; ancaman hama dan  kerusakan dari dunia tengah; dan 
bahwa manusia tidaklah  sempurna meski telah dihadirkan "sempurna" dari 
dunia atas. Kesempurnaan atau kebaikan sebenarnya lebih 
bersifat  rohani-adikodrati. Pola tiga ini distruktur dengan jalan 
"harmoni"  Bawah-Atas terlebih dahulu. Nay Pohaci dari tetes air mata  
Naga Anta bermakna rohani- adikodrati dunia bawah- dari dunia bawah  
(bumi) dibawa ke dunia atas (langit), baru diturunkan ke dunia tengah  
manusia. Mengingatkan struktur hubungan bawah - atas - tengah dalam 
berbagai mitologi Sunda lainnya seperti Wawacan Guru Gantangan. Nay
 Pohaci adalah harmonisasi dunia bawah dan dunia atas yang lebih 
ditekankan kepada segi sakralitas, dalam artian kesempurnaan dan  
kebaikannya. Konsep pemikiran atas - bawah - tengah merupakan simbol 
bersatunya unsur bumi dan langit atau tanah dan air hujan khusus nya di 
dalam  kehidupan masyarakat peladang (paling signifikan adalah Sunda - 
KANEKES; juga DAYAK - Borneo) yang dapat menyumbuhkan dan menyuburkan 
segala jenis tanaman dibutuhkan masyarakat Sunda. Apa yang dapat 
dipahami adalah bahwa dunia tengah (manusia) berlaku  hukum kausalitas 
(segala tumbuhan subur jikalau air hujan  bertemu/menyirami tanah); 
rusaknya tanaman juga karena hukum  kausalitas (dihajar hama sampai 
hadas!... heuheuheu..). Namun agaknya peristiwa tiga butir
 telur dari bulir air mata di dunia bawah tidak berlaku hukum kausalitas
 melainkain hukum spontanitas! Hukum Spontanitas yang brlaku atas 
peristiwa bagaimana bulir air mata menjadi tiga butir telur; tiga butir 
telur 'UJUG2'  jadi tiga mahluk hidup (Kalabuat, Budugbasu, dan Nay   
Pohaci? ); juga  bagaimana hukum kausalitas dunia  manusia, jikalau 
tubuh Nay Pohaci melahirkan berbagai jenis tumbuhan? Semuanya atas dasar
 hukum spontanitas (jika SANGHIYANG MAHA WENANG MENGHENDAKINYA - maka 
semuanya TERJADI SEKETIKA)- beyond compare - beyond the world ! Suatu 
isyarat kepada manusia bahwa alam rohani bekerja bukan berdasarkan hukum
 sebab- akibat  manusia (Manusia lahir akibat hubungan seksual lelaki 
dan perempuan, tetapi  Nay Pohaci bukan hasil kerja seksual siapa pun. 
Nyi Pohaci itu  berasal dari setetes air mata Dewa Anta, jadi seksual 
atau nonseksual) tetapi dalam tataran SAKRAL atau KERAMAT  dan yang 
membawa BERKAH bagi manusia. Maka Mitos Nay Pohaci adalah 
hasil renungan pemikiran  manusia Sunda (KARUHUN) mengebai asal-usul 
kehidupan di bumi dengan berbagai aspeknya (adanya berbagai  jenis 
padi;  bambu dan jenis tanaman  merambat, juga Aren - kelapa dll. dsb) 
Semuanya  diperlukan manusia (khususnya lingkungan alam URANG SUNDA) 
setiap hari dalam memenuhi kepentingan kelangsungan hidupnya.- Padi untuk 
makanan pokok.- Tanaman  merambat untuk makanan tambahan.- Rumput untuk 
ternak.- Bambu untuk rumah.- Pohon Aren diperoleh ijuk untuk atap rumah juga 
peralatan mengolah sehari-hari (tuak untuk upacara religi) dll


 Mitoslah
 yang mengajarkan bahwa semua itu bukan ciptaan manusia  melainan hadir 
eksistensial berkat hukum spontanitas  dunia rohani tadi. Tentu saja 
pola pikir yang demikian itu bukan  monopoli manusia Sunda (semua 
mitologi manusia berpola sama - universal- bagaimana alam lingkungan 
yang tersedia bagi manusia Sunda  ditanggapi dengan realitas kesadaran 
budayanya). Sebagaimana URANG SUNDA menangggapi lingkungannya  melalui 
kehidupan  berladang (HUMA). HUMA inilah yang menjadi pilihan yang pada 
gilirannya dipahami hingga ke intinya yang terdalam. Bahwa PADI adalah 
makanan POKOK dan lingkungan TATAR SUNDA memicunya untuk ditanama di 
LADANG (HUMA). Lalu,  HUMA bergantung kepada hujan yang turun dari 
LANGIT, implikasinya adalah langit - dan bumi terjadi KAUSALITAS 
DIALEKTIS  dalam kehidupan manusia: HUMA (LADANG= TANAH/ BUMI ) = NAY 
POHACI --->>>> AZAS PEREMPUAN sebagai sumber KESUBURAN dan 
HUJAN (LANGIT= laki2) turut menyuburkannya! Itu sebabnya 
PEMBERI HIDUP MANUSIA adalah INDUNG (IBU) dan LAKI2 melengkapinya, maka 
KEHIDUPAN ini TUMBUH BERKEMBANG dalam relativitas alami.  
cag!http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/nay-pohaci-indung-kuring/445115714474






    
     



 








    
     

    
    






  










    
     



 








    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  










Kirim email ke