Sigana mah, Pohaci teh bagian ti nurul-fatimiyah (sumberna feminisme), pecahan 
langsung ti Nur Muhammad, bagaian tina asma Allah. Ngajalankeun fungsi 
Sunatullah. janten sumber kasuburan tanaman, pepelakan, binatang/sato. Raga na 
mah duka teuing aya atanapi teu aya... Minimal "aura"na sok aya di awewe anu 
nyaah ka tatangkalan jeung sato.  

--- Pada Sen, 18/10/10, Koko Budiman <[email protected]> menulis:

Dari: Koko Budiman <[email protected]>
Judul: Bls: [kisunda] Re: Budaya - Mitos Nay Pohaci?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 18 Oktober, 2010, 10:20 AM







 



  


    
      
      
      Jadi anak mana dari Dewa Anta yang dikawin oleh Bimasena ? hehehehehe

--- Pada Ming, 17/10/10, mh <[email protected]> menulis:

Dari: mh <[email protected]>
Judul: [kisunda] Re: Budaya - Mitos Nay Pohaci?
Kepada: "Ki Sunda" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 17 Oktober, 2010, 1:02 PM















 
 



    
      
      
      


Sabtu, 29 Mei 2010

Wawacan SULANJANA 


Di Suralaya para dewa bermusyawarah
untuk mendirikan bakal Pancawarna. Dewa Anta ditugasi membuat batu penyangga 
tiang.
Tetapi karena badannya berbentuk ular, dewa Anta tidak dapat melaksanakan
tugasnya. Dewa Anta menangis sedih sehingga meneteskan air mata tiga butir. Air
mata itu kemudian berubah menjadi tiga butir telur yang dibawanya dengan cara
digenggam oleh mulut.



Karena kesalahan seekor burung elang, telur itu jatuh dua butir yang kemudian
menetas menjadi Kalabuat dan Budug Asu. Sapi Gumarng raja segala binatang
jelmaan kecing idajil (setan), memelihara Kalabuat dan Budug Basu sebagai anak
angkat.



Atas perintah Batara Guru, telur yang tinggal sebutir itu dierami oleh Dewa
Anta. Telur menetas, lahirllah seorang putri yang cantik diberi nama Dewi
Pohaci Terus Dangdayang atau juga Dewi Aruman.



Batara Guru mencintai Dewi Pohaci dan berniat memperistri. Akan tetapi
keinginan Batara Guru itu ditentang oleh Batara Narada sebab hal itu akan
merusak citra Batara guru. Di samping itu, Batara Guru oleh Batara Narada
dianggap melanggar hukum dan merusak agama sebab Dewi Pohaci diasuh dan disusui
oleh Dewi Umah, istri Batara Guru. Jadi, Dewi Pohaci masih tergolong anak
Batara Guru, dengan demikian perkawinan Batara Guru dan Dewi Pohaci tidak boleh
terjadi.



Agar perkawinan tidak jadi, Batara Narada mencari akal. Diberinya Dewi Pohaci
buah kloldi sehingga berhenti menyusu. Tapi karena ketagihan dan buah koldi itu
tidak ada lagi, Dewi Pohaci jatuh sakit sehingga meninggal dunia. Mayat Dewi
Pohaci diurus oleh Bagawan Sang Sri dan kuburannya dijaga siang malam sambil
menyalakan dupa. Kemudian keluarlah dari dalam kuburan itu berjenis-jenis
tanaman. Dari kuburan bagian kepala keluar kelapa, dari telinga keluar
macam-macam padi ketan, dari tangan keluar enau, dari jari keluar macam-macam
pohon bambu, dari tali ari-ari keluar tumbuhan menjalar, dari payudara keluar
macam-macam buah-buahan, dan dari bagian tubuh yang berbulu macam-macam
rerumputan. Pendek kata semua jenis pepohonan berasal dari tubuh Dewi Pohaci.



Semar ditugasi oleh Batara Guru Untuk membawa bibit-bibit tanaman itu ke negeri
Pakuan yang dirajai Prabu Siliwangi. Istri Prabu Siliwangi bernama Dewi Nawang
Wulan adalah putra Batara Guru. Maka dengan adanya bibit tanaman itu, negeri
Pakuan menjadi subur makmur. Akan tetapi, Prabu Siliwangi dilarang mengetahui
bagaimana Dewi Nawang Wulan menanak nasi. Jika Sang Prabu melanggar larangan
akan jatuh talak kepada Nawang Wulan.



Tersebutlah Budug Asu yang diasuh Sapi Gumarang yang berada di Tegal Kapapan
mencari Dewi Pohaci. Tiba di kuburan Dewi Pohaci, Budug Asu mengelilingi
kuburan sebanyak tujuh kali. Setelah itu, Budug Basu meninggal dunia. Mayatnya
oleh Kalamullah dan Kalamuntir dibawa keliling dunia sebanyak tujuh kali.
Tetapi di tengah perjlanan mayat Budug Basu itu menjelma menjadi berjenis-jenis
binatang bahkan peti mayatnyapun menjelma menjadi seekor badak. Kalamullah dan
Kalamuntir, menjaga binatang-binatang itu menjadi sua bagian, yakni bagian
darat dan bagian laut.



Sulanjana putra laki-laki yang diasuh Dewi Pratiwi, dititipi negeri Suralaya
sebab Batara Guru dan Batara Narada akan turun ke bumi memeriksa negeri Pakuan,
kedua batara itu menjelma menjadi burung pipit.



Tersebutlah Demu Awang dari negeri seberang akan membeli padi dari pakuan,
karena padi-padi tersebut hanya titipan batara Guru, oleh putra Siliwangi
permohonan Dempu Awang itu ditolak. Karena Dempu awang sakit hati, dimintanya
bantuan Sapi Gumarang untuk merusak tanaman padi.



Sapi Gumarang dibantu oleh binatang-binatang jelmaan Budug Basu, merusak
tanaman padi, sedangkan Sulanjana dan kedua orang adik perempuannya yang
bernama Talimendang dan Talimenir, menjaga dan menyembuhkan padi atas perintah
Batara guru. Terjadilah peperangan antara penjaga dan perusak. Akan tetapi
aklhirnya Sapi Gumarang kalah dan berjanji akan mengabdi kepada Sulanjana asal
pada setiap mulai menanam padi “disambat” (dipanggil secara batin), serta
disediakan daun paku pada pupuhunan (tempat saji di ladang atau di sawah).



Prabu Siliwangi penasaran ingin melihat cara Nawang wulan menanak nasi.
Dibukanya pada yang sedang dimasak. Maka Dewi Nawang Wulan kembali ke
kahyangan. Namun sebelum pergi sempat berpesan terlebih dahulu agar membuat
lesung, dulang, kipas, bakul dan periuk untuk menanak nasi. Prabu Siliwangi
menyesal dan menghadap Batara guru minta pengampunan dan agar Dewi Nawang Wulan
kembali ke Pakuan. Permohonan Sang Prabu ditolak, kemudian pulang ke Pakuan
setelah menerima pelajaran bagaimana menanak nasi dan bercocok tanam yang baik.
Dewa Anta oleh Batara Guru diturunkan ke bumi untuk menjaga padi.

 

http://kandaga-wawacan.blogspot.com/2010/05/wawacan-sulanjana.html



    
     



 








    
     

    
    


 



  





Kirim email ke