Nasib Angklung Indonesia Akan Ditentukan Bulan November 2010 Selasa, 19/10/2010 - 12:36
PARIS, (PRLM),-Angklung Indonesia sudah diajukan ke UNESCO untuk dinominasikan sebagai salah satu warisan budaya takbenda (Intangible cultural heritage/ ICH) Indonesia. Pendaftaran dilakukan pada Agustus 2009 oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta KBRI Paris. Deputi Wakil RI untuk UNESCO Patrick Hasjim menyampaikan hal itu di tengah-tengah pergelaran keliling Tim Kesenian ke Eropa, Selasa (19/9). Pada kesempatan itu, Tim Kesenian Unpad sudah mulai pentas di Conservatoire Arthur Henegger, Le Lavre, kota yang berada sekitar 200 Km dari Paris. Patrick mengatakan, pada tahap ini Indonesia menunggu hasil proses verifikasi yang dilakukan oleh UNESCO melalui subsidiary body-nya. Verifikasi ini diperlukan untuk membuktikan apakah Angklung dan musiknya benar-benar memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia pada umumnya dan di Banten serta Jawa Barat secara khusus. Selain itu, harus dibuktikan bahwa masuknya angklung menjadi ICH dapat meningkatkan kepedulian masyarakat akan budaya takbenda. Namun yang terpenting dari semua itu kata Patrick, berbagai upaya penjagaan dan pelestarian budaya angklung dapat terus dilakukan oleh selain para pengguna angklung tetapi juga masyarakat serta Pemerintah Indonesia. Menurut rencana, hasil keputusan UNESCO akan diumumkan di Nairobi, Kenya pada saat berlangsungnya 6th Inter-Governmental Committee (IGC) meeting on Intangible Cultural Heritage tanggal 15-19 Nopember 2010. Jika nominasi Angklung Indonesia diterima, maka warisan budaya takbenda Indonesia akan bertambah banyak, mengikuti wayang golek, keris, dan batik. "Jadi mari kita tunggu saja, semoga upaya yang sudah kita lakukan untuk angklung bisa mendapat pengakuan dari UNESCO," ujarnya. Sementara itu, dari panggung pertunjukan Tim Kesenian Unpad di Gedung Conservatoire Arthur Henegger membuktikan untuk kesekian kalinya, masyarakat dunia khususnya Perancis sangat terpikat dengan angklung Indonesia. Pada pementasan yang dimulai pukul 19.00 waktu setempat, hampir semua tempat duduk yang tersedia terisi penuh. Pada pergelaran pertama, panggung dibuka dengan persembahan tari "Ponggawa" yang dibawakan dengan gagah oleh lima penari. Pentas berlanjut dengan suguhan tari "Blantek" dan pertunjukan wayang golek yang mengusung tema tentang lingkungan hidup. Perhatian penonton semakin tersedot manakala Tim Kesenian Unpad menyuguhkan arumba dan rampak kendang. Pada saat persembahan arumba itulah, semua penonton terlibat langsung memainkan angklung dengan dipandu oleh Nadya. Sama halnya di Consevatoire De Anthony di Paris, dua sessi ini memang selalu memikat pengunjung. Selain mereka bangga bisa menikmati lagu-lagu populer seperti "You Rise me Up", "La Rose", dan "My Way", penonton juga diajak untuk bermain angklung bersama. Tak ayal, suasana gedung pun menjadi meriah. "Ini sangat menakjubkan! Bamboo can make a beautiful music," ujar Pamella, warga Le Harve yang hadir malam itu. Tidak cuma itu, banyak juga penonton yang ingin mengetahui Indonesia lebih jauh. "I'll get to Indonesie, I want to know how to make angklung and everything about tradisional music from Sunda," ujar Michaell yang mengaku sebagai mahasiswa jurusan seni musik di conservatoire tersebut. Kuasa Usaha RI untuk Paris Maruli Tua Sagala mengatakan, tujuan pementasan hanya menyuguhkan kesenian berasal dari Jawa Barat (Sunda), memang untuk mengajak penonton fokus pada seni yang disuguhkan. Hal itu tiada lain, agar membuka peluang hubungan lebih dekat antara masyarakat Paris dengan Jawa Barat. Baik hubungan seni, budaya, pendidikan, maupun ekonomi. Maruli mengatakan, Indonesia bukan negara Islam, tetapi masyarakatnya sebagain besar beragama Islam. Kendati begitu, Indonesia juga negara yang mengusung nilai-nilai demokrasi. "Adanya berbagai kesenian yang tumbuh dan berkembang di Indonesia seperti yang dipertunjukan secara keliling saat ini, merupakan satu di antara banyak ekspresi berdemokrasi di Indonesia," ujarnya. (A-148/kur)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/124991
