Paingaaaan biasana dina toples 150 ml arabica hargana 95 rebu jadi 140 rebu. 
Perkara careuh paraeh tresss lah pastina oge, nu biasa merdeka ujug2 
dikandangan 
sina murak kopi tuluy2an..... Asana mah careuh lain kopi kadaharan utamana. 
Tantangan ka koperasi nyiar elmu pangabetah careuh..... Balapan yeuh sabab 
ayeuna ampir di tiap daerah gencar produksi kopi podol careuh.

 
Makarya Mawa Raharja




________________________________
Dari: mh <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>; Baraya Sunda 
<[email protected]>; Urang Sunda <[email protected]>
Terkirim: Rab, 3 November, 2010 04:56:50
Judul: [kisunda] Re: KOPI "podol" Careuh?

  
Hewan Careuh Banyak yang Mati, Produksi Kopi Luwak Tersendat
Selasa, 02/11/2010 - 15:01 
KODAR/"PRLM"
POPULASI  hewan careuh yang dikandangkan masih sulit didongkrak, umumnya tak  
bertahan lama karena mati. Ini membuat produksi kopi luwak tersendat.*
SOREANG, (PRLM).-Sejumlah petani kopi Kawasan Bandung Selatan  mengalami 
kesulitan mendongkrak produksi kopi luwak, karena secara umum  masih kesulitan 
melakukan domestikasi (penjinakan) hewan careuh  (musang). Karena kondisi 
tersebut, sangat banyak hewan careuh yang  dipelihara oleh petani kopi di 
Bandung Selatan mati di kandang.
Ketua Koperasi Petani Kopi "Tani Mandiri", Desa Cibodas, Kec.  Pasirjambu, 
Kabupaten Bandung, Ayi Rohmat, di Kec. Pasirjambu, Selasa  (2/11), di kelompok 
usaha tani desanya saja, sejak dua bulan terakhir  dari sebelas ekor populasi 
hewan careuh yang ada di kandang yang mati  sudah mencapai delapan ekor, 
sehingga yang hidup tinggal bersisa tiga  ekor. Padahal, untuk memperoleh 
careuh 
bulan, para petani anggota cukup  susah payah bahkan sebagian harus dibeli dari 
Kabupaten Cianjur.
Kondisi serupa juga terjadi pada beberapa kelompok tani kopi pada  desa dan 
kecamatan di sekitarnya, juga penyebabnya sama, karena para  petani kopi belum 
memiliki keterampilan yang memadai dalam domestikasi  hewan careuh. Sebagai 
solusi, hewan careuh sedang dicoba untuk  diternakan, sehingga anak-anak hewan 
itu secara
otomatis menjadi jinak dan terbiasa hidup di kandang.
Kondisi serupa juga dialami di Kec. Pangalengan, menurut tokoh petani  kopi 
setempat yang juga pengurus Koperasi Warga Masyarakat Desa Hutan  (Kowamah), 
Endjang Suwirya, di mana populasi hewan careuh yang  dikandangkan masih sulit 
didongkrak, karena umumnya tak bertahan lama  karena mati. Ini membuat produksi 
kopi luwak asal Kec. Pangalengan masih  belum dapat didongkrak, walau pasaran 
sudah banyak memesan dalam jumlah  cukup banyak.
"Banyak harapan kami, agar dinas/instansi terkait, baik dari  kabupaten maupu 
provinsi, agar dapat memberikan bimbingan teknis kepada  para petani kopi dalam 
beternak hewan careuh. Sayang sekali, potensi  bisnis kopi luwak yang 
seharusnya 
dapat termanfaatkan oleh masyarakat  desa hutan di Bandung Selatan,
belum dapat termanfaatkan optimal karena masih minimnya keterampilan  
memelihara 
hewan careuh," kata Enjang, senada Ketua Kowamah, H  Rusnandar, serta Ayi 
Rohmat. (A-81/kur) ***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/126140

 

Kirim email ke