Wiranatakusumah, Degung, dan Cianjuran
Seperti biasa, jika sang Dalem Bandung terlelah selepas kerja, beliau kerap
memanggil seorang penembang terkemuka saat itu, Nyi Mas Saodah. Kebetulan,
suaminya, R. Emung Purawinata, merupakan pejabat di kadaleman Bandung.

Nyi Mas Saodah telah duduk bersimpuh di hadapan sang dalem. Lengkap dengan
para pamirig. Di situ turut pula hadir beberapa petinggi kadaleman, termasuk
R. Emung Purawinata, suami Nyi Mas Saodah. Sementara sang dalem duduk
tersandar pada sebuah sofa.

Mengalunlah lagu cianjuran yang dilantunkan Nyi Mas Saodah. Suaranya merdu
dan teramat syahdu. Maklum, Nyi Mas Saodah pada tahun ’30-’50-an merupakan
juru mamaos cianjuran terkemuka, di samping para seniornya dari Cianjur
seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu O`oh, serta Ibu
Resna.

Mendengar kesyahduan suara cianjuran dari Nyi Mas Saodah, maka dalem pun
terlena dengan mata terpejam di atas sofa. Nyi Mas Saodah boleh jadi
menduga-duga, apakah sang dalem memang pulas tertidur ataukah karena tengah
menyimak lagu yang dilantunkannya. Maka begitu setiap lagu cianjuran itu
selesai dilantunkan, Nyi Mas Saodah pun kerap memberi isyarat, apakah
melantunkan cianjurannya perlu diteruskan atau tidak. Lalu, setiap Nyi Mas
Saodah melemparkan isyarat itu, setiap kali itu pula Emung memberikan
isyarat agar Nyi Mas Saodah tetap melantunkan lagu cianjuran. Ketika suara
Nyi Mas Saodah terhenti di antara lantunan lagu yang satu ke lagu yang lain
itulah sang dalem akan serta merta berkata, ”Ayo teruskanlah Nyi Mas, jangan
berhenti.” Maka Nyi Mas Saodah pun kembali melantunkan lagu cianjurannya.

Demikianlah Sang Dalem Wiranatakusumah V. Tak perlu diragukan lagi bagaimana
kecintaannya terhadap seni Sunda, terutama seni mamaos cianjuran. Ketika
menjadi Bupati Cianjur (1912-1920) Wiranakusumah V merupakan bupati yang
memiliki tingkat apresiasi tinggi terhadap seni. Di pendopo Cianjur, beliau
senantiasa menggelar pertunjukan seni degung (instrumentalia). Pada masa
pemerintahannya, di Cianjur sudah terdapat perangkat degung yang diberi nama
Pamagersari. Senimannya yang terkenal saat itu adalah Bapak Idi.

Dalam seni mamaos, beliau pulalah yang mulai menyebarluaskan ke luar
padaleman. Padahal sebelumnya, seni mamaos hanya berkembang di lingkungan
padaleman saja. Maka dengan menyebarnya seni mamaos ke masyarakat luas,
masyarakat di luar padaleman menyambutnya dengan sukacita. Adapun yang kerap
ditugasi menyebarkan seni mamaos tersebut adalah R. Ece Majid, seniman
kebanggaan Kabupaten Cianjur.

Benar, bahwa R.A.A. Wiranatakusumah V merupakan menantu dari bupati Cianjur
R.A.A. Prawiradiredja II (1864-1910). Dan kita tahu bahwa R.A.A.
Prawiradiredja II adalah bupati yang sangat berjasa dalam mengembangkan seni
mamaos yang diwariskan ayahnya, R.A.A. Kusumahningrat atau yang lebih
dikenal sebagai Dalem Pancaniti. Namun upaya pengembangan seni mamaos
cianjuran yang meluas hingga ke daerah Bandung dan Priangan, sejatinya
adalah motivasi yang muncul dari diri pribadi Wiranatakusumah, mengingat
seni mamaos ini perlu lestari dan mengakar di masyarakat.

Sebagai bupati, di masa pemerintahannya, pembangunan  Cianjur -terutama pada
sektor pertanian, berkembang cukup pesat. Kehidupan para petani menjadi
makmur dan sejahtera. Keberhasilan dalam ngaheuyeuk wilayahnya menjadi
kabupaten yang menonjol, berimbas pula pada keleluasaannya dalam
mengembangkan seni. Maka tidak heran, sebagai wujud keberhasilan
pemerintahannya, di pendopo kerap mengalun insrtumentalia seni degung dari
gamelan Pamagersari. Pengelolaan dan pemuliaan terhadap seni terbilang
berhasil dengan bagus. Bahkan hingga akhirnya beliau dijadikan Bupati
Bandung di tahun 1920.

Ada dua peristiwa yang mengindikasikan bahwa beliau adalah bupati dengan
tingkat apresiasi seni yang sangat tinggi. Pertama, peristiwa ketika beliau
dijadikan bupati Bandung menggantikan  Martanegara tahun 1920. Kedua, kiprah
beliau setelah menjabat sebagai bupati Bandung.

Pada saat dialihkan dari Cianjur ke Bandung tahun 1920, beliau sengaja
membawa serta perangkat degung Pamagersari beserta para nayaganya. Sejak
saat itu, gamelan degung Pamegersari yang pemainnya dipimpin oleh Bapak Idi
kerap menghiasi pertunjukan seni di Pendopo Kabupaten Bandung. Para pejabat
dan masyarakat di lingkungan pendopo banyak tertarik untuk menabuh dan bisa
memainkan seni degung. Karena banyak yang ingin bermain degung sedangkan
degungnya hanya satu, Dalem Wiranatakusumah V memerintahkan membuat
perangkat degung baru. Setelah terwujud, perangkat degung yang baru tersebut
dinamai Purbasasaka, para nayaganya dipimpin oleh seniman Oyo. Pada 1926,
degung Purbasasaka itulah yang digunakan sebagai musik pengiring film
”Loetoeng Kasaroeng” yang menjadi film pertama di Indonesia.

Selain membawa perangkat gamelan degung, R.A.A. Wiranatakusmah pun membawa
serta seorang sastrawan, seniman mamaos ternama, R. Ece Majid ke Bandung.
Ini adalah strategi beliau dalam mengembangkan seni mamaos di wilayah
Bandung serta daerah Priangan.

Bersama Ece Madjid, Wiranatakusumah terus mengembangkan seni mamaos
cianjuran hingga ke seluruh pelosok tatar Priangan. Mengajari siapapun yang
berhasrat mempelajari seni mamaos. Adapun yang pertama-tama diajari adalah
masyarakat di sekitar padaleman. Terutama para pejabat padaleman. Maka, jika
di pendopo kedatangan tamu agung, seni mamaos cianjuranlah yang
disuguhkannya sebagai pertunjukan seni penghormatan.

Pada dekade 20-an, di Bandung kerap diselenggarakan kongkur mamaos. Itu tak
ubahnya festival atau pasanggiri yang kerap kita temui di masa sekarang.
Melalui kegiatan kongkur tersebut, sesungguhnya bisa terukur sejauh mana
animo masyarakat terhadap seni mamaos. Hasil dari kongkur tersebut, bisa
disimpulkan bahwa seni mamaos hingga dekade 20-an, cukup menggembirakan.
Seni mamaos saat itu sudah tidak lagi milik masyarakat Cianjur, namun telah
menjadi milik masyarakat luar Cianjur, terutama Bandung.

Sebagai seorang yang pernah menjabat bupati Cianjur dalam waktu yang cukup
lama, serta juga menjadi menantu dari R.A.A. Prawiradiredja II, sudah barang
tentu R.A.A. Wiranatakusumah menghidupkan kesenian cianjuran yang
disenanginya. Hal itu terbukti dengan mempopulerkan kembali seni degung dan
mamaos di Kabupaten Bandung dan mensponsori penampilan seni mamaos kepada
para bupati lainnya di Indonesia seperti pada waktu Regenten Konperentie
pada tahun 1930 di Jakarta. Di samping itu dia, mensponsori perekaman seni
mamaos, seni degung, seni wayang golek, dan orkes degung pada piringan hitam
Odeon tahun ’20-an.

Hingga saat ini, seni degung dan cianjuran telah sedemikian berkembang.
(Dian Hendrayana, sastrawan, tinggal di Bandung).***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=130076

Kirim email ke