R. Otong T. Wiranatakusumah, "Ayah Kami Sosok yang Moderat” Kekaguman kepada sosok Wiranatakusumah tentu saja paling dirasakan oleh keluarga besarnya. Klan "Wirkus" ini cukup dikenal di tengah masyarakat Bandung. Bagaimana keluarga melihat sosok Bupati Bandung tersebut? Berikut wawancara dengan R. Otong Toyibin Wiranatakusumah, salah seorang putra Dalem Haji.
Apa yang Anda ingat tentang ayahanda? Sewaktu kecil, saya selalu menemani beliau tidur. Sebelum tidur, saya selalu dituntun untuk membaca surat Al-Insyirah. Selebihnya beliau lebih banyak diam, hanya bicara seperlunya. Apalagi, dua tahun menjelang wafatnya, beliau sudah tidak pergi ke mana-mana. Kapan beliau mulai sakit? Sejak saya kecil ayah sudah sakit. Saya lahir tahun 1947. Menurut ibu, ayah mulai merasakan sakit sejak berkeliling ke seluruh Jawa untuk menerima tanda tangan penyerahan kekuasaan dari panglima-panglima tentara Jepang. Itu dilakukan berbulan-bulan dan hanya didampingi pengawal pribadinya. Akibat perjalanan panjang itu beliau kelelahan dan sakit. Apakah ada arahan tertentu buat anak-anak? Beliau sosok yang moderat. Tidak suka memaksakan sesuatu atau mendoktrin. Misalnya di rumah, kami diperkenalkan dengan budaya Sinterklas. Kami boleh meminta apa saja dan besoknya semua permohonan kami tersedia. Apakah ada peristiwa penting sewaktu beliau ikut hijrah ke Yogyakarta? Menurut ibu, bersamaan pada hari Oto Iskandar di Nata diculik, rumah ayah di Yogyakarta juga didatangi sejumlah orang berbaju hitam. Mereka datang berkali-kali, menanyakan ayah dan menyatakan ingin bertemu. Untungnya saat itu ayah sedang rapat bersama presiden dan baru pulang menjelang subuh. Ibu merasa ayah akan diculik. Apa aktivitas ayahanda setelah tidak menjabat apa-apa? Beliau pernah menjadi dosen di Universitas Merdeka. Sebelumnya aktif pula di politik melalui PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) dan pernah terpilih menjadi anggota Konstituante. Bagaimana upaya keluarga menyelamatkan "warisan" Kangjeng Haji? Upaya untuk menyelamatkan warisan beliau, apakah itu aset berupa tanah dan terutama pemikiran dan karya-karyanya, memang masih kurang. Sekarang sudah ada Yayasan Wiranatakusumah, mudah-mudahan dapat berbuat banyak untuk upaya tersebut. Secara pribadi, apa yang Anda pelajari dari ayahanda? Dalam menjelaskan sesuatu, ayah sering mencontohkan dengan apa yang ada di alam. Mengajarkan kami agar menyayangi alam. Lalu dalam kepemimpinan Sunda, dikenal konsep rama-resi-ratu. Dalam nama gelar ayah, wira-nata-kusumah, tercakup ketiga kemampuan itu. Beliau seorang budayawan yang mengayomi dan dituakan, cendekiawan yang produktif, dan pemimpin yang dicintai rakyatnya. Kami akui, dari keturunan beliau belum ada yang bisa mewarisi kemampuan itu secara utuh, mungkin hanya sebagian-sebagiannya. Ada informasi soal Blambangan Fonds, apa yang Anda tahu soal itu? Blambangan Fonds itu hibah dari keluarga Belanda yang kaya raya tetapi tidak punya keturunan. Dalam akadnya dana itu harus dipakai sebagai dana abdi untuk membantu pendidikan, mendukung kemerdekaan Indonesia dan kemajuan syiar Islam, serta tidak boleh diserahkan kepada pihak Belanda. Pengelolaan dana itu secara berkala dipimpin oleh tokoh-tokoh Sunda, termasuk ayah. Sewaktu ayah memimpin yayasan ini, antara lain dipakai untuk membangun Unpad. Terakhir yang saya tahu, waktu saya kuliah, Blambangan Fonds dipimpin oleh Mr. Zaenal Kusuma Atmadja. Menurut Mr. Zaenal, fonds tersebut dipakai untuk beasiswa mahasiswa yang menyelesaikan skripsi. Sekarang informasi tentang fonds ini tidak jelas. Kalau merujuk amanat pemberi dana, seharusnya dana ini tetap dipakai untuk kepentingan pendidikan dan penggunaannya bisa diketahui masyarakat luas. (Iip)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=130075
