Ali Sadikin Pahlawan Demokrasi

Kementerian Sosial mengusulkan sepuluh calon penerima gelar Pahlawan
Nasional tahun 2010. Di antara kesepuluh orang itu, dua nama di antaranya
diusulkan oleh Provinsi Jawa Barat. Keduanya adalah mantan Gubernur Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta Ali Sadikin dan K.H. Ahmad Sanusi.

Sejarawan Prof. Dr. Dadan Wildan mengatakan, usulan Ali Sadikin menjadi
Pahlawan Nasional cukup positif karena dia memang telah berjuang untuk
bangsa ini. "Baik ketika aktif sebagai militer maupun sewaktu menjadi
Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta," katanya.

Persoalan usulan disampaikan dari Jawa Barat, kata Dadan yang juga Staf Ahli
Menteri Sekretaris Negara, tidak menjadi masalah karena secara emosional,
Ali Sadikin adalah pituin orang Sunda. "Almarhum memang orang Sumedang asli
sehingga secara emosional, wajar kalau Jawa Barat mengusulkannya sebagai
pahlawan," katanya.

Selain itu, Ali Sadikin juga berperan besar dalam membangun demokratisasi di
Indonesia. Peran itu lewat pemikiran dan lainnya. "Sekarang usulannya sedang
dibahas di Sekretariat Militer," katanya.

Hal serupa dibenarkan oleh sejarawan Prof. Dr. Nina Hilman Lubis. Menurut
Nina Hilman, Jawa Barat mengusulkan Ali Sadikin karena yang bersangkutan
adalah pituin Sunda. Ali Sadikin dilahirkan di Sumedang, 7 Juli 1926. Ali
Sadikin lahir dari pasangan Sadikin, Kepala Dinas Pertanian (Landbouw
Consulent) di Kabupaten Sumedang dengan Itjih Karnasih.

Pertimbangan lain, sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad
Heryawan bahwa Ali Sadikin memiliki integritas moral dan keteladanan.
Sebagai bukti, Ali Sadikin dianugerahi tidak kurang dari delapan belas tanda
kehormatan dari pemerintah, berupa satya lencana dan bintang, mulai dari
Bintang Sewindu APRI hingga Bintang Mahaputra Utama dan Bintang Mahaputra
Adipradana (2004). Ditambah sejumlah tanda kehormatan dari negara asing
seperti Bintang Kerajaan Etiopia, Belanda, Ramon Magsaysay Award, dan Agha
Khan Award.

Almarhum juga pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut
(1959-1963), Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet
Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut
Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan di bawah pimpinan
Presiden Soekarno. "Jadi, jelas, Ali Sadikin berjasa terhadap bangsa dan
negara," kata Heryawan.

Pertimbangan lain, sosoknya juga berkelakuan baik. Kendati pernah dicekal,
sebenarnya ia tidak pernah disebutkan mendapat sanksi atau hukuman. Malah,
dia aktif menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk pembangunan di Indonesia.

"Sikap kritisnya itu bukanlah berarti Ali Sadikin tidak setia kepada negara
atau berkhianat kepada bangsa dan negara. Justru sikap kritisnya ini
menunjukkan bahwa Ali Sadikin tidak bisa membiarkan negeri ini dibelokkan
dari cita-cita pendiriannya," katanya.

Catatan lain, Ali Sadikin pernah melakukan perjuangan bersenjata semasa
perang kemerdekaan. Waktu itu, Ali Sadikin ikut mendirikan Korps Marinir.
Pada masa Agresi Militer I, 21 Juli 1947, Ali Sadikin ikut berjuang di
Pangkalan IV yang berkedudukan di Tegal dengan pangkat letnan. Waktu itu
Pangkalan IV berhasil menahan Belanda yang menyerang Semarang untuk merebut
Yogyakarta.

Pada masa Agresi Militer II, 19 Desember 1948, Korps Marinir diminta
menjalankan tugas di Pangkalan IV di Pekalongan. Ketika bertugas di sana Ali
Sadikin diminta menjadi Komandan Kodim Kabupaten Pemalang (Jawa Tengah)
hingga 1950.

Kemudian ia ditempatkan di Surabaya. Ali Sadikin juga berperan dalam
penumpasan Permesta. Dia juga berperan pula dalam operasi Pembebasan Irian
Barat.

Gubernur Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, hal itu menunjukkan Ali Sadikin
telah berjuang dengan senjata untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan
serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Ali Sadikin selama dalam perjuangannya tidak ada sedikit pun kata-kata atau
pernyataan yang menunjukkan dia pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan.


Ali Sadikin melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir
sepanjang hidupnya. Sejak awal perang kemerdekaan, ia berjuang melalui Korps
Marinir, terus berlanjut hingga menjabat Deputi Kepala Staf Angkatan Laut,
Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen
Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang
disempurnakan, hingga akhirnya menjadi Gubernur Jakarta Raya (1966-1977).
Setelah berhenti menjadi gubernur, yang bersangkutan tetap peduli dengan
jalannya negeri ini, hingga akhirnya harus membuat Petisi 50. Semua yang
dikerjakannya melebihi tugas yang diembannya.

Dia bukan saja melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang
pembangunan bangsa dan negara. Namun, juga mewujudkan gagasannya itu
sehingga merupakan sebuah karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan
masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

"Sebagai Gubernur Jakarta Raya, Ali Sadikin telah berhasil membangun Jakarta
sebagai ibu kota negara RI yang layak, dari sebuah kampung besar menjadi
sebuah kota metropolitan yang modern. Berbagai projek buah pikirannya
diwujudkan selama kurun waktu 1966-1977, seperti memperbaiki jalan-jalan
raya di Jakarta, mendatangkan bus-bus kota serta kelengkapannya, menata
trayeknya, serta membangun halte bus," kata Nina Lubis.

Ia juga membangun Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, projek
Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, dan kota
satelit Pluit di Jakarta Utara. Ia juga sempat memberikan perhatian kepada
kehidupan para artis lanjut usia di Kota Jakarta yang saat itu banyak
bermukim di daerah Tangki sehingga daerah tersebut dinamai Tangkiwood.

Jangan lupa pula, gagasan Ali Sadikin untuk mempraktikkan Keluarga Berencana
di daerah Jakarta Utara dan berhasil. Pada akhirnya program itu menjadi
program nasional. Pembangunan yang dilakukannya bukan hanya dirasakan oleh
warga Jakarta sebagai penduduk sebuah kota besar, tetapi mempunyai jangkauan
luas dan berdampak nasional karena Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia.

Ali Sadikin memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi.
Hal ini bisa dilihat dari riwayat hidupnya, yang tidak pernah memikirkan
dirinya, bahkan keluarganya. Pada masa perang kemerdekaan, Ali Sadikin
terlibat dalam berbagai pertempuran, tetapi ia juga mau belajar manajemen
manakala korpsnya membutuhkan keahlian tersebut (misalnya ketika menjadi
Deputi Angkatan Laut). Ketika menjadi gubernur, Ali Sadikin tidak pernah
memikirkan dirinya, keluarganya pun tak pernah mengganggu dirinya di kantor.
Ali Sadikin bahkan bisa disebut sebagai orang gila kerja. Ketika ia
dipinggirkan karena sikap kritisnya, Ali Sadikin tak pernah berhenti
memikirkan negaranya hingga ia dimatikan secara perdata sekalipun. (Undang
Sudrajat/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163482

Kirim email ke