Leimena dan Abraham Ditetapkan
Ali Sadikin dan Sanusi Tertunda Jadi Pahlawan

BANDUNG, (PR).-
Dua kandidat yang diajukan Tim Pengkaji dan Penilai Gelar Daerah (TP2GD)
Provinsi Jawa Barat, Ali Sadikin (alm.) dan K.H. Ahmad Sanusi (alm.), gagal
mendapat gelar Pahlawan Nasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Dr. Johannes Leimena (alm.)
dan Johanes Abraham Dimara (alm.) yang diterima para ahli warisnya di Istana
Negara, Jakarta, Kamis (11/11).

Keputusan tersebut berdasarkan masukan Dewan Gelar yang pada umumnya
beranggotakan sejarawan. "Maka dari itu, calon yang terpilih pasti sudah
memenuhi kriteria jasa yang disyaratkan. Adapun kandidat yang gagal, bukan
berarti kalah, karena masih dapat diusulkan kembali tahun depan," ujar Ketua
TP2GD Provinsi Jawa Barat, Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., ketika
dihubungi Kamis (11/11) malam.

Langkah itu pula yang akan dilakukan TP2GD. Ali Sadikin akan diusulkan
kembali sebagai pahlawan nasional, sedangkan terhadap K.H. Ahmad Sanusi,
masih akan melihat rekomendasi dari Dewan Gelar. Alasannya, menurut aturan
yang berlaku saat ini, pengusulan seseorang menjadi Pahlawan Nasional hanya
dapat dilakukan maksimal dua kali.

"Dukungan penuh yang diberikan TP2GD kepada Ali Sadikin membuat kami yakin
untuk mengusulkan beliau kembali. Jika dibutuhkan data tambahan untuk
memperkuat usulan tersebut, akan kami siapkan," ucapnya.

Disinggung mengenai pilihan Yudhoyono yang menganugerahkan gelar pahlawan
kepada dua putra bangsa asal Indonesia Timur, Nina kembali menegaskan bahwa
keputusan tersebut murni hak prerogatif presiden. "Kalau muncul kesan ada
pembagian giliran, mungkin saja, karena hingga saat ini memang masih sedikit
Pahlawan Nasional asal Indonesia Timur. Akan tetapi, tetap saja mereka juga
telah berjasa bagi bangsa ini," katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pihaknya akan
terus mengajukan nama Ali Sadikin dan K.H. Ahmad Sanusi pada tahun
berikutnya. "Keputusan untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional itu
murni dari pemerintah pusat. Kalau tahun sekarang gagal, kami akan coba
terus rekomendasikan pada tahun berikutnya. Sebab, usulan kami bukan ditolak
tapi tidak terpilih saja," kata Heryawan saat ditemui wartawan seusai acara
Seminar Nasional Produk Perencanaan Kementerian Bappenas, di Hotel Grand
Aquila, Kota Bandung, Kamis (11/11).

Ketika ditanya mengenai maestro tari topeng Mimi Rasinah (alm.) dan maestro
angklung Udjo Ngalagena (alm.) yang mendapatkan tanda kehormatan Bintang
Budaya Parama Dharma, Gubernur menyatakan, pihaknya merasa bangga.
"Alhamdulillah, maestro berasal dari Jawa Barat mendapatkan penghargaan dari
Presiden," katanya.

Soeharto-Gus Dur

Menyoal gagalnya mantan Presiden Soeharto (alm.) dan Abdurrahman Wahid
(alm.) sebagai Pahlawan Nasional, Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso
menegaskan, pihaknya dapat mengerti dan menghargai semua keputusan yang
dikeluarkan pemerintah. Priyo mengatakan, sebenarnya Soeharto dan Gus Dur
sangat layak untuk mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional karena mereka
adalah putra-putra terbaik yang telah dilahirkan oleh Bangsa Indonesia.

"Ini bukan karena pemerintah menolak Pak Harto ataupun Gus Dur mendapatkan
gelar Pahlawan Nasional. Saya tadi nyaman atas penjelasan informal yang
diberikan oleh Menko Polhukam Pak Djoko (Suyanto), ini hanya faktor waktu.
Kalau itu soalnya, saya bisa mengerti," kata Priyo.

Pernyataan Priyo tersebut berbeda dengan pengakuan Wakil Ketua Komisi VIII
DPR RI Chairun Nisa yang terkejut dengan hasil keputusan itu. "Saya kaget
juga kok Pak Harto dan Gus Dur enggak masuk. Padahal sudah banyak daerah
yang mengusulkan ke Kemensos. Bahkan, sempat diolah tim pemerintah tapi
ternyata keduanya enggak jadi," ujarnya.

Politisi Partai Golkar ini beranggapan, sebenarnya Soeharto dan Gus Dur
layak untuk mendapatkan gelar tersebut. Oleh karena itu, menurut Nisa,
Komisi VIII akan mempertanyakan alasan tidak masuknya nama-nama yang pernah
diajukan sebagai Pahlawan Nasional ini kepada Kemensos.

Sementara itu, Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar menyatakan, meskipun almarhum
Gus Dur tidak mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional, di mata dunia Gus
Dur telah dipandang sebagai pahlawan. "Gus Dur telah menjadi pahlawan di
mata rakyat dan Bangsa Indonesia. Bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga
di dunia internasional," ucapnya.

Menurut Marwan, pemberian gelar Pahlawan Nasional dari negara hanyalah
formalitas. "Sejatinya beliau sudah menjadi pahlawan bagi bangsa ini," kata
Marwan.

Selain pemberian gelar pahlawan, pemerintah pun memberikan Bintang
Mahaputera Adipradana yang diberikan kepada lima tokoh besar, yaitu pujangga
Ronggowarsito (alm.), Kanjeng Gusti Pangeran AA Mangkoenagoro IV (alm.),
pejuang dari Sulawesi Tengah Sayyid Idrus bin Salim Al Jufrie (alm.),
budayawan Prof. Sutan Takdir Alisjahbana (alm.), dan pelukis Raden Saleh
Syarif Bustaman (alm.). Pemerintah juga menganugerahkan Bintang Mahaputera
Utama kepada tokoh pejuang dari Sulawesi Tengah, Andi Makkasau Parenrengi
Lawawo (alm.) dan tokoh pejuang dari Sulawesi Selatan, Andi Depu (alm).

Presiden Yudhoyono pun memberikan tanda kehormatan Bintang Budaya Parama
Dharma kepada pelukis Prof. Sjafei Soemardja (alm.), dalang Ki Nartosabdo
(alm.), pelukis Dr. (HC) Affandi Koesoema (alm.), budayawan Romo Yosef
Bilyarto Mangunwijaya (alm.), sutradara Drs. Sjumandjaja (alm.), budayawan
W.S. Rendra (alm.), maestro tari topeng Mimi Rasinah (alm.), dan maestro
angklung Udjo Ngalagena (alm.). Seniman Abdul Kadir (alm) mendapatkan tanda
kehormatan Bintang Jasa Nararya.

Pemerintah juga menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya
kepada dua jurnalis foto pada masa revolusi, yaitu Alexius Impurung Mendur
(alm.) dan Frans Soemarto Mendur (alm). Sementara akademisi Dr. Marwoto Hadi
Soesastro (alm.) juga mendapat Bintang Jasa Pratama atas perannya sebagai
Direktur Eksekutif Center of Strategic and International Studies (CSIS).
(A-109/A-130/ A-184/A-194)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163847

Kirim email ke