hahha...
Mun urang resep jengkol ulin jeung nu resep jengkolbisa beak tah jengkol urang
Mun urang resep jengkol ulin jeung nu resep roti, bisa weuteuh jengkol urang, 
malihan aya "Bonus" kabagian roti alternatif kadua urang dipaksa tuang roti, 
pan ngeunah,,,,hahah.
Munurang resep jengkol, ulin jeung nu teu resep jengkol teu resep roti....bisa 
ngeunah bisa "makan" ati.
 
Mun dikirim terus pembantu asa dicoo gado ceuk urang arab mah...beuki gede tah 
irung arab....hahaha
 
 
 


--- Pada Jum, 19/11/10, T13 <[email protected]> menulis:


Dari: T13 <[email protected]>
Judul: Bls: [kisunda] Hentikan kirim Pembantu
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 19 November, 2010, 7:34 AM


  





Sampurasun para baraya,

Naha cukup ukur nepi di eureunan tapi teu ditarekahan neangan kipayah salian 
jadi TKW? Mun can meunang tarekahna mah, (ceuk pamarentah teh) kirim we hayoh, 
hehehe

Cag ah.
tebetidakbete






Dari: oman abdurahman <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 19 November, 2010 13:48:18
Judul: Re: [kisunda] Hentikan kirim Pembantu

  

Memang pengiriman TKW ka LN tos waktuna dieureunan. Malah kuduna mah ti beh 
ditu keneh distop, utamana ngirimkeun TKW ka Arab anu bahaya teh. Geus loba 
kajadian.

manar


2010/11/19 Deni Indra Kelana <[email protected]>


  




Langkung sae siga kieu panginten. Teu gampil ngaluarkeun kabijakan dibujeng 
enggalna wae :P







From: Ahmad Sahidin <[email protected]>
To: Ki Sunda Milis <[email protected]>
Sent: Friday, November 19, 2010 15:07:51
Subject: [kisunda] Hentikan kirim Pembantu


  

Hentikan kirim Pembantu

JAKARTA, (PR).-
Pemerintah didesak segera menghentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia yang 
menjadi pembantu rumah tangga (PRT) ke luar negeri. Sebagai solusinya, 
pemerintah diharapkan menciptakan lapangan kerja di perdesaan dengan cara 
mengembalikan sistem ekonomi kerakyatan.

Permintaan tersebut disampaikan Ketua Presidium Federasi Serikat Pekerja Badan 
Usaha Milik Negara-Bersatu, Arief Poyuono kepada "PR", di Jakarta, Kamis 
(18/11). Hal itu disampaikannya berkaitan dengan kasus TKI asal Dompu, Nusa 
Tenggara Barat, Sumiati, yang dianiaya majikannya. Sumiati yang bekerja di Arab 
Saudi itu disiksa majikannya, hingga harus dirawat di rumah sakit akibat 
luka-luka yang dideritanya.

Arief yang juga salah satu Ketua DPP Partai Gerindra bidang ketenagakerjaan dan 
TKI mengatakan, pemerintah seharusnya mengelola BUMN dengan baik, agar bisa 
menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian di perdesaan. Dengan demikian, 
diharapkan tercipta lapangan kerja di perdesaan, dan penduduknya, terutama kaum 
wanita tidak mengadu nasib menjadi TKI yang sering mendapatkan perlakukan tidak 
baik.

Menurut Arief, penyiksaan terhadap Sumiati itu merupakan kabar yang sangat 
menyesakkan, apalagi hal itu terjadi dan terungkap menjelang Iduladha. Kasus 
ini merupakan peristiwa memilukan yang sudah sering menimpa kaum Hawa yang 
menjadi TKI di sejumlah negara, seperti di kawasan Timur Tengah, Malaysia, dan 
Singapura.

Menurut Arief, pemerintah Arab Saudi sudah menunda pengeluaran visa terhadap 
50.000 calon TKI yang akan dijadikan pembantu rumah tangga di negara tersebut. 
Penundaan itu terjadi akibat desakan National Committee for Recruitment 
(Asosiasi Agen Perekrutan Tenaga Kerja) Saudi Arabia.

Meski ditunda seperti itu, tetapi ironisnya pemerintah Indonesia masih saja 
memaksakan tetap mengirim TKI ke Saudi dengan alasan ingin mencapai target 
penerimaan devisa dari kantong para pekerja migran di luar negeri.

"Tentu, ini merupakan target pemerintah yang salah dalam mengejar devisa," 
katanya. (A-75/A-109)***

www.ahmadsahidin.wordpress.com












Kirim email ke