Emang akang Halimun pernah ningali bangsa atlantis ? Barule nyah ?

--- Pada Rab, 1/12/10, [email protected] <[email protected]> menulis:

Dari: [email protected] <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] Kampung Adat - Baraya Kanekes?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 1 Desember, 2010, 1:45 PM















 
 



  


    
      
      
      












Hehehehe sok atuh, ngadongeng.. Wios pikaseurieun oge... Aneh2 wae, urang 
kanekes sesa atlantis, atuh barule.. Moal harideung.. HehehehePowered by 
Telkomsel BlackBerry®From:  oman abdurahman <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Wed, 1 Dec 2010 13:43:14 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [kisunda] Kampung Adat - Baraya Kanekes?

 



    
      
      
      Boa uran Kanekes teh geus sadar kana kamajuan Atlantis anu ngabalukarkeun 
bencana. Jadi wae aranjeunna milih hirup luyu jeung alam, ngigelan alam lain 
ngaruksak alam. Hehehe, sugan kitu oge da rusiah Kanekes na masih disimpen ku 
Mj (hehehe, ieu oge sugan, manawi di Mj aya, cikan Mj cobi dadarkeun sakedik 
mah, pami aya).


manar

2010/12/1 Wilistya Redanta <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      Cenah ceuk beja mah, suku Baduy teh sesa ti Atlantis/Sundaland, anu 
salamet tina bencana alam. Ngan can aya anu nalungtik secara ilmiah hubungan 
Atlantis sareng suku Baduy. Pedah di pikiran urang mah Atlantis teh bangsa 
maju, ari Baduy mah primitip.



  

--- Pada Sab, 27/11/10, mh <[email protected]> menulis:


Dari: mh <[email protected]>
Judul: [kisunda] Kampung Adat - Baraya Kanekes?
Kepada: "Ki Sunda" <[email protected]>

Tanggal: Sabtu, 27 November, 2010, 3:30 AM















 
 



    
      
      
      Masyarakat Baduy bukan Pelarian

                                        
                                
                                                                        WARGA 
suku Baduy luar mengangkut kebutuhan 
sehari-hari melintasi rumah adat di Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, 
Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Banten, Rabu (8/4/2009). Masyarakat Baduy 
berpendapat, mereka merupakan keturunan pertama yang langsung diciptakan
 Tuhan di muka bumi bernama Adam Tunggal.* USEP USMAN NASRULLOH/"PR"
                                                        
                                
Suku Baduy tinggal di sekitar pegunungan Kendeng, 
Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 
yang merupakan tanah ulayat sesuai dengan Perda Kabupaten Lebak No. 32 
/2001 tentang Perlindungan Atas Hak Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Luas 
total wilayahnya mencapai 5.136, 58 hektare.
Selama ini, sebagaimana suku lainnya, suku Baduy 
disebut suku terasing atau masyarakat pedalaman. Namun, istilah tersebut
 kini tidak relevan lagi karena dikonotasikan negatif sebagai masyarakat
 tertinggal, masyarakat terbelakang. Untuk menyebut komunitas semacam 
Baduy sekarang menggunakan istilah "masyarakat adat terpencil". Dengan 
demikian, walau menempati daerah pedalaman yang terpencil, tak 
mengurangi jati diri dan martabat mereka sebagai manusia.
Kendati dari segi istilah mengalami perubahan, suku 
Baduy masih menyisakan beberapa perbedaan persepsi, misalnya tentang 
asal-asul dan prinsip masyarakat Baduy. Persepsi yang beredar di 
kalangan masyarakat luar yang bukan Baduy berbeda dengan persepsi 
masyarakat Baduy sendiri.
Ada pendapat mengatakan, asal-usul masyarakat Baduy 
sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran. Masyarakat Banten yang dipimpin 
Raja Saka Domas (Pucuk Umun) sebagai pemeluk animisme. Tahun 1525, 
Maulana Hasanuddin mengislamkan Banten Utara secara berangsur-angsur, 
yang tidak masuk Islam mengungsi ke Parahiyangan atau Cibeo, Kanekes, 
Banten ( Rafiudin dalam Iskandar dkk, 2001). Masih ada beberapa versi 
lain tentang asal-usul masyarakat Baduy yang hampir sama.
Hal ini berbeda dengan pengakuan pemangku adat Baduy.
 Mereka berpendapat bahwa masyarakat Baduy merupakan keturunan langsung 
manusia pertama yang diciptakan Tuhan di muka bumi, bernama Adam 
Tunggal. Mereka meyakini suku-suku bangsa lain di dunia bagian atau 
keturunan lanjutan dari masa lalu mereka dengan tugas berbeda-beda. 
Tanah ulayat mereka diyakini pula sebagai inti jagat (Dr. Ahmad 
Sihabudin M.Si. dan Asep Kurnia, 2010). Keyakinan masyarakat Baduy 
tersebut persis seperti keyakinan masyarakat di sekitar Gunung Merapi. 
Seperti di desa Mbah Maridjan yang meyakini tanah mereka merupakan pusat
 kekuasaan di tanah Jawa.
Prinsip hidup
Asal-usul yang diyakini menjadi prinsip hidup 
masyarakat Baduy yang berlaku hingga kini. Di antara prinsip yang 
diyakini adalah carek-lisan-khabar (perintah, ucapan, dan berita) yang 
merupakan tugas kesukuan mereka (wiwitan). Sementara lawan dari ketiga 
kata itu adalah coret-tulisan-gambar yang merupakan tugas manusia modern
 di luar suku Baduy.
Sebagai implementasi carek-lisan-khabar, masyarakat 
Baduy tetap teguh menggunakan tradisi lisan atau bahasa tutur. Lebih 
jauh, masyarakat Baduy tak mau belajar di sekolah formal dengan alasan 
bisa merusak tatanan budaya mereka. Akan tetapi, terutama Baduy luar 
(penamping), banyak yang pandai baca-tulis.
Uniknya, seperti pengamatan penulis dan wawancara 
dengan beberapa penduduk di sana, cara mereka belajar, yaitu ketika 
misalnya membeli sabun atau rokok dihafal mereknya dan di rumah tulisan 
pada bungkusnya dipakai untuk belajar. (Penduduk Baduy luar hampir mirip
 masyarakat bukan Baduy, mandi dengan sabun, gosok gigi dengan pasta 
gigi, dan merokok). Atau, mereka belajar baca-tulis dengan membentuk 
kelompok belajar di rumah yang dipandu para sukarelawan.
Budaya masyarakat Baduy yang nonliterat dinilai 
sebagian kalangan sebagai bentuk strategi mereka dalam melestarikan 
prinsip hidup dan adat istiadat secara turun-menurun. Apa yang 
disampaikan oleh sesepuh berupa carek (perintah), lisan (ucapan), dan 
khabar (berita). Dengan demikian, asal-usul mereka pun sangat sulit 
dilacak, kemungkinan untuk menghindari kaji ulang atau dikritisi.
Masyarakat Baduy juga tidak mengikuti gaya hidup 
modern. Masyarakat Baduy luar sekalipun tak mau menggunakan listrik 
untuk penerangan. Mereka kukuh menggunakan lampu tempel. Di Kampung 
Ciboleger, perbatasan antara perkampungan Baduy dan perkampungan bukan 
Baduy, hanya dibedakan oleh bentuk rumah. Rumah baduy berdinding bilik 
bambu dan beratap rumbia, sedangkan yang lain berdinding tembok dan 
beratap genteng. Ketika malam tiba, perbedaan kian kontras karena soal 
listrik tadi.
Lawan carek, lisan, dan khabar adalah coret, tulisan,
 dan gambar. Tiga kata terakhir merupakan tugas kelompok manusia lain 
yang modern, yaitu meramaikan dunia. Yang pada perkembangan mutakhir, 
adanya berbagai alat elektronik dan komputerisasi. Ketiganya terpadu 
atau biasa disebut multimedia. Namun, kemajuan yang terus bergerak bukan
 tanpa risiko. Berbagai persoalan terus terjadi dan tak jarang menelan 
korban, termasuk manusia sendiri yang menjadi korbannya.
Bukan pelarian
Banyak literatur tentang asal-usul masyarakat adat 
terpencil. Seperti halnya Suku Tengger dan suku asing di sekitar 
pegunungan Bromo dan Pegunungan Ijen di Jawa Timur. Mereka diam di 
daerah pegunungan karena terdesak seiring runtuhnya Majapahit dan 
Blambangan.
Demikian halnya suku Baduy. Beberapa sejarah 
mengidentifikasi mereka ke daerah pegunungan Kendeng karena terdesak 
seiring runtuhnya Pajajaran setelah masuknya Islam di Banten. Namun, 
seperti diungkapkan di atas, suku Baduy menolak disebut pelarian setelah
 terdesak dari proses islamisasi di Banten Utara.
Terlepas pengakuan mana yang benar, terpenting adalah
 keberadaan masyarakat adat terpencil tidak selayaknya diusik. 
Keberadaannya sangat berarti bagi kelangsungan kosmologi. Diketahui, 
topografi Provinsi Banten terdiri atas empat kota dan empat kabupaten. 
Kota Serang, Tangerang, Tangerang Selatan, Cilegon, Kabupaten Serang, 
Tangerang, Lebak, dan Pandeglang. 
Dari wilayah tersebut, sebagian besar telah padat, 
berupa kawasan industri ataupun perumahan yang ekologinya sudah 
terganggu akibat pesatnya proses pembangunan. Tinggal dua daerah, Lebak 
dan Pandeglang yang relatif masih memiliki kawasan alami. Di Lebak, ada 
kawasan tanah ulayat masyarakat Baduy. Sementara di Pandeglang, ada 
kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon.
Sangat naif jika Baduy, komunitas masyarakat adat 
terpencil yang menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan sosial terus 
diusik dan dipolitisasi. Jika terus diusik, akan berakibat pada rusaknya
 lingkungan dan lunturnya keyakinan serta adat istiadat mereka sebagai 
bentuk kearifan lokal. Biarlah mereka bertahan bersama budaya tradisi 
carek, lisan, dan khabar. (Sumarno, pemerhati masalah sosial budaya, 
tinggal di Tangerang, Banten)*** 
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165655






    
     



 








    
     

    
    






  










    
     

    










    
     

    
    


 



  










Kirim email ke