Tah ngarah pada arapal, jigana batu geblug ge perlu dijual heula ka Korea,
nya. Hehehe

2010/12/4 Jalak Pakuan <[email protected]>

>
>
> Jadi inget batu kuya Bogor nu pernah ngageunjleungkeun, kumaha nya ayeuna,
> aya nu gaduh wartos?
>
> Makarya Mawa Raharja
>
>
>  ------------------------------
> *Dari:* mh <[email protected]>
> *Kepada:* Ki Sunda <[email protected]>
> *Terkirim:* Sab, 4 Desember, 2010 05:03:18
> *Judul:* [kisunda] Legenda Batu Geblug?
>
>
>
> Di Balik Legenda Batu Geblug
>
> Cerita legenda memang selalu menarik, apalagi bila menyangkut tokoh yang
> dikenal luas di masyarakat, seperti Prabu Siliwangi dan Kean Santang. Begitu
> pula dengan legenda Batu Geblug, walaupun kini tinggal sedikit orang yang
> menuturkannya, tetapi masih menarik untuk diangkat kembali.
>
> Cerita dimulai ketika di Keraton Pajajaran terjadi perselisihan paham
> antara Prabu Siliwangi dan putranya, Kean Santang. Waktu itu Kean Santang
> sudah memilih untuk memeluk agama Islam dan berusaha untuk mengajak
> ayahandanya mengikuti langkahnya, tetapi Prabu Siliwangi menolak. Prabu
> Siliwangi memilih untuk tetap mengikuti agama leluhurnya.
>
> Lambat laun terjadi perdebatan mengenai perbedaan agama ini, bahkan
> lama-kelamaan menjadi percekcokan yang semakin meruncing. Untuk menghindari
> bentrokan fisik dengan anaknya sendiri, Prabu Siliwangi memilih meninggalkan
> keraton, pergi menuju pakidulan.
>
> Siliwangi dalam perjalanannya sempat menyeberangi Sungai Cisadane. Kemudian
> menyusuri perbukitan ke arah selatan. Sesampainya di suatu bukit kecil,
> Siliwangi beristirahat sejenak sambil merasakan semilir angin yang
> menyejukkan. Kelak tempat ini disebut Pasir Angin (pasir dalam bahasa Sunda
> berarti bukit).
>
> Tak lama berselang Kean Santang mengetahui kepergian ayahnya. Dia pun
> segera bergegas menyusulnya. Sementara Siliwangi di dalam perjalanannya
> merasa bakal dikejar oleh putranya. Di suatu tempat yang sunyi dia
> menyembunyikan totopong. Sekarang tempat ini dikenal dengan nama Lembur
> Totopong (totopong adalah kain penutup kepala khas Sunda, iket)
>
> Pengejaran Kean Santang akhirnya sampai juga di tempat Siliwangi berada.
> Melihat putranya mengejar, Siliwangi pun segera bergegas menjauh dari Kean
> Santang. Kejar-mengejar pun tak terhindarkan. Melihat gelagat Prabu
> Siliwangi tak akan terkejar olehnya, Kean Santang memungut sebuah batu dan
> melemparkannya sekuat tenaga ke arah Siliwangi, tetapi luput. Batu tersebut
> jatuh ke tanah mengeluarkan bunyi "geblug." Tempat batu jatuh sampai
> sekarang dikenal sebagai Kampung Geblug.
>
> Lalu Kean Santang melanjutkan pengejarannya. Sampailah ia di sebuah lembah
> dan dilihatnya ada sebuah batu cukup besar. Dia menaiki batu besar tersebut
> untuk melihat sekelilingnya. Ketika sedang berdiri di atas batu, dia merasa
> tak tahan ingin buang air kecil. Akhirnya Kean Santang buang hajat kecil di
> atas batu itu.
>
> Tak begitu jelas kelanjutan dari cerita ini, tetapi di suatu lembah tak
> jauh dari Kampung Geblug terdapat sebuah batu besar yang di bagian atasnya
> ada gambar telapak kaki dan di dinding batu tersebut terdapat pula jalur
> aliran yang memanjang dari atas ke bawah batu. Diceritakan oleh masyarakat
> setempat bahwa tapak kaki di batu tersebut merupakan tempat berdirinya Kean
> Santang, sedangkan jalur memanjang ke bawah merupakan bekas aliran air seni
> putra Raja Pajajaran tersebut.
>
> Tentu saja cerita legenda di atas memiliki berbagai versi, hanya saja
> masyarakat di Desa Palasari Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor meyakini
> cerita tersebut terjadi di daerahnya. Toponim Pasir Angin merupakan nama
> salah satu bukit di wilayah ini. Tak jauh dari Pasir Angin ada kampung
> bernama Lembur Totopong, begitu pula Kampung Geblug. Bahkan batu yang
> diyakini sebagai tempat berdirinya Kean Santang hanya berjarak 400 meter
> dari Balai Desa Palasari.
>
> Aspek arkeologis
>
> Lepas dari legendanya, faktanya memang ada sebongkah batu cukup besar di
> pinggir jalan Desa Palasari, tidak jauh dari aliran Sungai Cihideung. Bagian
> bawah batu tersebut agak bundar dengan diameter sekitar tiga meter, serta
> bagian atasnya agak meruncing. Batu tersebut memiliki bidang datar dengan
> arah hadap barat dan timur.
>
> Yang unik dari batu ini adalah di salah satu dindingnya yang menghadap ke
> arah barat, sisi sebelah kanannya dibatasi oleh satu jalur yang memanjang
> dari atas ke bawah. Jalur inilah yang disebut oleh masyarakat sebagai bekas
> aliran air seni Kean Santang. Batu ini pun dikenal dengan sebutan batu
> geblug.
>
> Menilik penampakan batu geblug, tidak dapat dipungkiri bahwa batu ini
> merupakan sebuah artefak yang memiliki unsur perbuatan manusia. Baik jalur
> "air seni", bidang datar di dinding, maupun gambar telapak kaki dibatu ini
> jelas telah dipahat oleh manusia. Cuma kapan hal ini dilakukan? Tentu agak
> sukar untuk menjawabnya.
>
> Mengingat ukuran batu geblug yang cukup besar, bisa diduga bahwa batu
> tersebut mulai bersinggungan dengan peradaban manusia ketika zaman megalitik
> (mega=besar, litik=batu). Kemungkinan besar batu monolit ini berfungsi
> sebagai pusat pemujaan arwah leluhur. Hal ini didukung oleh lokasinya yang
> tidak jauh dari aliran sungai dan memiliki dinding datar yang menghadap ke
> arah barat dan timur.
>
> Sebagai perbandingan, di Pasir Angin Cibungbulang, tak jauh dari aliran
> Sungai Cianten, juga terdapat batu monolit yang ukurannya lebih kecil
> dibanding Batu Geblug dengan orientasi arah timur-barat. Dari hasil
> penelitian dan penggalian di situs tersebut selama tahun 1970-an diketahui
> bahwa batu Pasir Angin merupakan monolit pusat pemujaan yang disambangi oleh
> para karuhun dalam kurun waktu tidak kurang dari dua milenium (2.000 tahun)
> dari mulai tahun 600 sebelum masehi sampai abad ke-16. Berbagai artefak yang
> ditemukan selama penggalian dikumpulkan dalam museum yang dikenal sebagai
> museum Pasir Angin (Pikiran Rakyat, 27/8).
>
> Bila diperhatikan secara saksama, tak akan ditemui adanya bekas telapak
> kaki di batu ini. Akan tetapi, banyak orang yang mengatakan bahwa di atas
> batu geblug ini dulunya ada sepasang tapak kaki manusia. Salahsatu saksi
> mata mengenai hal ini adalah Karna (62). Dia mengaku mengetahui adanya
> sepasang tapak kaki di batu ini karena di tahun 1950-an dan 1960-an sering
> melintasi wilayah ini.
>
> Keterangan dari warga sekitar memang di tahun 1970-an pernah ada sekelompok
> orang yang merusak gambar tapak kaki tersebut karena alasan tertentu. Kini
> yang tersisa di bagian atas batu ini adalah adanya permukaan yang tidak rata
> dan tak beraturan, sepertinya memang telah ada upaya pemapasan.
>
> Pernah adanya pahatan telapak kaki manusia di batu ini menunjukkan bahwa
> tempat ini pernah dikuasai oleh seorang penguasa dari zaman klasik
> (peradaban Hindu-Buddha). Tapak kaki juga bisa dipandang sebagai pesan dari
> penguasa kepada rakyatnya untuk menjaga tempat suci atau kabuyutan.
>
> Kini Batu Geblug keadaannya sudah tak utuh lagi, serta lokasinya sudah
> terjepit oleh jalan desa, rumah penduduk dan sebuah masjid. Hingga sekarang
> Batu Geblug belum "dijamah" oleh peneliti, seperti arkeolog atau sejarawan.
> Seandainya pernah dilakukan ekskavasi di situs ini, mungkin sekali ceritanya
> akan menjadi lebih ilmiah dan komprehensif, tidak sekedar menjadi cerita
> legenda semata.(Hendra M. Astari/ bergiat di Padepokan Riksa Sunda Bogor)***
>
> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=166598
>
>  
>

Kirim email ke