Sigana diurang mah kudu make aya kajadian ekstrim kakara dilieuk nya.... Makarya Mawa Raharja
________________________________ Dari: mh <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sab, 4 Desember, 2010 18:33:21 Judul: Re: [kisunda] Legenda Batu Geblug? Tah ngarah pada arapal, jigana batu geblug ge perlu dijual heula ka Korea, nya. Hehehe 2010/12/4 Jalak Pakuan <[email protected]> >Jadi inget batu kuya Bogor nu pernah ngageunjleungkeun, kumaha nya ayeuna, aya >nu gaduh wartos? > >Makarya Mawa Raharja > > > > > ________________________________ Dari: mh <[email protected]> >Kepada: Ki Sunda <[email protected]> >Terkirim: Sab, 4 Desember, 2010 05:03:18 >Judul: [kisunda] Legenda Batu Geblug? > > > >Di Balik Legenda Batu Geblug >Cerita legenda memang selalu menarik, apalagi bila menyangkut tokoh yang >dikenal >luas di masyarakat, seperti Prabu Siliwangi dan Kean Santang. Begitu pula >dengan >legenda Batu Geblug, walaupun kini tinggal sedikit orang yang menuturkannya, >tetapi masih menarik untuk diangkat kembali. >Cerita dimulai ketika di Keraton Pajajaran terjadi perselisihan paham antara >Prabu Siliwangi dan putranya, Kean Santang. Waktu itu Kean Santang sudah >memilih >untuk memeluk agama Islam dan berusaha untuk mengajak ayahandanya mengikuti >langkahnya, tetapi Prabu Siliwangi menolak. Prabu Siliwangi memilih untuk >tetap >mengikuti agama leluhurnya. >Lambat laun terjadi perdebatan mengenai perbedaan agama ini, bahkan >lama-kelamaan menjadi percekcokan yang semakin meruncing. Untuk menghindari >bentrokan fisik dengan anaknya sendiri, Prabu Siliwangi memilih meninggalkan >keraton, pergi menuju pakidulan. >Siliwangi dalam perjalanannya sempat menyeberangi Sungai Cisadane. Kemudian >menyusuri perbukitan ke arah selatan. Sesampainya di suatu bukit kecil, >Siliwangi beristirahat sejenak sambil merasakan semilir angin yang >menyejukkan. >Kelak tempat ini disebut Pasir Angin (pasir dalam bahasa Sunda berarti bukit). >Tak lama berselang Kean Santang mengetahui kepergian ayahnya. Dia pun segera >bergegas menyusulnya. Sementara Siliwangi di dalam perjalanannya merasa bakal >dikejar oleh putranya. Di suatu tempat yang sunyi dia menyembunyikan totopong. >Sekarang tempat ini dikenal dengan nama Lembur Totopong (totopong adalah kain >penutup kepala khas Sunda, iket) >Pengejaran Kean Santang akhirnya sampai juga di tempat Siliwangi berada. >Melihat >putranya mengejar, Siliwangi pun segera bergegas menjauh dari Kean Santang. >Kejar-mengejar pun tak terhindarkan. Melihat gelagat Prabu Siliwangi tak akan >terkejar olehnya, Kean Santang memungut sebuah batu dan melemparkannya sekuat >tenaga ke arah Siliwangi, tetapi luput. Batu tersebut jatuh ke tanah >mengeluarkan bunyi "geblug." Tempat batu jatuh sampai sekarang dikenal sebagai >Kampung Geblug. >Lalu Kean Santang melanjutkan pengejarannya. Sampailah ia di sebuah lembah dan >dilihatnya ada sebuah batu cukup besar. Dia menaiki batu besar tersebut untuk >melihat sekelilingnya. Ketika sedang berdiri di atas batu, dia merasa tak >tahan >ingin buang air kecil. Akhirnya Kean Santang buang hajat kecil di atas batu >itu. >Tak begitu jelas kelanjutan dari cerita ini, tetapi di suatu lembah tak jauh >dari Kampung Geblug terdapat sebuah batu besar yang di bagian atasnya ada >gambar >telapak kaki dan di dinding batu tersebut terdapat pula jalur aliran yang >memanjang dari atas ke bawah batu. Diceritakan oleh masyarakat setempat bahwa >tapak kaki di batu tersebut merupakan tempat berdirinya Kean Santang, >sedangkan >jalur memanjang ke bawah merupakan bekas aliran air seni putra Raja Pajajaran >tersebut. >Tentu saja cerita legenda di atas memiliki berbagai versi, hanya saja >masyarakat >di Desa Palasari Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor meyakini cerita tersebut >terjadi di daerahnya. Toponim Pasir Angin merupakan nama salah satu bukit di >wilayah ini. Tak jauh dari Pasir Angin ada kampung bernama Lembur Totopong, >begitu pula Kampung Geblug. Bahkan batu yang diyakini sebagai tempat >berdirinya >Kean Santang hanya berjarak 400 meter dari Balai Desa Palasari. >Aspek arkeologis >Lepas dari legendanya, faktanya memang ada sebongkah batu cukup besar di >pinggir >jalan Desa Palasari, tidak jauh dari aliran Sungai Cihideung. Bagian bawah >batu >tersebut agak bundar dengan diameter sekitar tiga meter, serta bagian atasnya >agak meruncing. Batu tersebut memiliki bidang datar dengan arah hadap barat >dan >timur. >Yang unik dari batu ini adalah di salah satu dindingnya yang menghadap ke arah >barat, sisi sebelah kanannya dibatasi oleh satu jalur yang memanjang dari atas >ke bawah. Jalur inilah yang disebut oleh masyarakat sebagai bekas aliran air >seni Kean Santang. Batu ini pun dikenal dengan sebutan batu geblug. >Menilik penampakan batu geblug, tidak dapat dipungkiri bahwa batu ini >merupakan >sebuah artefak yang memiliki unsur perbuatan manusia. Baik jalur "air seni", >bidang datar di dinding, maupun gambar telapak kaki dibatu ini jelas telah >dipahat oleh manusia. Cuma kapan hal ini dilakukan? Tentu agak sukar untuk >menjawabnya. >Mengingat ukuran batu geblug yang cukup besar, bisa diduga bahwa batu tersebut >mulai bersinggungan dengan peradaban manusia ketika zaman megalitik >(mega=besar, >litik=batu). Kemungkinan besar batu monolit ini berfungsi sebagai pusat >pemujaan >arwah leluhur. Hal ini didukung oleh lokasinya yang tidak jauh dari aliran >sungai dan memiliki dinding datar yang menghadap ke arah barat dan timur. >Sebagai perbandingan, di Pasir Angin Cibungbulang, tak jauh dari aliran Sungai >Cianten, juga terdapat batu monolit yang ukurannya lebih kecil dibanding Batu >Geblug dengan orientasi arah timur-barat. Dari hasil penelitian dan penggalian >di situs tersebut selama tahun 1970-an diketahui bahwa batu Pasir Angin >merupakan monolit pusat pemujaan yang disambangi oleh para karuhun dalam kurun >waktu tidak kurang dari dua milenium (2.000 tahun) dari mulai tahun 600 >sebelum >masehi sampai abad ke-16. Berbagai artefak yang ditemukan selama penggalian >dikumpulkan dalam museum yang dikenal sebagai museum Pasir Angin (Pikiran >Rakyat, 27/8). >Bila diperhatikan secara saksama, tak akan ditemui adanya bekas telapak kaki >di >batu ini. Akan tetapi, banyak orang yang mengatakan bahwa di atas batu geblug >ini dulunya ada sepasang tapak kaki manusia. Salahsatu saksi mata mengenai hal >ini adalah Karna (62). Dia mengaku mengetahui adanya sepasang tapak kaki di >batu >ini karena di tahun 1950-an dan 1960-an sering melintasi wilayah ini. >Keterangan dari warga sekitar memang di tahun 1970-an pernah ada sekelompok >orang yang merusak gambar tapak kaki tersebut karena alasan tertentu. Kini >yang >tersisa di bagian atas batu ini adalah adanya permukaan yang tidak rata dan >tak >beraturan, sepertinya memang telah ada upaya pemapasan. >Pernah adanya pahatan telapak kaki manusia di batu ini menunjukkan bahwa >tempat >ini pernah dikuasai oleh seorang penguasa dari zaman klasik (peradaban >Hindu-Buddha). Tapak kaki juga bisa dipandang sebagai pesan dari penguasa >kepada >rakyatnya untuk menjaga tempat suci atau kabuyutan. >Kini Batu Geblug keadaannya sudah tak utuh lagi, serta lokasinya sudah >terjepit >oleh jalan desa, rumah penduduk dan sebuah masjid. Hingga sekarang Batu Geblug >belum "dijamah" oleh peneliti, seperti arkeolog atau sejarawan. Seandainya >pernah dilakukan ekskavasi di situs ini, mungkin sekali ceritanya akan menjadi >lebih ilmiah dan komprehensif, tidak sekedar menjadi cerita legenda >semata.(Hendra M. Astari/ bergiat di Padepokan Riksa Sunda Bogor)*** >http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=166598 > >
