Urang mulungan carita nu kapanggih, ngeunaan Babad Godog.

Di handap ieu salah sahiji versina:

=======================

*Babad Godog*

Babad ini berisi cerita tentang kisah seorang tokoh yang bernama Keyan
Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa
kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau
Jawa dan menetap di Godogsuci Kecamatan
Karangpawitan<http://garutpedia.garutkab.go.id/index.php?title=Karangpawitan>Garut
sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah
Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat,
dan Sunan Bidayah.

Pada suatu hari Keyan Santang berdatang sembah kepada ayahandanya. Ia ingin
menyampaikan sesuatu yakni hasrat hatinya untuk dapat melihat darah sendiri.
Kemudian baginda memanggil para ahli nujum untuk menanyakan siapa gerangan
orang yang sanggup memenuhi keinginan Keyan Santang seperti yang
diucapkannya tadi. Para ahli nujum tidak seorang pun yang dapat menjawab
pertanyaan raja. Tetapi kemudian seorang kakek yang sudah tua renta datang
menghadap baginda raja dan berkata. Daulat tuanku, hamba hendak mengkabarkan
kepada tuanku bahwa sebenarnya ada orang yang dapat memperlihatkan darah
raja putra itu, ialah Baginda Ali di Mekah.

Prabu Siliwangi bertanya, Siapa kiranya yang akan unggul bila anakku
bertarung dengan dia. Selesai pertanyaan itu diucapkan, maka tanpa
memperlihatkan jawaban kakek itu pun lenyap dari pandangan. Menurut yang
empunya cerita, kakek itu tak lain adalah Malaikat Jibril.

Nama Baginda Ali terkesan pada hati Keyan Santang. Sekarang ia ingin mencari
orang yang memiliki nama itu ke Mekah. Setelah meminta izin dari Prabu
Siliwangi dan menyetujuinya untuk berangkat, maka Keyan Santang terbang.
Namun ia belum tahu jalan ke Mekah. Baru saja ia tinggal landas, di atasnya
terdengar suara tanpa wujud sumbernya, Engkau bernama Geranta Sentra.

Setelah itu tampak olehnya seorang putri yang sangat cantik turun dari
langit. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan putri itu.
Kemudian putri itu minta kepada Keyan Santang agar diambilkan
bintang-bintang dari langit. Setelah selesai mengucapkan permintaannya itu,
maka hilanglah putri itu. Ingin memenuhi permintaan sang putri, Keyan
Santang bertambah tinggi terbangnya, ia bermaksud akan memetik bintang.
Tetapi malah bintang itu berterbangan jauh ke langit. Keyan Santang tidak
putus asa, ia terus mengejar bintang itu hingga akhirnya ia sampai di atas
Mekah. Karena Keyan santang demikian bernafsunya ia ingin dapat menangkap
salah satu bintang, maka langit di atas Mekah pun menjadi hingar bingar.
Suara gaduh itu membuat baginda Ali ingin melihat keadaan langit.

Tak lama kemudian bertemulah Baginda Ali dengan Keyan Santang. Terjadilah
percakapan antara mereka. Kata Baginda Ali, Kau dapat mengambil bintang,
asal kau tahu dahulu mantranya. Keyan Santang menanyakan bagaimana bunyi
mantra itu. Kemudian Baginda Ali mengucapkan mantra yang berbunyi.
Allohusoli ala nu dimakbul Sayidina Muhammad. Setelah Keyan Santang
mengucapkan mantra itu, ia dapat menangkap bintang dari langit. Ternyata
bintang itu berupa untaian tasbih.

Diketahui akhirnya oleh putra raja Padjadjaran itu bahwa yang mengajarkan
mantra itu adalah baginda Ali yang tengah dicarinya. Timbul keinginan Keyan
Santang untuk mengajak bertarung dengan Baginda Ali. Tetapi Baginda Ali
sudah tidak ada. Keyan Santang hanya bertemu dengan seorang tua bangka yang
sedang membawa tungked (tongkat) dan tiang mesjid. Terjadilah percakapan
antara Keyan Santang dengan orang tua itu. Keyan Santang mencoba untuk
mencabut tongkat yang ditancapkan oleh orang tua tadi, tetapi tidak berhasil
Setelah diketahui bahwa orang tua itu tidak lain adalah Baginda Ali, maka
Keyan Santang pun menyatakan takluk dan kemudian mau memeluk agama Islam.
Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat atau Sunan Bidayah.

Keyan Santang pun memiliki tugas untuk menyebarkan agama Islam di Pulau
Jawa. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk agama Islam. Kemudian
dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu.
Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi
bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton serta merta berubah menjadi
hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menuju hutan Sancang mengikuti
Prabu Siliwangi.

Sementara itu Sunan Rahkmat meng-Islamkan rakyat yang ada di Batulayang,
Lebak Agung, Lebak Wangi, Curug Fogdog, Curug Sempur, dan Padusunan. Sewaktu
itu Sunan Rakhmat kawin dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari
Puger Wangi Sunan Rakhmat mempunyai anak kembar, kedua-duanya laki-laki,
kakaknya bernama Ali Muhammad dan adiknya Pangeran Ali Akbar. Sayang sekali
tak lama kemudian setelah melahirkan Nyi Puger Wangi meninggal dunia.

Dalam kesedihan karena ditinggal istri, Sunan Rakhmat terus menyiarkan agama
Islam di Karang Serang, Cilageni, Dayeuh Handap, Dayeuh Manggung, Cimalati,
Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haur Panggung, Cilolohan, warung Manuk,
Kadeunghalang, dan Cihaurbeuti. Pada suatu saat pernah pula Sunan Rakhmat
berangkat lagi ke Mekah.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang
dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli
berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani
oleh ratu Jin dan Jabalkop.

Alkisah disebutkan bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau
Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti
bermukim. Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu
di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang
dimakamkan di Godog Karangpawitan Garut.

Sejalan dengan apa yang di ungkapkan oleh Taufik Abdullah, bahwa dalam babad
selalu terdapat unsur sastra, mitos dan sejarahnya. Jika di cermati secara
teliti, dalam ringkasan di atas, semua unsur yang di ungkapkan oleh
sartono…..ternyata ada. Diantaranya:

Unsur sastra adalah cerita dimana Keyan Santang terbang ke langit, dan
mendengar suara yang tak ada wujudnya …….. akhirnya ia sampai di atas Mekah.
Jika dipikir secara logika apakah mungkin seorang manusia dapat terbang
sebegitu jauhnya?

Unsur mitos adalah dimana prabu siliwangi menolak memeluk agama islam,
Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari
Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa
menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton serta merta berubah
menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menuju hutan Sancang
mengikuti Prabu Siliwangi. Sedangkan

Unsur sejarahnya adalah penyebaran agama islam yang dilakukan oleh Keyan
Santang, atau Sunan Rakhmat. Di derah Batulayang, Lebak Agung, Lebak Wangi,
Curug Fogdog, Curug Sempur, dan Padusunan, Karang Serang, Cilageni, Dayeuh
Handap, Dayeuh Manggung, Cimalati, Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haur
Panggung, Cilolohan, warung Manuk, Kadeunghalang, dan Cihaurbeuti.mungkin
benar adanya karena menurut sepengetahuan penulis daerah- daerah tersebut
sampai saat ini sebagian besar penduduknya beragama islam.

http://www.rancahbetah.info/2009/07/babag-godog.html

Kirim email ke