Kumaha pami ngeunaan naon kaunggulannana lalaki Indo tibatan nonoman sunda? eta geuning wanoja2 meni segut ngungudag Ifan Bachdim. Atanapi nu ieu yeuh, aya bacaan intermezzo:
Kamis, 16 Desember 2010 (10 Muharram 1432H) Kita, Hijriyyah dan Timnas Indonesia Ust. Windo Putra Wijaya, Lc., MA. Gelaran Piala AFF 2010 benar-benar memberikan warna yang berbeda. Paling tidak bagi kita, semua masyarakat Indonesia. Wajah-wajah baru yang menghiasi Timnas menjadi daya tarik tersendiri, setelah hampir beberapa tahun terakhir, selalu dihuni oleh muka-muka lama. Tidak ditemukan lagi nama Charis Yulianto di jantung pertahanan. Langganan pemain-pemain tengah macam Ponaryo Astaman dan Syamsul Haris pun tak terlihat. Hadirnya Alfred Riedl menggantikan Benny Dolo di pos pelatih, menjadi kunci semua perubahan tersebut. Ya. Perubahan. Keberanian Riedl mencoret Boaz Solossa dari pemain yang akan diikut sertakan, menjadi isu panas sebelum Timnas berlaga di ajang yang disponsori oleh Suzuki itu. Baginya, tidak ada tempat bagi pemain yang selalu mangkir dari panggilan latihan. Bahkan striker ‘abadi’ Timnas sekelas Bambang Pamungkas pun mesti rela memulai permainannya di ajang ini dari bangku cadangan. Hasilnya? Sempurna. Perubahan yang dibawa Friedl memberikan harapan baru bagi perjalanan Timnas. Kombinasi pemain-pemain senior semisal Firman Utina, M. Ridwan dan Markus Maulana Haris dengan muka-muka baru macam Okto Maniani, Ahmad Bustomi, ‘duo’ pemain naturalisasi, Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales, menghadirkan kemenangan sapu bersih di semua pertandingan penyisihan grup. Terlepas apakah nanti Timnas berhasil menjadi juara atau tidak, paling tidak, perubahan ala Alfred Riedl, mampu membuat kita tersenyum penuh harap untuk perkembangan positif Timnas kedepannya. Putar jauh kebelakang, dimana-mana, keberanian untuk melakukan perubahan selalu saja memberikan dampak positif. Keberanian Ibrahim menentang Namrud, Musa yang melawan tirani Fir’aun, dan Muhammad yang berhadapan dengan kafir Quraisy adalah sekian dari banyaknya kisah tentang perubahan yang diceritakan sejarah kepada kita. Resah dengan posisi nyaman. Kalut dengan posisi aman. Itulah yang mendasari Ibrahim berkata, “Kenapa kalian menyembah Tuhan yang kalian buat sendiri.” Itulah yang melatar belakangi Musa menggugat Fir’aun yang mengasuhnya sedari kecil. Itu juga yang melahirkan sosok sekaliber Muhammad. Hasilnya? Juga sangat tidak mengecewakan. Ibrahim membuka mata Namrud, bahwa tradisi menyembah berhala yang dilakukan adalah kesalahan besar. Alih-alih berhasil membuktikan tuduhan kepada Ibrahim sebagai penghancur berhala yang ada, Namrud dan punggawanya tak berkutik melawan logika Ibrahim ketika mengatakan, “Kalau kalian tidak percaya dengan sesuatu yang kalian yakini tidak bisa berbuat apa-apa, lalu untuk apa kalian menyembahnya.” Dan lihatlah, kalam mulia Muhammad, “Sekiranya mereka meletakkan matahari ditangan kananku, bulan ditangan kiriku, agar aku menghentikan seruan Tuhan ini, aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah menetapkan keputusannya. Memenangkan agamanya, atau aku binasa karenanya.” Jawaban tegas, dengan kedalaman tauhid yang luar biasa. Untuk sebuah perubahan, dan hasilnya, indahnya Islam pun bisa kita rasakan hingga sekarang. Oleh karenanya, masih dalam nuansa Muharram, tidak ada kata yang pantas kita kumandangkan di tahun baru Hijriyyah ini selain perubahan. Kita yang paling tahu siapa diri kita sesungguhnya. Kita yang paling tahu, sisi mana yang mesti kita perbaiki. Jangan pernah takut untuk melakukan perubahan, Jangan pernah khawatir untuk meninggalkan zona nyaman dan aman kita. Mari lihat kembali kebaikan dan keburukan kita. Kebaikan yang ada, niatkanlah untuk ditingkatkan. Bila itu keburukan, maka yakinkanlah kita bisa melakukan perubahan. Kalaulah Rasul berteriak kala melihat orang Yahudi berpuasa, “Aku lebih berhak dari kalian (Yahudi) untuk memperingati diselamatkannya Musa dari kejaran Fir’aun.” Kalaulah Timnas Indonesia berani mencanangkan perubahan untuk datangnya prestasi. Maka kita pun layak dengan sepenuh tekad untuk mengatakan hal yang sama dalam perspektif yang berbeda, “Kita harus berubah dengan hadirnya Hijriyyah. Dari keburukan menjadi kebaikan. Dari ma’siyyah menuju ibadah.” Insya Allah. Barakah untuk kita, Hijriyyah kita dan Timnas Indonesia kita. Salam Perubahan. Wallahul Musta’an Pagi Asyura nan berkah. Istana 16 ku, Masjid DarussadahTembagapura Papua.10 Muharram 1432 H, Pkl 07.00 WIT. Wassalam ________________________________ From: mh <[email protected]> To: Ki Sunda <[email protected]> Sent: Thursday, December 16, 2010 21:00:37 Subject: [kisunda] Topik Naon Malem Ieu, Bari Manteng Semi Final? Baraya, Topik naon nya keur pasea malem ieu, bari manteng babab semi final Indonesia-Filipina? Hayoh geura teangan topik nu provokatif? -mh-
