Kumaha upami ngabahas materi kuliah umum ketua PB NU di FEUI tanggal 8 kamari. 
Di handap mah nembe sabagean tina padungdengan dina kuliah umum eta. 
Salengkepna, ke wengi mun si kuring tos mendakan arsipna.

Baktos ,

Mrachmatrawyani


Pada tanggal 8 Desember 2010,  Fakultas ekonomi  Universitas Indonesia (FEUI) 
mengundang  Ketua  Pengurus  Besar  Nahdlatul  Ulama (PB UN)  Prof.Dr. KH. Said 
Aqil Siradj untuk memberikan kuliah umum dihadapan Sivitas Akademika UI dengan 
topik “Membangun Perekonomian dengan Dasar Peradaban dan Budaya Lokal”. Ini 
suatu tonggak dan Sejarah baru di FEUI,  Seperti yang dikatakan moderator 
Prof.Dr. Sri-Edi Swasono, dimana seorang kiai untuk pertama kalinya berbicara 
tentang perekonomian di lingkungan akademik. Maka tidak heran kalau yang hadir 
pun dari kalangan yang beragam tidak saja dari lingkungan Fakultas Ekonomi  
saja. Para profesor Ekonomi  menyengajakan datang pada acara itu antara lain 
Prof.Dr. Subroto, Prof.Dr. Arsyad Anwar, Prof.Dr. B.S. Mulyana.

Dalam pengantarnya, Dekan Fakultas ekonomi UI Prof.Firmanzah, Ph.D menyatakan, 
Indonesia perlu membangun perekonomiannya dengan berlandaskan kepada budaya dan 
kearifan lokal. Para warga NU  yang berada di seluruh pelosok Indonesia, mereka 
adalah para pelaku ekonomi  yang tahu betul keadaan ekonomi di lapangan. 
Alangkah baiknya kalau pengalaman mereka dapat diserap dan menjadi inspirasi 
dalam membuat kebijakan perekonomian untuk menyejahterakan rakyat. Kasus 
perekonomian Jepang misalnya, mereka tidak menelan mentah-mentah menerapkan 
sistem ekonomi dari Barat. Mereka berinovasi dengan tetap berlandaskan kepada 
budaya setempat, sehingga kita mengenal misalnya semangat Bushido, yang khas 
Jepang.

Dalam diskusi usai memberikan ceramah, pertanyaan didominasi bukan oleh para 
mahasiswa fakultas Ekonomi, tetapi dari fakultas lain. Ada dua penanya dari 
fakultas teknik, satu penanya dari FISIP, Satu penanya dari Kadin Kota Depok 
dan 
satu penanya dari Kementerian Kominfo. Kegiatan ini merupakan salah satu model 
baru di UI, dimana para pesertanya para mahasiswa lintas disiplin ilmu dan 
bahkan ada pihak luar kampus juga yang terlibat.

Kiai Said aqil sendiri merasa terhormat diundang untuk bicara di FEUI dan 
merasa 
tidak mempunyai kapasitas untuk bicara tentang perekonomian. Tetapi dia merasa 
terpanggil karena sebagian besar masyarakat nahdliyin yang berada di pelosok 
nusantara kehidupannya termasuk dalam kategori miskin. Diantara mereka itu juga 
ada yang ada bergerak dalam bidang usaha mikro dan masuk dalam kategori 
pengusaha kecil yang memerlukan bantuan dari pemerintah. Tetapi karena dasarnya 
sejak jaman penjajahan sudah terbiasa untuk tidak tergantung kepada pemerintah 
(kolonial), watak itu hingga kini terus melekat sehingga hidupnya mandiri. 
Ketika badai krisis perekonomian menerpa Indoneaia tahun 1998 dan juga 2008, 
mereka tetap mampu bertahan dan tetap mandiri. Dan itu merupakan salah satu 
sumbangan terbesar terhadap sistem perekonomian Indonesia. Walaupun demikian, 
pihak PBNU belum pernah diminta untuk bicara perkara ekonomi oleh pemerintah 
seperti apa yang dilakukan FEUI sekarang ini. Maka tidak heran kalau kebijakan 
ekonomi mikro yang dikeluarkan pemerintah tidak menyentuk golongan ekonomi 
lemah. Tidak seperti kebijakan di bidang politik yang banyak mengubah secara 
drastis dan dapat terasa serta terlihat di jaman reformasi ini, tetapi  
kebijakan di bidang ekonomi menurut ketua PB NU tidak jelas arah dan manfaat 
bagi kalangan ekonomi lemah. (Disarikan dari rekaman video. Nanti akan 
dipostingkan teks  kuliah umum Ketua PBNU).


      

Kirim email ke