Palay pasea ? Tah kieu, kang maman, kang waluya, jaba garede ambek, kuminter, 
jeung embung eleh.. Hehehehe

Sakantenan abdi bade pamit ka sarerea, hapunten samudaya kalepatan

Sunda teh sikabayan
Bangsa nu saukur hayang dihuapan
Bangsa nu saukur hayang diusapan

Sunda teh siabayan
Bangsa anu sieunan
Kabalad sorangan sesentakan
Digebrig saeutik lalumpatan

Wilujeng

Halimun
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: mh <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 16 Dec 2010 17:33:36 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Ngawangun Ekonomi didasaran Budaya lokal

Tah ieu ge topik hade yeuh, nyambung jeung postingan Kang MZ, conto sukses
desa peradaban Cina.
Der ah, wilujeng pasea.


2010/12/16 MRachmat Rawyani <[email protected]>

>
>
> Kumaha upami ngabahas materi kuliah umum ketua PB NU di FEUI tanggal 8
> kamari. Di handap mah nembe sabagean tina padungdengan dina kuliah umum eta.
> Salengkepna, ke wengi mun si kuring tos mendakan arsipna.
>
> Baktos ,
>
> Mrachmatrawyani
>
> Pada tanggal 8 Desember 2010,  Fakultas ekonomi  Universitas Indonesia
> (FEUI) mengundang  Ketua  Pengurus  Besar  Nahdlatul  Ulama (PB UN)  Prof.Dr.
> KH. Said Aqil Siradj untuk memberikan kuliah umum dihadapan Sivitas
> Akademika UI dengan topik “Membangun Perekonomian dengan Dasar Peradaban dan
> Budaya Lokal”. Ini suatu tonggak dan Sejarah baru di FEUI,  Seperti yang
> dikatakan moderator Prof.Dr. Sri-Edi Swasono, dimana seorang kiai untuk
> pertama kalinya berbicara tentang perekonomian di lingkungan akademik. Maka
> tidak heran kalau yang hadir pun dari kalangan yang beragam tidak saja dari
> lingkungan Fakultas Ekonomi  saja. Para profesor Ekonomi  menyengajakan
> datang pada acara itu antara lain Prof.Dr. Subroto, Prof.Dr. Arsyad Anwar,
> Prof.Dr. B.S. Mulyana.
>
>
> Dalam pengantarnya, Dekan Fakultas ekonomi UI Prof.Firmanzah, Ph.D
> menyatakan, Indonesia perlu membangun perekonomiannya dengan berlandaskan
> kepada budaya dan kearifan lokal. Para warga NU  yang berada di seluruh
> pelosok Indonesia, mereka adalah para pelaku ekonomi  yang tahu betul
> keadaan ekonomi di lapangan. Alangkah baiknya kalau pengalaman mereka dapat
> diserap dan menjadi inspirasi dalam membuat kebijakan perekonomian untuk
> menyejahterakan rakyat. Kasus perekonomian Jepang misalnya, mereka tidak
> menelan mentah-mentah menerapkan sistem ekonomi dari Barat. Mereka
> berinovasi dengan tetap berlandaskan kepada budaya setempat, sehingga kita
> mengenal misalnya semangat Bushido, yang khas Jepang.
>
>
> Dalam diskusi usai memberikan ceramah, pertanyaan didominasi bukan oleh
> para mahasiswa fakultas Ekonomi, tetapi dari fakultas lain. Ada dua penanya
> dari fakultas teknik, satu penanya dari FISIP, Satu penanya dari Kadin Kota
> Depok dan satu penanya dari Kementerian Kominfo. Kegiatan ini merupakan
> salah satu model baru di UI, dimana para pesertanya para mahasiswa lintas
> disiplin ilmu dan bahkan ada pihak luar kampus juga yang terlibat.
>
>
> Kiai Said aqil sendiri merasa terhormat diundang untuk bicara di FEUI dan
> merasa tidak mempunyai kapasitas untuk bicara tentang perekonomian. Tetapi
> dia merasa terpanggil karena sebagian besar masyarakat nahdliyin yang berada
> di pelosok nusantara kehidupannya termasuk dalam kategori miskin. Diantara
> mereka itu juga ada yang ada bergerak dalam bidang usaha mikro dan masuk
> dalam kategori pengusaha kecil yang memerlukan bantuan dari pemerintah.
> Tetapi karena dasarnya sejak jaman penjajahan sudah terbiasa untuk tidak
> tergantung kepada pemerintah (kolonial), watak itu hingga kini terus melekat
> sehingga hidupnya mandiri. Ketika badai krisis perekonomian menerpa
> Indoneaia tahun 1998 dan juga 2008, mereka tetap mampu bertahan dan tetap
> mandiri. Dan itu merupakan salah satu sumbangan terbesar terhadap sistem
> perekonomian Indonesia. Walaupun demikian, pihak PBNU belum pernah diminta
> untuk bicara perkara ekonomi oleh pemerintah seperti apa yang dilakukan FEUI
> sekarang ini. Maka tidak heran kalau kebijakan ekonomi mikro yang
> dikeluarkan pemerintah tidak menyentuk golongan ekonomi lemah. Tidak seperti
> kebijakan di bidang politik yang banyak mengubah secara drastis dan dapat
> terasa serta terlihat di jaman reformasi ini, tetapi  kebijakan di bidang
> ekonomi menurut ketua PB NU tidak jelas arah dan manfaat bagi kalangan
> ekonomi lemah. (Disarikan dari rekaman video. Nanti akan dipostingkan teks
> kuliah umum Ketua PBNU).
>
>
>  
>

Kirim email ke