Senin, 03 Januari 2011 Mengenang R. Hidayat Suryalaga *Sangkuriang Abah Surya: In Memoriam* *Oleh: Resti Nurfaidah* *MENJELANG* ajang adu "silat lidah" pada Seminar Internasional Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Tahun 2010 (Pelantra 2010) di Surabaya beberapa bulan silam, penulis sempat dilanda kendala dalam menentukan "landasan" yang akan dipakai sebagai akar presentasi makalah bertajuk "Sangkuriang Ori, Sangkuriang Modifikasi, Sangkuriang Terkini." Setelah melakukan penelusuran, saya mendapati hasil analisa Abah Surya (alm. R.d. Hidayat Suryalaga) yang berlandaskan pada aspek hermeneutik. Paparan Abah Surya dalam orasi ilmiah hari wisuda mahasiswa ITENAS Bandung, pada tanggal 28 Mei 2005 tersebut, mengupas tuntas legenda Sangkuriang sampai ke akar-akarnya. Paparan tersebut juga memunculkan pemahaman atas sikap warga Sunda terhadap legenda ala Oidipus kompleks itu. Selama itu, tidak satu warga pun yang menggugat legenda itu karena jika ditelusuri dalam kajian ilmiah, legenda itu akan menguraikan rangkaian kearifan lokal khas Sunda.
Abah Surya menyatakan bahwa Sangkuriang adalah citra tingginya ego dalam diri manusia laksana ganasnya semburan lava di puncak gunung berapi. Ego tersebut tidak dapat dibiarkan terus membuncah karena akan menimbulkan kerusakan di muka bumi. Untuk itulah, semburan ego yang mahadahsyat tersebut memerlukan "peredam" berupa siraman air penyejuk. Sangkuriang menyadari hal itu. Ia sangat merindukan tempat bernaung yang mampu menyejukkan gejolak lava ego di dalam dadanya. Sangkuriang mencari dan mencari penyejuk itu. Namun, ketika ia menemukan hal itu, kakinya salah menapak jalan. Ujung pencarian itu bertumbuk pada sosok sang ibu yang sudah lama hilang dari pikirannya, Dayang Sumbi. Sang ego, Sangkuriang, melabuhkan segenap asa tinggi kepada sang embun penyejuk itu. Seperti makna yang tertangkap dalam lirik lagu (I Dreamed a Dream) yang dinyanyikan oleh Susan Boyle tahun lalu, I had a dream my life would be, so different from this hell I'm living, so different now from what it seems, kehidupan demikian pahit dalam pandangan Sangkuriang. Embun penyejuk yang sangat ia puja itu ternyata ibu kandungnya sendiri. Garis hidup manusia selalu berujung pada takdir Illahi. Dalam legenda tersebut, Sang Hyang penentu kehidupan. Ego yang semula akan meredup sedikit demi sedikit itu, kembali menggelegak karena Sangkuriang tidak mau menerima ketentuan Sang Penguasa Alam. Ia mengejar sang penyejuk hingga akhirnya wanita yang telah melahirkannya itu menghilang di Gunung Putri dan berubah wujud menjadi kembang jaksi (jadi saksi). Kearifan lokal juga terdapat pada sederetan nama tempat yang menjadi latar kisah inces itu. Salah satu di antaranya, di penghujung amarahnya, Sangkuriang mencapai puncak gejolak egonya (Ujungberung) dan ego tersebut akhirnya lenyap terbawa angin (Manglayang). Perahu yang dibuat Sangkuriang ditendang lelaki itu dan akhirnya tertelungkup, seperti sosok manusia yang menelungkup menyesali nasibnya (Tangkuban parahu). Sementara itu, sisa-sisa kayu yang juga menjadi sasaran kemarahan Sangkuriang, ditendang dan menumpuk di satu tempat, laksana onggokan tulang-belulang manusia (Gunung Burangrang). Sesungguhnya, banyak hal yang dapat kita petik dari legenda Sangkuriang tersebut. Legenda yang disampaikan secara turun-temurun itu bukan hanya menyampaikan kisah inces sebagai "jiplakan" kisah Oidipus di Yunani, namun, hal itu memberikan gambaran tentang kehidupan manusia yang tidak selamanya mulus, tetapi kerapkali diwarnai intrik. Selain itu, kehidupan manusia sebagai makhluk tidak pernah lepas dari takdir Sang Mahakuasa, meskipun ia "jor-joran" berjuang dengan ego dan ambisinya! Wallaahualam bi sawwab. Wilujeng angkat, Abah Surya. Hatur nuhun pisan, seratan Abah kaanggo pisan. Semoga karya-karya Abah dapat menjadi bekal amalan di hari akhir nanti. (Resti Nurfaidah, peminat sastra dan budaya, tinggal di Bandung)** http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110103094131&idkolom=opinipendidikan 2010/12/30 mh <[email protected]> > Diantara karya kamotekaran Abah Surya nyaeta mangrupa buku Nur Hidayah > jeung Nurul Hikmah. Nur Hidayah eusina saritilawah basa Sunda Al Quran dina > wangun dangding Pupuh sunda. Sedengkeun ari Nurul Hikmah eusina ringkesan > tina Nur Hidayah dina wangun nadoman. >
