hahahaha.... upami kitu mah bisnis sedot wc di china tiasa nyandak kauntungan 2 
kali atuh nya kauntungan 

ka hiji tina pembayaran jasa penyedotan. 
kaduana tina penjualan ee na (kanggo pupuk tea)

mung kabayang we upami gaduh kebon cengek di China anu legana hektaran. na 
sakumaha atuh peryogi ee na nyah. ck... ck... ck... ck...
kumaha nyetok ee na sareung bauna pisakumahaeun deuih, ah beneur - beuner urang 
china....  leuwih hebat teknologi pengelolaan ee na ... dibanding nagri urang 
mah... 




________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 26 Januari, 2011 21:37:02
Judul: Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah

  
Dipupukanana oge ku ee jalmi saurna...

Eceuk eta oge...

Mangga piluruh infona.

Tabe pun.

Pemuda Toloheor.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From:  [email protected] 
Sender:  [email protected] 
Date: Thu, 27 Jan 2011 02:30:18 +0000
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah
  
Ngarah awet, dilapisan ku lilin heula panginten (azas praduga ta' bersalah 
teaa)... Pleus! Ngarah matak pikabitaeun. Teu nyangka nya di china oge aya 
pelak 
cengek 

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  mh <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Thu, 27 Jan 2011 10:25:26 +0800
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [kisunda] Cabe Rawit Ti China leuwih Murah
  
Saliwatan mah cabe impor teh pating gurilap, herang ngagenclang, jiga palastik.
Mun dikirim ti Cina, bisa tahan lila kitu nya?
Cing kunaon nya bisa tahan lila


2011/1/26 <[email protected]>

  
>Cabai China Pun Menyerbu Indonesia
>
>JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah dua pekan terakhir cabai rawit merah impor dari 
>China dan Thailand menyerbu pasar Jakarta dan sekitarnya. Para pedagang 
>mencampur rawit impor yang harganya lebih murah dengan rawit lokal untuk 
>menekan 
>harga cabai, yang di pasar Depok mencapai Rp 120.000 per kilogram.
>
>click to enlarge 
>
>Rum (50), Nuryanto (28), Rudy (29), dan Totok (25), pedagang yang ditemui di 
>Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (24/1/2011), mengatakan, serbuan rawit 
>impor ke pasar induk sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.
>
>Menurut mereka, harga rawit merah dari Thailand yang berukuran kecil Rp 55.000 
>per kg, sedangkan yang lebih besar Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Para pedagang 
>cabai yang membeli rawit dari para pedagang besar di pasar induk mencampur 
>rawit 
>Thailand dengan rawit merah lokal yang harganya masih Rp 90.000 per kg. Dengan 
>demikian, harga jual rawit merah oplosan di tingkat konsumen bisa ditekan.
>
>Rudy dan Rum mengatakan, konsumen paling menggemari rawit merah lokal. Mereka 
>lebih baik tidak makan rawit kalau rawitnya dari jenis lain, seperti rawit 
>hijau 
>dan rawit putih. Itu sebabnya, sejak harga rawit merah melambung, pasar rawit 
>dari semua jenis melemah.
>
>Untuk membangkitkan pasar rawit, para pedagang menengah dan pengecer kemudian 
>mencampur rawit merah lokal dengan rawit merah Thailand yang berukuran kecil.
>
>”Itu sebabnya, rawit caplak (rawit merah Thailand) yang kecil lebih mahal 
>harganya daripada rawit caplak yang besar. Rawit caplak yang besar tidak bisa 
>disamar dalam rawit merah campuran, sedangkan rawit caplak yang kecil bisa,” 
>ujar Rudy.
>
>Pedagang pengecer, Herianto (42), mengaku menjual rawit merah campuran seharga 
>Rp 85.000 per kg. ”Saat ini jauh lebih menguntungkan berdagang rawit merah 
>campuran,” katanya.
>
>Pedagang cabai di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Sumiyatun, mengatakan, 
>rawit 
>merah China dijual Rp 60.000 per kg, sedangkan rawit merah lokal dijual Rp 
>80.000 per kg.
>
>Di Pasar Kramat Jati, rawit hijau dari Wonosobo, Jawa Tengah, dijual Rp 35.000 
>per kg, sementara rawit putih (rawit berwarna krem kekuningan) dijual Rp 
>37.000 
>per kg.
>
>Masih tinggi
>
>Di Depok, kemarin, harga rawit merah mencapai Rp 120.000 per kg. Berdasarkan 
>pengamatan Kompas, bentuk rawit merah ini sama dengan rawit merah Thailand dan 
>China. Saat ditanya mengenai kemungkinan ini, para pedagang menjawab tak tahu. 
>Meski demikian, mereka memastikan bahwa rawit merah itu produksi tanaman lokal.
>
>Harga cabai rawit merah di Depok pada tiga hari sebelumnya masih mencapai Rp 
>90.000 per kg. Para pedagang pengecer tidak tahu apa pemicunya sehingga harga 
>cabai rawit merah kembali melambung.
>
>”Saya terpaksa menjual dengan harga ini karena harga dari bandar Rp 110.000 
>per 
>kg,” tutur Wiji (38), pedagang bumbu di Pasar Depok Jaya, Kota Depok, Jawa 
>Barat, Senin.
>
>Menurut Wiji, rawit merah yang dia jual itu kualitas super sehingga harganya 
>tinggi. Hal itulah yang membuat Wiji tak berani menjual bahan pokok tersebut 
>dalam jumlah besar. Dalam sehari dia hanya berani menjual 1 kilogram rawit 
>merah.
>
>Hanya berjarak kurang dari 1 kilometer, di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin 
>sore, 
>harga cabai rawit merah Rp 100.000 per kg. Pedagang Pasar Kemiri Muka, Anis 
>(50), yang menjual 3 kg cabai rawit merah, mengaku, cabai yang dia jual dari 
>kemarin belum juga habis.
>
>Anis menjual rawit yang berbeda jenis dengan pedagang lain, tetapi harganya 
>sama 
>dengan harga cabai rawit merah. ”Saya tidak tahu ini cabai dari mana. Saya 
>beli 
>di sini (Pasar Kemiri Muka) dari bandar dan saya jual di sini juga,” kata Anis.
>
>Harga rawit merah lokal di Pasar Cengkareng masih berkisar Rp 80.000 per kg. 
>Adapun cabai merah keriting dijual Rp 50.000 per kg, turun dari semula Rp 
>58.000 
>per kg. (NDY/NEL/ART/FRO/PIN/WIN)


 

Kirim email ke