Cabai China Pun Menyerbu Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah dua pekan terakhir cabai rawit merah impor dari 
China dan Thailand menyerbu pasar Jakarta dan sekitarnya. Para pedagang 
mencampur rawit impor yang harganya lebih murah dengan rawit lokal untuk 
menekan harga cabai, yang di pasar Depok mencapai Rp 120.000 per kilogram.

click to enlarge 

Rum (50), Nuryanto (28), Rudy (29), dan Totok (25), pedagang yang ditemui di 
Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (24/1/2011), mengatakan, serbuan rawit 
impor ke pasar induk sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.

Menurut mereka, harga rawit merah dari Thailand yang berukuran kecil Rp 55.000 
per kg, sedangkan yang lebih besar Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Para pedagang 
cabai yang membeli rawit dari para pedagang besar di pasar induk mencampur 
rawit Thailand dengan rawit merah lokal yang harganya masih Rp 90.000 per kg. 
Dengan demikian, harga jual rawit merah oplosan di tingkat konsumen bisa 
ditekan.

Rudy dan Rum mengatakan, konsumen paling menggemari rawit merah lokal. Mereka 
lebih baik tidak makan rawit kalau rawitnya dari jenis lain, seperti rawit 
hijau dan rawit putih. Itu sebabnya, sejak harga rawit merah melambung, pasar 
rawit dari semua jenis melemah.

Untuk membangkitkan pasar rawit, para pedagang menengah dan pengecer kemudian 
mencampur rawit merah lokal dengan rawit merah Thailand yang berukuran kecil.

”Itu sebabnya, rawit caplak (rawit merah Thailand) yang kecil lebih mahal 
harganya daripada rawit caplak yang besar. Rawit caplak yang besar tidak bisa 
disamar dalam rawit merah campuran, sedangkan rawit caplak yang kecil bisa,” 
ujar Rudy.

Pedagang pengecer, Herianto (42), mengaku menjual rawit merah campuran seharga 
Rp 85.000 per kg. ”Saat ini jauh lebih menguntungkan berdagang rawit merah 
campuran,” katanya.

Pedagang cabai di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Sumiyatun, mengatakan, rawit 
merah China dijual Rp 60.000 per kg, sedangkan rawit merah lokal dijual Rp 
80.000 per kg.

Di Pasar Kramat Jati, rawit hijau dari Wonosobo, Jawa Tengah, dijual Rp 35.000 
per kg, sementara rawit putih (rawit berwarna krem kekuningan) dijual Rp 37.000 
per kg.

Masih tinggi

Di Depok, kemarin, harga rawit merah mencapai Rp 120.000 per kg. Berdasarkan 
pengamatan Kompas, bentuk rawit merah ini sama dengan rawit merah Thailand dan 
China. Saat ditanya mengenai kemungkinan ini, para pedagang menjawab tak tahu. 
Meski demikian, mereka memastikan bahwa rawit merah itu produksi tanaman lokal.

Harga cabai rawit merah di Depok pada tiga hari sebelumnya masih mencapai Rp 
90.000 per kg. Para pedagang pengecer tidak tahu apa pemicunya sehingga harga 
cabai rawit merah kembali melambung.

”Saya terpaksa menjual dengan harga ini karena harga dari bandar Rp 110.000 per 
kg,” tutur Wiji (38), pedagang bumbu di Pasar Depok Jaya, Kota Depok, Jawa 
Barat, Senin.

Menurut Wiji, rawit merah yang dia jual itu kualitas super sehingga harganya 
tinggi. Hal itulah yang membuat Wiji tak berani menjual bahan pokok tersebut 
dalam jumlah besar. Dalam sehari dia hanya berani menjual 1 kilogram rawit 
merah.

Hanya berjarak kurang dari 1 kilometer, di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin 
sore, harga cabai rawit merah Rp 100.000 per kg. Pedagang Pasar Kemiri Muka, 
Anis (50), yang menjual 3 kg cabai rawit merah, mengaku, cabai yang dia jual 
dari kemarin belum juga habis.

Anis menjual rawit yang berbeda jenis dengan pedagang lain, tetapi harganya 
sama dengan harga cabai rawit merah. ”Saya tidak tahu ini cabai dari mana. Saya 
beli di sini (Pasar Kemiri Muka) dari bandar dan saya jual di sini juga,” kata 
Anis.

Harga rawit merah lokal di Pasar Cengkareng masih berkisar Rp 80.000 per kg. 
Adapun cabai merah keriting dijual Rp 50.000 per kg, turun dari semula Rp 
58.000 per kg. (NDY/NEL/ART/FRO/PIN/WIN)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Akang Tajimalela <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 25 Jan 2011 21:30:46 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] habis Syiah terbitlah JIL

Komo mun aya daftar "menu"na heula....
"Dupi akang bade tuang naon??"...cik tempo heula daftar "menu"na nu keur trend 
ayeuna mahzab naon???....wkwkwkwk
 
TM

--- Pada Sel, 25/1/11, mh <[email protected]> menulis:


Dari: mh <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] habis Syiah terbitlah JIL
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 25 Januari, 2011, 9:04 AM


  



lamun geus ngabahas kayakinan, sok rame wae nya. hehehe.
ari ceuk uing mah, aya hadena kabeh mazhab teh diulik, ngarah katoong bule 
hideungna.
perkara mazhab nu mana nu rek dipilih, gumantung karesep, kereteg urang 
sorangan.


2011/1/25 Irpan Rispandi <[email protected]>


  



Kuring mah hayang ngaluarkeun unek-unek anu didasaran ku Suudzon. 
he..he..he..

Tina suudzon na oge geus salah nya baraya, jadi tulisan kuring salah 
he..he.he..

Ah da ceuk sudut pandang kuring mah bener we.

Sarua jeung Syiah, najan ceuk nu sejen salah, ceuk penganut Syiah mah 
bener we.
Sarua jeung JIL, najan ceuk nu sejen salah, ceuk penganut JIL mah bener we.

Tah kuring oge kitu, najan ceuk batur suudzon teh salah, ceuk penganut 
kuring mah bener we.he..he.he..

Milis, mangrupakeun media anu lumayan ampuh dina menanamkan pengaruh. 
Sabab milis pasti bakal dibaca jalma. Tah ku kituna tong heran, loba 
pisan pihak-pihak nu berkepentingan, menancapkan kuku mereka di 
milis-milis.

Salah sahijina Syiah, anu mencoba memperkenalkan ke-Syiah-an nya ka 
masyarakat Sunda.
Salah sahijina JIL, anu mencoba menanamkan paham liberalnya ka 
masyarakat Sunda.

waspadalah ... waspadalah...

(set fire mode one, flame thrower energized ... he..he..he..)










Kirim email ke