Punten, teu kabujeng di sundakeun. Nembe pisan kapendak ide ngadamel seratan
dihandap. Tadina mah hoyong nungkulan acara di Unpad. Tapi travel cipagantina
pinuh pisan anu angkat tabuh 6 sareng tabuh tujuh ti Detos Depok sareng lenteng
Agung. Minangka paningeunganana kuring ngadamel tulisan di handap.
baktos,
mrachmatrawyani
_____________________________
Hari Senin pagi ini (31/01) Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung memberikan
gelar Doktor Honoris Causa kepada seniman Ajip Rosidi dalam suatu sidang
Terbuka
Senat Unpad dipimpin Rektor Prof.Dr. Ganjar Kurnia yang berlangsung di Kampus
Jalan Dipati Ukur Bandung. Dua tahun lalu, tepatnya 31 Januari 2009 Universitas
Indonesia juga memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada seniman Taufik
Ismail, dalam suatu sidang terbuka Senat UI yang digabung dengan upacara
wisuda,
dipimpin Rektor UI Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri.
Seperti suatu kebetulan, dua orang seniman mendapat gelar doktor dari dua
Universitas ternama di Indonesia pada tanggal yang sama namun selisih dua
tahun.
Ini bukan suatu kebetulan semata-mata, melainkan mulai tumbuhnya kesadaran di
lingkungan akademik (khususnya Departemen Pendidikan) akan pentingnya dan
besarnya sumbangan yang diberikan seorang pekerja seni bagi pembangunan
bangsa.
Seperti yang dikatakan Rektor UI saat memberikan gelar doktor kepada Taufik
Ismail. “Gelar doktor honoris causa tidak harus diberikan kepada orang-orang
yang pencapaian keilmuannya luar biasa, tetapi juga kepada orang-orang yang
luar
biasa dari segi karya dan pengabdiannya kepada bangsa dan Negara. Para pekerja
seni adalah para penegak panji-panji peradaban, orang-orang yang memberikan
inspirasi di bidangnya masing-masing yang berjuang membangun bangsa.”
Taufik Ismail , lahir 25 Juni 1935, menyelesaikan pendidikan dokter hewan dari
IPB tahun 1963 (dahulu bagian dari UI) pada awal kebangkitan Orde Baru dikenal
sebagai penulis puisi dalam kumpulan tulisan yang diberi judul “Benteng” dan
“Tirani.” Hingga sekarang masih aktif bergiat di bidang seni. Tahun 2003
mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Sementara Ajip Rosidi, lahir 31 Januari 1938, tidak selesai sekolah SMAnya
sejak
SMP sudah menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media nasional.
Peneliti dan penggiat budaya (khususnya Sunda) dan juga sempat menjadi Dosen
bahasa Indonesia di Jepang selama beberapa tahun. Bahkan sempat menjadi Staf
Ahli menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pergaulannya yang luas membuat dia
bisa diterima di berbagai kalangan, bahkan sempat diangkat pengurus Kesatuan
Aksi Sarjana Indonesia (KASI) Ketika Orde Lama akan tumbang. Tahun 1990
sebetulnya Unpad akan memberikan gelar doktor, tetapi terhambat karena ada
peraturan Menteri Pendidikan yang menyatakan gelar doktor honoris causa hanya
boleh diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan jenjang S1. Demikian
seperti yang diungkapkan dalam biografinya dalam buku yang diberi judul “Hidup
Tanpa Ijazah”.
Jaman sudah berubah, pemerintahan pun sudah berganti dari rezim Orde Baru
digantikan Rezim Orde Reformasi. Perubahan atau reformasipun tampaknya merambah
dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk juga dalam bidang pendidikan. Kini
orang tidak lagi terlalu terpaku kepada jenjang pendidikan seseorang untuk
meraih gelar akademik tertinggi. Salah satu yang dapat menikmatinya adalah Ajip
Rosidi. Mungkin orang pertama di Indonesia yang meraih gelar doktor yang
sekolah
menengahnya pun tidak selesai.