JP: " ... kentel ku ajaran budha/shinto ..."

Ari nu di luhur lain religius? Hehehe

2011/3/17 Jalak Pakuan <[email protected]>

>
>
> Foto eta mah foto ti keluarga biasa/cacahna Jepang. Jepang ningrat mah moal
> kitu. Religius henteuna mah asana urang Jepang mah teu mikir kadinya. Nu aya
> mah taat kana adat/budaya hasil pelakan pangawasa ti jaman Toyotomi
> diteruskeun ku shogunate, kentel ku ajaran budha/shinto.
>
> Makarya Mawa Raharja
>
>
>  ------------------------------
> *Dari:* Ki Hasan <[email protected]>
> *Kepada:* Ki Sunda <[email protected]>
> *Terkirim:* Rab, 16 Maret, 2011 18:26:04
> *Judul:* [kisunda] Religiusitas Urang Jepun?
>
>
>
> Nu kieu meureun nya nu disebut sikap religius teh:
>
> =======
> Ketangguhan Jepang Memukau Dunia
>
>  
> AP<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia#>
> Seorang perempuan memasak untuk keluarganya di depan rumah mereka yang
> hancur di Ishinomaki di Prefektur Miyagi.
> Rabu, 16 Maret 2011 | 07:39 WIB
> *Oleh*: *Pascal S Bin Saju *
>
> *KETANGGUHAN *Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus,
> yakni gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi
> internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya
> penjarahan menguatkan citra ”bangsa beradab”.
>
> Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan
> distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya.
> Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur
> laut, daerah yang terparah dilanda tsunami.
>
> Evakuasi korban tsunami berjalan seiring dengan evakuasi ribuan warga yang
> terancam terpapar radiasi nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
> Fukushima Daiichi, utara Tokyo. Prefektur Fukushima juga termasuk salah satu
> daerah korban gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat lalu.
>
> Televisi, media cetak, radio, dan situs berita *online *di seluruh dunia
> telah merilis bencana itu. Hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian
> serta momen dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi
> detik, sejak awal gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”.
>
> Jepang lalu mengabarkan drama amuk alam yang menyebabkan lebih dari 10.000
> orang tewas dan 10.000 orang hilang itu ke seluruh dunia. Meski sempat
> panik, Jepang dengan cepat bangkit, mengerahkan seluruh kekuatannya, mulai
> dari tentara, kapal, hingga pesawat terbang. Jumlah tentara dinaikkan dua
> kali lipat dari 51.000 personel menjadi 100.000 personel. Sebanyak 145 dari
> 170 rumah sakit di seluruh daerah bencana beroperasi penuh.
>
> Sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang
> ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para
> korban sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat
> pascabencana, Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela
> lainnya.
>
> *Associated Press* melukiskan, warga Jepang tenang menghadapi persoalan
> yang ditimbulkan bencana. Sisi lain yang diajarkan masyarakat Jepang ialah
> sikap sabar meski mereka diliputi dukacita akibat kehilangan orang-orang
> terkasih. Mereka sabar menanti bantuan. Pemerintah bisa lebih tenang untuk
> fokus pada evakuasi, penyelamatan, dan distribusi logistik.
>
> Bencana terbaru adalah bahaya radiasi nuklir akibat tiga ledakan dan
> kebakaran pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Dari enam
> reaktor nuklir, empat di antaranya telah bermasalah. Jepang belajar dari
> kasus Chernobyl dan membangun sistem PLTN-nya lebih baik. Pemerintah
> menjamin tak akan ada insiden Chernobyl di Jepang.
>
> ”Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengambil langkah-langkah selama belum
> ada permintaan. Jepang adalah negara paling siap di dunia (menghadapi
> bencana),” kata Elisabeth Byrs, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi
> Urusan Kemanusiaan (OCHA), kepada *Reuters*.
>
> Byrs melanjutkan, ”Jepang menanggapi tiga darurat sekaligus, yakni gempa,
> tsunami, dan ancaman nuklir, dan melakukannya dengan sangat baik.”
>
> Para *blogger *dan pengguna situs jejaring sosial berbahasa Inggris memuji
> Jepang sebagai bangsa yang tabah (*stoic*) dan bertanya-tanya tentang
> kemampuan bangsa lain, terutama di Barat, jika diguncang tiga bencana besar
> sekaligus. Mereka memuji Jepang adalah sebuah bangsa yang hebat, kuat, dan
> beretika.
>
> Profesor Harvard University, Joseph Nye, mengatakan, bencana telah
> melahirkan Jepang sebagai bangsa *soft power*. Istilah itu diciptakannya
> untuk melukiskan Jepang mencapai tujuannya dengan tampil lebih menarik bagi
> bangsa lain.
>
> Saat bencana dan tragedi kemanusiaan mengundang simpati dari dunia Jepang,
> citra negara yang tertimpa bencana jarang mendapat keuntungan dari bencana
> tersebut. Pakistan, misalnya, menerima bantuan AS dan negara lain saat
> dilanda banjir bandang tahun lalu. Namun, bantuan individu sangat sedikit,
> yang disebabkan citra negeri itu di mata dunia. China dan Haiti juga
> menghadapi kritik atas penanganan gempa bumi tahun 2008 dan 2009.
>
> Menghadapi kebutuhan akan dana rekonstruksi skala besar, Jepang masih
> menimbang tawaran internasional. ”Meski dilanda tragedi dahsyat, peristiwa
> menyedihkan, ada fitur-fitur yang sangat menarik dari Jepang,” kata Nye
> kepada *AFP*.
>
> ”Terlalu dini untuk memprediksi apakah mereka berhasil memulihkan ekonomi.
> Tetapi, dilihat dari jauh, rakyat Jepang memperlihatkan ketabahan saat
> krisis. Hal ini berbicara banyak soal Jepang di masa depan,” kata Wakil
> Direktur Center for Strategic and International Studies Nicholas Szechenyi.
>
> *Dapatkan artikel ini di URL:*
>
> http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia
>
>

Kirim email ke