Tah eta khasna nihon jin teh, kultur/budaya ditapelkeun ku penguasa didinya aya peran pendeta nu mere niley2 shinto/budha. Mungkin eta nu disebut shinto/budha tos nyerep na budayana jadi malah hese mun rek teleg2 disebut religius...
Makarya Mawa Raharja ________________________________ Dari: Ki Hasan <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kam, 17 Maret, 2011 10:32:34 Judul: Re: [kisunda] Religiusitas Urang Jepun? JP: " ... kentel ku ajaran budha/shinto ..." Ari nu di luhur lain religius? Hehehe 2011/3/17 Jalak Pakuan <[email protected]> >Foto eta mah foto ti keluarga biasa/cacahna Jepang. Jepang ningrat mah moal >kitu. Religius henteuna mah asana urang Jepang mah teu mikir kadinya. Nu aya >mah >taat kana adat/budaya hasil pelakan pangawasa ti jaman Toyotomi diteruskeun ku >shogunate, kentel ku ajaran budha/shinto. > >Makarya Mawa Raharja > > > > > ________________________________ Dari: Ki Hasan <[email protected]> >Kepada: Ki Sunda <[email protected]> >Terkirim: Rab, 16 Maret, 2011 18:26:04 >Judul: [kisunda] Religiusitas Urang Jepun? > > > >Nu kieu meureun nya nu disebut sikap religius teh: > >======= > >Ketangguhan Jepang Memukau Dunia > > > AP >Seorang perempuan memasak untuk keluarganya di depan rumah mereka yang hancur >di >Ishinomaki di Prefektur Miyagi. > >Rabu, 16 Maret 2011 | 07:39 WIB >Oleh: Pascal S Bin Saju >KETANGGUHAN Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni >gempa >bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi internasional >Jepang >sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya penjarahan menguatkan >citra >”bangsa beradab”. >Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan distribusi >bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya. Seluruh kekuatan >dan >sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur laut, daerah yang terparah >dilanda tsunami. >Evakuasi korban tsunami berjalan seiring dengan evakuasi ribuan warga yang >terancam terpapar radiasi nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) >Fukushima Daiichi, utara Tokyo. Prefektur Fukushima juga termasuk salah satu >daerah korban gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat lalu. >Televisi, media cetak, radio, dan situs berita online di seluruh dunia telah >merilis bencana itu. Hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian serta momen >dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi detik, sejak awal >gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”. >Jepang lalu mengabarkan drama amuk alam yang menyebabkan lebih dari 10.000 >orang >tewas dan 10.000 orang hilang itu ke seluruh dunia. Meski sempat panik, Jepang >dengan cepat bangkit, mengerahkan seluruh kekuatannya, mulai dari tentara, >kapal, hingga pesawat terbang. Jumlah tentara dinaikkan dua kali lipat dari >51.000 personel menjadi 100.000 personel. Sebanyak 145 dari 170 rumah sakit di >seluruh daerah bencana beroperasi penuh. >Sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang >ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para >korban >sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat >pascabencana, >Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela lainnya. >Associated Press melukiskan, warga Jepang tenang menghadapi persoalan yang >ditimbulkan bencana. Sisi lain yang diajarkan masyarakat Jepang ialah sikap >sabar meski mereka diliputi dukacita akibat kehilangan orang-orang terkasih. >Mereka sabar menanti bantuan. Pemerintah bisa lebih tenang untuk fokus pada >evakuasi, penyelamatan, dan distribusi logistik. >Bencana terbaru adalah bahaya radiasi nuklir akibat tiga ledakan dan kebakaran >pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Dari enam reaktor >nuklir, empat di antaranya telah bermasalah. Jepang belajar dari kasus >Chernobyl >dan membangun sistem PLTN-nya lebih baik. Pemerintah menjamin tak akan ada >insiden Chernobyl di Jepang. >”Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengambil langkah-langkah selama belum ada >permintaan. Jepang adalah negara paling siap di dunia (menghadapi bencana),” >kata Elisabeth Byrs, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan >Kemanusiaan >(OCHA), kepada Reuters. >Byrs melanjutkan, ”Jepang menanggapi tiga darurat sekaligus, yakni gempa, >tsunami, dan ancaman nuklir, dan melakukannya dengan sangat baik.” >Para blogger dan pengguna situs jejaring sosial berbahasa Inggris memuji >Jepang >sebagai bangsa yang tabah (stoic) dan bertanya-tanya tentang kemampuan bangsa >lain, terutama di Barat, jika diguncang tiga bencana besar sekaligus. Mereka >memuji Jepang adalah sebuah bangsa yang hebat, kuat, dan beretika. >Profesor Harvard University, Joseph Nye, mengatakan, bencana telah melahirkan >Jepang sebagai bangsa soft power. Istilah itu diciptakannya untuk melukiskan >Jepang mencapai tujuannya dengan tampil lebih menarik bagi bangsa lain. >Saat bencana dan tragedi kemanusiaan mengundang simpati dari dunia Jepang, >citra >negara yang tertimpa bencana jarang mendapat keuntungan dari bencana tersebut. >Pakistan, misalnya, menerima bantuan AS dan negara lain saat dilanda banjir >bandang tahun lalu. Namun, bantuan individu sangat sedikit, yang disebabkan >citra negeri itu di mata dunia. China dan Haiti juga menghadapi kritik atas >penanganan gempa bumi tahun 2008 dan 2009. >Menghadapi kebutuhan akan dana rekonstruksi skala besar, Jepang masih >menimbang >tawaran internasional. ”Meski dilanda tragedi dahsyat, peristiwa menyedihkan, >ada fitur-fitur yang sangat menarik dari Jepang,” kata Nye kepada AFP. >”Terlalu dini untuk memprediksi apakah mereka berhasil memulihkan ekonomi. >Tetapi, dilihat dari jauh, rakyat Jepang memperlihatkan ketabahan saat krisis. >Hal ini berbicara banyak soal Jepang di masa depan,” kata Wakil Direktur >Center >for Strategic and International Studies Nicholas Szechenyi. > >Dapatkan artikel ini di URL: >http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia > >
