Ari masih pahibut parebut urusan eusi beuteung jeung imah mah boro-boro kaburu ngurus banda samodel titinggal sajarah. Tingal wae, para pamimpinna lain ngurus rahayat, tapi sibuk ngatur koalisi sangkan ngareugreugkeun dirina. Sawatara eta, harta karun titinggal luluhur lus-les hiji hiji laleungitan kalabur ka nagri anu geus merhatikeun kasajahtraan rahayatna.
Kudu aya gerakan rahayat sangkan eta banda-banda sajarah teh kapiara. Kumaha carana mangsa keur sakieu weritna? Cikan sugan aya anu boga ideu leuwih anteb? manar 2011/4/20 Gunawan Yusuf <[email protected]> > > > Benda Cagar Budaya di Bogor tak Terurus > Selasa, 19/04/2011 - 18:16 > > Seorang warga Empang menunjukkan benda cagar budaya Batu Dakon yang berada > tepat di samping rumahnya, Gg.Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor > Selatan, Kota Bogor, Selasa (19/4). Sejumlah benda cagar budaya di Kota > Bogor tidak terawat dan memprihatinkan sehingga dikhawatirkan akan hilang > atau punah tergerus pembangunan. * > > BOGOR, (PRLM).-Sejumlah benda cagar budaya yang ada di Kota Bogor > terbengkalai dan tidak terawat sehingga terancan hilang atau punah karena > tergerus pembangunan yang kian marak. Padahal, Kota Bogor merupakan kota > yang kaya akan prasasti bersejarah. > > Sejumlah benda cagar budaya yang tidak terurus dan kondisinya > memprihatinkan berdasarkan pemantauan "PRLM", Selasa (19/4) misalnya Batu > Dakon di wilayah Empang, Prasasti Batu Tulis Jln. Batu Tulis, serta bangunan > punden berundak di Kelurahan Pasir Jaya. Hampir seluruh benda cagar budaya > ini berlokasi di tengah permukiman penduduk yang padat. Bahkan, > keberadaannya seakan tergusur oleh perumahan. Selain itu, beberapa di > antaranya berlokasi di tanah bukan milik Pemkot Bogor. > > Salah seorang warga Gg. Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor > Selatan yang rumahnya dekat dengan benda cagar budaya Batu Dakon, Dani (30), > petugas yang datang ke lokasi untuk mengecek kondisi benda cagar budaya > sangat jarang. "Ada beberapa kali ke sini. Tapi hanya untuk memasang papan > nama, sekitar tiga bulan yang lalu. Selain itu ada juga orang Pemkot Bogor > yang datang, tapi jarang yang membersihkan lokasi cagar budaya," ungkap Dani > yang sering merawat cagar budaya Batu Dakon. > > Dikatakan Dani, beberapa waktu lalu terlontar keinginan Pemkot untuk > membersihkan lokasi cagar budaya agar lebih layak. Namun, hingga saat ini > hal itu belum terrealisasi. Beberapa kali, sejumlah orang dari beberapa > daerah sering datang ke lokasi, bahkan ada pula yang sampai menginap. > "Kurang tahu juga buat urusan apa. Mungkin bersemedi atau ngapain, yang > jelas mereka meminta izin buat nginep di sini," lanjut Dani. > > Menurut Dani, seandainya benda cagar budaya ini dirawat oleh Pemkot Bogor, > maka kemungkinan tidak akan disalahgunakan oleh orang luar. > > Saat ini, benda cagar budaya ini sangat memprihatinkan. Batu jenis andesit > dengan sembilan lubang (yang tersisa) seperti mainan dakon (congklak) ini > terletak sangat mepet dengan rumah warga. Di sekitarnya banyak tanaman yang > tidak terurus. Bahkan, sejumlah barang bekas juga diletakkan di sekitar > lokasi cagar budaya sehingga dari luar tidak kelihatan jika di balik tembok > tersebut ada peninggalan prasejarah. Berdasarkan sejumlah literatur, batu > dakon ini merupakan peninggalan masa prasejarah sebagai media pada upacara > adat masyarakat pada masa itu. > > Lokasinya yang berada persis di tengah permukiman penduduk dan berada di > lahan milik PT KA juga kemungkinan menyulitkan pengunjung menemukan saksi > sejarah ini. Hal ini membuat turis lokal terlebih asing banyak yang tidak > mengetahui keberadaan cagar budaya ini sehingga tak sulit menarik perhatian > wisatawan, selain kurang dipublikasikan. > > Setidaknya, pengunjung harus masuk ke dalam gang sempit berukuran 1,5 meter > sejauh hampir 300 meter. Lokasinya juga tertutup oleh bangunan rumah yang > ada di sekitar lokasi cagar budaya. "Jangankan turis asing, wisatawan lokal > mungkin tidak tahu ada Batu Dakon di daerah ini. Tempatnya tidak terawat dan > kumuh. Terakhir ada orang yang datang untuk memasang plang, sekitar tiga > bulan lalu. Setelah itu, tidak ada yang datang lagi," lanjut Dani. > > Budayawan Kota Bogor, Eman Sulaeman sempat mengatakan jika Kota Bogor > termasuk kota yang kaya akan situs purbakala. Seharusnya, situs purbakala > ini menjadi aset sekaligus saksi sejarah Bogor.Hanya saja, sampai saat ini > upaya penyelamatan benda cagar budaya belum terlihat dilakukan oleh Pemkot > Bogor. > > Berdasarkan hasil survey bersama dengan tim arkeolog di sejumlah wilayah, > ditemukan sekitar 17 situs purbakala di Kota Bogor. Hanya saja, hampir > semuanya dalam kondisi yang memprihatinkan.Dikhawatirkan, benda cagar budaya > ini akan hilang akibat maraknya pembangunan. > > Anggota Komisi D, Yasir A Liputo mengatakan penyelamatan atau pelestarian > situs belum menjadi prioritas. Dengan demikian, anggaran untuk situs-situs > dan hal-hal yang berkaitan dengan pariwisata dan budaya masih sangat minim. > "Anggarannya sangat sedikit, sekitar Rp 60 juta pada 2010. Dengan anggaran > itu, dinas tak akan bisa bekerja maksimal. Seharusnya anggaran untuk budaya > dan pariwisata seperti ini minimal di atas Rp 200 sampai Rp 300 juta," > katanya. (A-155/kur)*** > > >
