Benda Cagar Budaya di Bogor tak Terurus
Selasa, 19/04/2011 - 18:16

Seorang warga Empang menunjukkan benda cagar budaya Batu Dakon yang berada
tepat di samping rumahnya, Gg.Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor
Selatan, Kota Bogor, Selasa (19/4). Sejumlah benda cagar budaya di Kota
Bogor tidak terawat dan memprihatinkan sehingga dikhawatirkan akan hilang
atau punah tergerus pembangunan. *

BOGOR, (PRLM).-Sejumlah benda cagar budaya yang ada di Kota Bogor
terbengkalai dan tidak terawat sehingga terancan hilang atau punah karena
tergerus pembangunan yang kian marak. Padahal, Kota Bogor merupakan kota
yang kaya akan prasasti bersejarah.

Sejumlah benda cagar budaya yang tidak terurus dan kondisinya memprihatinkan
berdasarkan pemantauan "PRLM", Selasa (19/4) misalnya Batu Dakon di wilayah
Empang, Prasasti Batu Tulis Jln. Batu Tulis, serta bangunan punden berundak
di Kelurahan Pasir Jaya. Hampir seluruh benda cagar budaya ini berlokasi di
tengah permukiman penduduk yang padat. Bahkan, keberadaannya seakan tergusur
oleh perumahan. Selain itu, beberapa di antaranya berlokasi di tanah bukan
milik Pemkot Bogor.

Salah seorang warga Gg. Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor
Selatan yang rumahnya dekat dengan benda cagar budaya Batu Dakon, Dani (30),
petugas yang datang ke lokasi untuk mengecek kondisi benda cagar budaya
sangat jarang. "Ada beberapa kali ke sini. Tapi hanya untuk memasang papan
nama, sekitar tiga bulan yang lalu. Selain itu ada juga orang Pemkot Bogor
yang datang, tapi jarang yang membersihkan lokasi cagar budaya," ungkap Dani
yang sering merawat cagar budaya Batu Dakon.

Dikatakan Dani, beberapa waktu lalu terlontar keinginan Pemkot untuk
membersihkan lokasi cagar budaya agar lebih layak. Namun, hingga saat ini
hal itu belum terrealisasi. Beberapa kali, sejumlah orang dari beberapa
daerah sering datang ke lokasi, bahkan ada pula yang sampai menginap.
"Kurang tahu juga buat urusan apa. Mungkin bersemedi atau ngapain, yang
jelas mereka meminta izin buat nginep di sini," lanjut Dani.

Menurut Dani, seandainya benda cagar budaya ini dirawat oleh Pemkot Bogor,
maka kemungkinan tidak akan disalahgunakan oleh orang luar.

Saat ini, benda cagar budaya ini sangat memprihatinkan. Batu jenis andesit
dengan sembilan lubang (yang tersisa) seperti mainan dakon (congklak) ini
terletak sangat mepet dengan rumah warga. Di sekitarnya banyak tanaman yang
tidak terurus. Bahkan, sejumlah barang bekas juga diletakkan di sekitar
lokasi cagar budaya sehingga dari luar tidak kelihatan jika di balik tembok
tersebut ada peninggalan prasejarah. Berdasarkan sejumlah literatur, batu
dakon ini merupakan peninggalan masa prasejarah sebagai media pada upacara
adat masyarakat pada masa itu.

Lokasinya yang berada persis di tengah permukiman penduduk dan berada di
lahan milik PT KA juga kemungkinan menyulitkan pengunjung menemukan saksi
sejarah ini. Hal ini membuat turis lokal terlebih asing banyak yang tidak
mengetahui keberadaan cagar budaya ini sehingga tak sulit menarik perhatian
wisatawan, selain kurang dipublikasikan.

Setidaknya, pengunjung harus masuk ke dalam gang sempit berukuran 1,5 meter
sejauh hampir 300 meter. Lokasinya juga tertutup oleh bangunan rumah yang
ada di sekitar lokasi cagar budaya. "Jangankan turis asing, wisatawan lokal
mungkin tidak tahu ada Batu Dakon di daerah ini. Tempatnya tidak terawat dan
kumuh. Terakhir ada orang yang datang untuk memasang plang, sekitar tiga
bulan lalu. Setelah itu, tidak ada yang datang lagi," lanjut Dani.

Budayawan Kota Bogor, Eman Sulaeman sempat mengatakan jika Kota Bogor
termasuk kota yang kaya akan situs purbakala. Seharusnya, situs purbakala
ini menjadi aset sekaligus saksi sejarah Bogor.Hanya saja, sampai saat ini
upaya penyelamatan benda cagar budaya belum terlihat dilakukan oleh Pemkot
Bogor.

Berdasarkan hasil survey bersama dengan tim arkeolog di sejumlah wilayah,
ditemukan sekitar 17 situs purbakala di Kota Bogor. Hanya saja, hampir
semuanya dalam kondisi yang memprihatinkan.Dikhawatirkan, benda cagar budaya
ini akan hilang akibat maraknya pembangunan.

Anggota Komisi D, Yasir A Liputo mengatakan penyelamatan atau pelestarian
situs belum menjadi prioritas. Dengan demikian, anggaran untuk situs-situs
dan hal-hal yang berkaitan dengan pariwisata dan budaya masih sangat minim.
"Anggarannya sangat sedikit, sekitar Rp 60 juta pada 2010. Dengan anggaran
itu, dinas tak akan bisa bekerja maksimal. Seharusnya anggaran untuk budaya
dan pariwisata seperti ini minimal di atas Rp 200 sampai Rp 300 juta,"
katanya. (A-155/kur)***

Kirim email ke