Mang, kumaha tah mun cara ku samodel rereongan sarupi? 

Sigana mah rada mending manawi, tibatan heunteu teuing tur ngantos
kucuran dana ti pamarentah mah, 

tapi teuteup kudu saimbang kana I/O na, nyaeta aya timbal balik ka
masyarakatna oge...InsyaAlloh geura ngajadi najan saeutik heula.

 

Ulah dugi ka siga daerah wisata nu liana dimana tos ka wentar tur jadi
daerah nu nguntungkeun, pada nyoro tur dipahibutkeun pikeun kauntungan
peribadi ku alesan ieu mah milik nagara. Sae J Cagh Akh....

 

Baktos.
Sulkan, M



 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of oman abdurahman
Sent: Wednesday, April 20, 2011 8:31 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] URANG BOGOR kumaha yeuh .............

 

  

Ari masih pahibut parebut urusan eusi beuteung jeung imah mah boro-boro
kaburu ngurus banda samodel titinggal sajarah. Tingal wae, para
pamimpinna lain ngurus rahayat, tapi sibuk ngatur koalisi sangkan
ngareugreugkeun dirina. Sawatara eta, harta karun titinggal luluhur
lus-les hiji hiji laleungitan kalabur ka nagri anu geus merhatikeun
kasajahtraan rahayatna.

Kudu aya gerakan rahayat sangkan eta banda-banda sajarah teh kapiara.
Kumaha carana mangsa keur sakieu weritna? Cikan sugan aya anu boga ideu
leuwih anteb?

manar

2011/4/20 Gunawan Yusuf <[email protected]>

  

Benda Cagar Budaya di Bogor tak Terurus
Selasa, 19/04/2011 - 18:16

Seorang warga Empang menunjukkan benda cagar budaya Batu Dakon yang
berada tepat di samping rumahnya, Gg.Raden Saleh, Kelurahan Empang,
Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Selasa (19/4). Sejumlah benda cagar
budaya di Kota Bogor tidak terawat dan memprihatinkan sehingga
dikhawatirkan akan hilang atau punah tergerus pembangunan. *

BOGOR, (PRLM).-Sejumlah benda cagar budaya yang ada di Kota Bogor
terbengkalai dan tidak terawat sehingga terancan hilang atau punah
karena tergerus pembangunan yang kian marak. Padahal, Kota Bogor
merupakan kota yang kaya akan prasasti bersejarah.

Sejumlah benda cagar budaya yang tidak terurus dan kondisinya
memprihatinkan berdasarkan pemantauan "PRLM", Selasa (19/4) misalnya
Batu Dakon di wilayah Empang, Prasasti Batu Tulis Jln. Batu Tulis, serta
bangunan punden berundak di Kelurahan Pasir Jaya. Hampir seluruh benda
cagar budaya ini berlokasi di tengah permukiman penduduk yang padat.
Bahkan, keberadaannya seakan tergusur oleh perumahan. Selain itu,
beberapa di antaranya berlokasi di tanah bukan milik Pemkot Bogor.

Salah seorang warga Gg. Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor
Selatan yang rumahnya dekat dengan benda cagar budaya Batu Dakon, Dani
(30), petugas yang datang ke lokasi untuk mengecek kondisi benda cagar
budaya sangat jarang. "Ada beberapa kali ke sini. Tapi hanya untuk
memasang papan nama, sekitar tiga bulan yang lalu. Selain itu ada juga
orang Pemkot Bogor yang datang, tapi jarang yang membersihkan lokasi
cagar budaya," ungkap Dani yang sering merawat cagar budaya Batu Dakon.

Dikatakan Dani, beberapa waktu lalu terlontar keinginan Pemkot untuk
membersihkan lokasi cagar budaya agar lebih layak. Namun, hingga saat
ini hal itu belum terrealisasi. Beberapa kali, sejumlah orang dari
beberapa daerah sering datang ke lokasi, bahkan ada pula yang sampai
menginap. "Kurang tahu juga buat urusan apa. Mungkin bersemedi atau
ngapain, yang jelas mereka meminta izin buat nginep di sini," lanjut
Dani.

Menurut Dani, seandainya benda cagar budaya ini dirawat oleh Pemkot
Bogor, maka kemungkinan tidak akan disalahgunakan oleh orang luar.

Saat ini, benda cagar budaya ini sangat memprihatinkan. Batu jenis
andesit dengan sembilan lubang (yang tersisa) seperti mainan dakon
(congklak) ini terletak sangat mepet dengan rumah warga. Di sekitarnya
banyak tanaman yang tidak terurus. Bahkan, sejumlah barang bekas juga
diletakkan di sekitar lokasi cagar budaya sehingga dari luar tidak
kelihatan jika di balik tembok tersebut ada peninggalan prasejarah.
Berdasarkan sejumlah literatur, batu dakon ini merupakan peninggalan
masa prasejarah sebagai media pada upacara adat masyarakat pada masa
itu.

Lokasinya yang berada persis di tengah permukiman penduduk dan berada di
lahan milik PT KA juga kemungkinan menyulitkan pengunjung menemukan
saksi sejarah ini. Hal ini membuat turis lokal terlebih asing banyak
yang tidak mengetahui keberadaan cagar budaya ini sehingga tak sulit
menarik perhatian wisatawan, selain kurang dipublikasikan.

Setidaknya, pengunjung harus masuk ke dalam gang sempit berukuran 1,5
meter sejauh hampir 300 meter. Lokasinya juga tertutup oleh bangunan
rumah yang ada di sekitar lokasi cagar budaya. "Jangankan turis asing,
wisatawan lokal mungkin tidak tahu ada Batu Dakon di daerah ini.
Tempatnya tidak terawat dan kumuh. Terakhir ada orang yang datang untuk
memasang plang, sekitar tiga bulan lalu. Setelah itu, tidak ada yang
datang lagi," lanjut Dani.

Budayawan Kota Bogor, Eman Sulaeman sempat mengatakan jika Kota Bogor
termasuk kota yang kaya akan situs purbakala. Seharusnya, situs
purbakala ini menjadi aset sekaligus saksi sejarah Bogor.Hanya saja,
sampai saat ini upaya penyelamatan benda cagar budaya belum terlihat
dilakukan oleh Pemkot Bogor.

Berdasarkan hasil survey bersama dengan tim arkeolog di sejumlah
wilayah, ditemukan sekitar 17 situs purbakala di Kota Bogor. Hanya saja,
hampir semuanya dalam kondisi yang memprihatinkan.Dikhawatirkan, benda
cagar budaya ini akan hilang akibat maraknya pembangunan.

Anggota Komisi D, Yasir A Liputo mengatakan penyelamatan atau
pelestarian situs belum menjadi prioritas. Dengan demikian, anggaran
untuk situs-situs dan hal-hal yang berkaitan dengan pariwisata dan
budaya masih sangat minim. "Anggarannya sangat sedikit, sekitar Rp 60
juta pada 2010. Dengan anggaran itu, dinas tak akan bisa bekerja
maksimal. Seharusnya anggaran untuk budaya dan pariwisata seperti ini
minimal di atas Rp 200 sampai Rp 300 juta," katanya. (A-155/kur)***

 



Kirim email ke