teu walakaya
kamari gn tangkuban parahu, kawasan gn sunda digadabah ku developer
kamari hak adat ulayat tanah ka gereh ku ptp, perhutani jeung hph di sakabeh
propinsi
kamari sakola raruntuh
kamari anggota DPR maca situs porno kamari anggota dpr karorupsi
kamari gubernur2 pada  korupsi
kamari maling sampeu dibui tujuh bulan
kamari galejra, masigit dirogahala
kamari aki2 merkosa incuna
kamari hileud bulu saba kota, saba desa
kamari tawuran antar desa
kamari tawuran antar suporter
kamari aya lini gede
kamari usum geus teu paruguh di wayah
kamari...?..... poho deui bakat ku loba teuin kajadian
kamari jeung kiwari nya eta keneh
*kiwari ngancik bihari?*
hartina aya sejarah ber ulang, jadi mun ngarti sajaraha teu mudu kaget
sok sakumaha urg adug lajer, da geus katangtuan ti dituna mudu kitu
kumaha tarekah urang. /// ???
angger we , *kudu sadia mapag, make talenan sakujur urang SAKADADA SAKADUGA.
*
*nu rek milu hayu, anu moal ? teu kudu dipaksa. egp.*
bral geura
miang....................................................................................................
cag!
hn*R3M


2011/4/19 A Gunawan <[email protected]>

>
>
> Mendak seratan ieu dina Facebook. Duka leres henteuna, manawi aya nu
> langkung terang? Punten teu disundakeun.
>
> Baktos,
> Adit
>
>
>
> BADUY: TERSEOK DI MANDALA SUNDA
>
> Chye Retty Isnendes
>
>
>
>
> Negeri yang luhur ini
>
> negeri yang subur ini
>
> Kakekku dulu memegang bambu
>
> berani berjuang, Kawan
>
>
>
> Yang dulu dijajah orang
>
> yang dulu diinjak orang
>
> Darah mengalir untuk mengukir
>
> di batu nisan mereka
>
>
>
> Jangan kira selesai sekarang
>
> masih lama kita harus berjuang
>
> terlalu pagi untuk bernyanyi
>
> terlalu pagi untuk tersenyum
>
>
>
> Mari berdoa, Kawan
>
> mari usaha, Kawan
>
> Bapak menolong
>
> Bapak menyokong
>
> menjinakkan Raja Zalim dunia...
>
>
>
> *Lagu JAMAL MIRDAD era 80-an, sayang saya lupa apa judulnya.*
>
>
>
> Sengaja saya kutip lagu Jamal Mirdad yang saya tidak tahu apa judulnya dan
> saya ubah sedikit kata-katanya –Raja Zalim dunia, seharusnya Raja Guru di
> Asia. Lagu ini menurut hemat saya masih sangat kontekstual dengan kondisi
> kekinian Indonesia, khususnya Jawa Barat, dan khususnya lagi Baduy yang kini
> dirundung malang. Saya ingin membangkitkan darah para pembaca supaya
> bergolak mencermati keadaan Baduy dan Jawa Barat, setidaknya ikut memikirkan
> atau simpati dan empatipun tak apalah. Tentu saja, saya sangat bersyukur
> apabila pembaca tergerak hati untuk bertindak apapun yang kita bisa lakukan
> untuk menolong *dulur urang *di sana di suku bukit Gunung Baduy di Leuwi
> Damar di Kabupaten Lebak.
>
>
>
> *Pengalaman ke Baduy*
>
>
>
> Tahun 1992, Anis Djati Sunda alm. dalam pendahuluan makalahnya menyebutkan
> bahwa: 1)  telah banyak tulisan ihwal *urang Kanekes *ini, 2) telah banyak
> pula kegiatan saresehan, seminar, dan lain sebagainya yang perbincangkan
> Baduy, dan 3) frekuensi pengunjung semakin meningkat. Hal ini
> mengindikasikan bahwa masyarakat Baduy memiiki daya tarik tersendiri dan
> mempunyai misteri yang sangat eksotik.
>
>
>
> Tahun 1996, saya dan kawan-kawan satu angkatan (1993) pernah berkunjung
> pula ke Baduy untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Morfologi dan Linguistik
> Historik Komparatif. Dengan dikawal Akang-Teteh yang dianggap berpengalaman
> menaklukan medan (anggota pencinta alam Himpunan Mahasiswa Jurusan: Pancak
> Suji, di antaranya Kang Hadiayanto, Kang Endin, Teh Yanti, dll.), kami
> sampailah ke Baduy Luar (Panamping). Dari 35 mahasiswa, hanya 6 orang yang
> bertahan dan kuat berjalan sampai ke Baduy Jero (itupun hanya sampai ke Kedu
> Ketug yang termasuk pada Tangtu Cikertawana). Jumlah seluruh rombongan
> adalah 10 orang (satu orang dosen pendamping dan tiga orang kakak senior).
>
>
>
> Bukan hanya medan yang luar biasa tidak kami akrabi (karena tidak biasa
> berjalan sejauh itu --bilangan enam gunung kecil: *pasir*), tapi juga
> cuaca yang pada waktu itu adalah musim penghujan: Desember, juga Jaro Pulung
> –Jaro Baduy Panamping sudah meninggal tahun 2000an, ketika itu memperingatka
> bahwa tidak boleh berombongan besar. Saya yang termasuk dari 10 orang
> tersebut merasa bersyukur bisa mengunjungi *dulur *di sana.
>
>
>
> Dari perjalanan tersebut saya mencermati, bahwa: (1) tahun 1996 keadaan
> Baduy masih alami –saya tidak tahu sekarang karena kagiridig itu, (2)
> kealamiannya karena didukung faktor jalan yang sangat berat dilalui
> –Ciboleger masih jalan kerikil dan sebagian tanah yang bila diguyur hujan
> sampai *nyeblok* kaki kami *semet tuur.* Hal tersebut saya pandang sebagai
> sesuatu yang menguntungkan bagi Baduy karena beratnya perjalanan kaki
> menembusi jalan Ciboleger menjadikan akses berat bagi mereka yang tidak
> punya mental baja.
>
>
>
> Tetapi tahun 1999, jalan Ciboleger dihotmik dengan mulus dan lebarnya.
> Entah apa yang ada dalam pikiran pemerintah kabupaten dan provinsi ketika
> proyek itu dilakukan? Mungkin alasannya membuka akses daerah tertinggal atau
> mengatasnamakan pembangunan atau *piduiteun* *nu* *teu kawadahan *dari
> pengunjung (turis dommestik dan asing?) dan pialang-pialang modal? Entahlah,
> saya yang pada waktu itu mahasiswa S1 hanya *ngagerentes* dalam hati: *eum
> karunya teuing urang Baduy*. Entah kekhawatiran apa yang melanda hati
> saya, tak terkatakan...
>
>
>
> *Tulungan Kami*
>
>
>
> 15 taun dari waktu itu, kekhawatiran itu kini berjawab.
>
>
>
> Seminggu sudah hati saya tidak tentram memikirkan Baduy. Hal itu karena
> Derry Hudaya mahasiswa Sunda UPI yang juga pendatang potensial di dunia
> sastra Sunda memberitakan bahwa *Urang Baduy *meminta tulung. Data-datanya
> dia dapatkan dari mulut seorang Baduy sendiri yang datang berjualan membawa
> aneka kerajinan tangan pada acara mahasiswa Sunda ‘Riksa Budaya’ tanggal 4-9
> April di PKM UPI.
>
>
>
> *Gera hudang ulah tiris bae, lawan ku seuneu, seuneu nu tiis. Gera
> tulungan, Baduy geus gareheng. Lain ku panas lain ku usum halodo...*
>
> Demikian *dulur kita* itu berbisik meminta tolong sebelum pulang
> meninggalkan PKM tanggal 10 April. Tentu saja setelah dia menginformasikan
> sejumlah data mengenai kegelisahannya menghadapi kondisi yang tidak tentu
> dan menakutkan. Betapa bisikan yang menyiratkan kepedihan hati dan
> kegelisahan yang luar bisa dari masyarakat yang selama ini kita yakini
> mereka tangguh dan pengkuh menjaga alam sekitarnya. Apakah para pembaca
> tetap tak bergeming dan tidak merasa kasihan dengan bisikan terdalam dari
> dulur kita tersebut?
>
>
>
> *kasadayana lamun bener daerah baduy ata (**eta) lembur urang, cing gera
> tulungan yen daerah atanapi lembur urang ges tereh aweh.. tulungan kami ges
> hampir te kuat ngekehan leweng jeng lembur... 12 April 2011 jam 11:24*
>
> Cobalah renungkan SMS yang datang dari *dulur urang* di atas. Apakah para
> pembaca masih mau ‘masa bodoh’ dan tidak tergerak hati menolong mereka. Hati
> saya meleleh ketika membacanya...
>
>
>
> *urang-urang kami tadi ngumpul nyaritakeun kumaha lembur urang..ges aya
> dei wae gunung nu dibitukeun nepi k disada blug beh.. tulung kami didie.
> sebarkeun sms iye, baduy ges haredangen, haredangen lain kuhalodo panas? 12
> April 2011 , 11:21*
>
> Masihkan belum percaya bahwa mereka meminta tolong?* lantaran dihurup ku
> kaayaan nu hese dilawanan ku urang Baduy yang serba diam dan eksotis? Naha
> rek diantep wae?* Selain sms di atas, masih ada data lain yang dibawa oleh
> orang Baduy, yang memang harus kita cermati, yaitu:
>
>    1. Adanya perusahaan minyak, entah tambang atau  penyulingan. Hal ini
>    sangat mengganggu mereka terutama menjadi polusi suara bagi ketentraman
>    Baduy (seperti dalam sms di atas).
>    2. Banyaknya orang asing yang masuk ke wilayah Baduy. Padahal orang
>    asing atau di luar agama Islam sangat *dipahing* dan dilarang masuk.
>    Orang Baduy tidak mengetahui dari pintu mana mereka masuk (baca juga
>    EKSPLOITASI BADUY di www.radarbanten.com ).
>    3. Rahasia-rahasia Baduy yang disimpan erat, sudah ada yang membukukan
>    malah disebarkan.
>    4. Setiap hari mereka  berkumpul tapi tidak bisa bertindak apapun dan
>    tidak bisa melakukan apapun.
>
> Menurut Cecep Burdansyah (melalui Derry Hudaya), eksploitasi ini sudah
> menjadi isu nasional. Akan tetapi *geuning *tidak ada penyelesaiannya atau
> sedikit saja solusi dan pencerahan bagi masyarakat Baduy. Dimana keberadaan
> WALHI atau LSM-LSM pembela lingkungan dan sosial-budaya? Dimana keberadaan
> masmedia Banten dan Jawa Barat? Atau masmedia internasional? Kita sudah
> tidak bisa mengharapkan anggota dewan, yang saya tidak tahu apa yang
> dikerjakannya, atau harus mengharapkan apa dari pemerintah Provinsi Banten
> dan Kabupaten Lebak untuk melindungi warganya, aset sumber daya alam, dan
> aset budayanya?
>
>
>
> Mari pikirkan cara menolong mereka karena orang Baduy tidak bisa
> mengkomunikasikan kegelisahan batin mereka dengan lantang atas apa yang
> terjadi berkaitan dengan keyakinan dan kearifan mereka. Jangan biarkan
> mereka terus menderita sedang kita terus merasa bahwa uga dan kepengkuhan
> akan menolong mereka.
>
>
>
> Mari secepatnya beraksi sebelum kehancuran alam dan kehancuran budaya Baduy
> melanda. Karena budaya masyarakat yang selaras dengan kehidupan alam
> sekitarnya semakin tidak dapat dipertahankan dan kemungkinan terbesarnya
> hilang atau punah jika tidak ada konservasi alam dan budaya bagi masyarakat
> Baduy. Padahal, keselarasan budaya dengan alam hanya akan mungkin terjadi
> apabila hutannya masih terjaga dan terpelihara. Bukankah itu kearifan lokal
> dan kearifan tradional yang kita gembar-gemborkan pada dunia bahwa Indonesia
> adalah negara berbudaya???***
>
>
>
> Keterangan: SMS yang datang adalah dari *urang Baduy asli* yang telah
> mempunyai HP dan telah melek aksara. Namun demikian, beliau ekstra hati-hati
> menggunakannya karena bisa dirampas jikalau ketahuan.* *
>
>
>
> Bandung, 16 April 2011
>
>  
>

Kirim email ke