KESEDERHANAAN PANTUN BUHUN PENUH MAKNA
Minggu, 28 Mar 2010 05:12:09| BRAGA25 | Dibaca 2692 kali
[image: KESEDERHANAAN PANTUN BUHUN PENUH MAKNA]
Sing inget ka nu jadi indung bapa / Nu jadi indung mah tunggul rahayu / Nu
jadi bapa mah tangkal darajat / Sing nyaah ka nu jadi istri / Da keur
ngadung mah siga keur perang sabil.


(Harus selalu ingat pada ibu dan ayah / ibu itu tiang penyangga keselamatan
/ ayah itu pohon penopang kehormatan / harus sayang pada istri / karena jika
sedang mengandung itu seperti sedang perang sabil.)

Barisan kalimat tersebut adalah penggalan pantun nasihat yang biasa
dimainkan dalam pementasan pantun buhun khas Subang yang dibawakan oleh dua
senimannya, yaitu Mang Ayi dan Wa Itok.

Mereka adalah dua seniman Sunda yang sedang gencar membangkitkan kembali
kesenian pantun buhun khas Subang.

Petikan kecapi oleh Mang Ayi mengawali pentas pantun buhun. Dilanjutkan oleh
puji-pujian dan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT dan juga para leluhur.

Pantun yang dibawakan, pada umumnya berisi nasihat bagi manusia agar
kehidupannya bisa lebih baik. Agar selalu ingat pada Tuhan dan leluhurnya.
Tidak jarang juga berisi kritik terhadap masalah sosial dan pemerintahan.

Tapi tidak jarang juga kedua seniman ini memasukan lelucon-lelucon yang
selalu ditimpali oleh para penonton dan biasanya berhasil membuat mereka
tertawa terbahak-bahak.

Menurut Mang Ayi, dulunya, pantun buhun sering digunakan untuk menyampaikan
informasi bagi masyarakat. Dan alur pantun buhun memang harus selalu terkait
dengan masalah sosial, negara, atapun pemerintahan.

"Kalau pantun yang dulu, nggak ada kawih, hanya pantun atau dongeng saja.
Biasanya buat menenangkan anak-anak yang sedang menangis ataupun
mengislamkan orang," kata Mang Ayi.

Bahkan menurut Wa Itok, permainan kecapi dan pantun ini sudah da sejak zaman
Rasul. "Dulu itu, Prabu Kiansantar pun dalam menyiarkan agama Islam di Jawa
Barat ini memakai kecapi sebagai alatnya." kata Wa Itok.

Menurut Mang Ayi, kesenian ini memang asli Sunda, tapi ia sendiri tidak tahu
asal pastinya. Yang pasti, menurut dia, di setiap daerah, pantun buhun
memiliki ciri khas.

"Khususnya untuk bagian rajah, itu beda-beda tiap daerah. Yang dimainkan ini
khas Subang, kalau khas Bandung beda lagi isi rajah dan cara
penyampaiannya," kata Mang Ayi.

Rajah atau pujian-pujian tersebutlah yang membedakan pantun Sunda buhun ini
dengan pantun-pantu Sunda yang ada sekarang. Rajah ini hukumnya wajib
dimainkan sebelum memulai pantun atau dongeng

"Fungsinya untuk menghubungkan dengan karuhun (leluhur). Bukan ingin berbuat
syirik dengan menyembah orang-orang yang sudah meninggal. Hanya supaya
anak-anak sekarang tidak lupa pada orang tua atau karuhunnya," tutur Mang
Ayi.

Bahasa dalam rajah merupakan bahasa kuno yang terkadang bahkan tidak bisa
dimengerti oleh akal pikiran manusia. "Saya sendiri terkadang tidak paham
semua artinya apa. Saya juga belajar dari pun Bapa, yang pasti itu adalah
doa dan puji-pujian," jelas Mang Ayi.

Mang Ayi sendiri tidak tahu dari mana rajah-rajah tersebut berasal. Ia
mendapatkan ilmu tersebut dari sang Ayah, yang juga warisan dari Kakeknya.
"Tidak tahu asalnya dari mana, yang pasti beda guru biasanya beda rajah,"
kata Mang Ayi.

Selain memainkan rajah, yang wajib dilakukan sebelum pementasan pantun buhun
adalah menyiapkan sesajen yang biasanya terdiri atas kemenyan, kukut (tempat
sesajen) yang besar berasama arangnya, bakakak ayam, beberapa ikat padi,
tanaman hanjuang, dan lainnya.

Menurut Mang Ayi, ragam dari isi sesajen tergantung dari acara yang akan
digelar, semakin besar acaranya, semakin lengkap pula isi sesajennya. Namun
adanya sesajen ini tidak dimaksudkan sebagai perbuatan syirik. Ini hanyalah
sebagai simbol.

"Misalnya, hasil bakar itu kan ada cahaya putih yang menandakan hati yang
bersih. Lalu cahaya merah yang menandakan manusia itu punya nafsu. Dari pada
bau tidak jelas, lebih baik bau kemenyan. Tujuannya tetap pada Allah SWT,"
katanya menjelaskan.

Pantun buhun juga biasanya di tanggap sebelum acara hajatan (pesta) yang
digelar oleh masyarakat Sunda, seperti halnya empat puluh harian bayi,
pernikahan atau pun ruwatan.

Namun, menurut Mang Ayi, pantun buhun ini bukan untuk dimainkan dalam
acara-acara mewah seperti halnya jaipong, rampak kendang, atau yang lainnya.

Di Subang misalnya, masyarakat biasanya sering memakai pantun buhun untuk
acara melekan. Yaitu sebuah upacara yang diadakan sehari sebelum sebuah
keluarga melakukan hajat (pesta).

"Biasanya tujuannya agar semua anggota keluarga tersebut bisa dibukankan
matanya. Lahiriah atau pun batinnya," ucap Mang Ayi.

Dan yang pasti, tiap acara, rajahnya berbeda. Semakin besar acara, rajahnya
harus semakin kokoh dan kuat.

"Misalnya untuk ruwatan, rajahnya itu harus yang kokoh. Kalau kata orang tua
jaman dulu, harus kuat, karena takut ada makhluk-makhluk lain yang
tersinggung," ucap Mang Ayi.

Walaupun masih tergolong memainkan pantun buhun, namun Mang Ayi dan Wa Itok
melakukan beberapa modifikasi dalam pentas pantun buhun yang mereka mainkan.

Misalnya terkadang mereka suka menambahkan unsur rebab, sinden , kendang dan
goong yang biasa disebut sebagai pantun beton. "Tapi dua-duanya masih
termasuk pantun buhun, itu hanya pelengkap saja," katanya.

Selain itu Mang Ayi dan Wa Itok mengakui bahwa mereka tidak berani
membawakan dongeng-dongeng asli buhun. Hal ini dikarenakan mereka khawatir
terhadap unsur-unsur dalam dongeng tersebut yang bertentangan dengan agama
dan logika berpikir masyarakat sekarang.

"Dulunya pantun buhun ya menceritakan galur (cerita) buhun. Misalnya galur
Sumedang-Indramayu, Prabu Siliwangi atau Sumedang Larang. Tapi sekarang
banyak cerita-cerita tersebut yang sudah tidak masuk lagi untuk generasi
sekarang. Jadi banyak kami membawakan naskah-naskah baru," kata Wa Itok.

Mang Ayi mengatakan, pantun buhun itu adalah kesenian yang sangat sederhana,
tapi penuh dengan makna yang tertuang secara implisit. "Itulah yang membuat
saya mendalami pantun buhun. Khususnya saat kita bisa meresapi makna dalam
rajahnya itu," tutur Mang Ayi.


aisha/shp
http://antarajawabarat.com/lihat/berita/22180/kesederhanaan-pantun-buhun-penuh-makna


2011/4/22 Ki Hasan <[email protected]>

> Sainget uing mah Pantun Beton teh seni pintonan ngadongeng bari nembang
> ngahaleuang, dipirig ku jentreng kacapi. Dongengna mangrupa prosa. Taun
> 70-an mun aya nu kariaan ngawinkeun atawa nyunatan, salah sahiji pintonan
> teh nyaeta nanggap pantun beton.
>
> Sejen deui jeung Wawacan. Wawacan mah ngadongengna teh diwangun ku pupuh,
> nu mangrupa puisi. Tah ieu mah biasana sok ditanggap mun aya nu ngajuru.
> Bari maturan nu anyar ngajuru, tatangga deukeut milu mondokan, dibaturan ku
> ngaregepkeun nu ngahaleuang nembang wawacan. Salah sahiji caritana teh
> diantarana lalakon Umar Maya.
>
> 2011/4/21 setiadi_rs <[email protected]>
>
>>
>>
>> Ngobrolkeun Hawu jeung Beton uing jadi inget kana istilah Pantun Beton.
>> Cobi manawi aya nu uninga, pangguarkeun naon ari pantun beton? Sarupaning
>> jenis pantun atanapi judul salah sawios pantun? Boa-boa carita pantun nu
>> ngaguar paripolah siki nangka nya?!
>>
>> Setiadi
>>
>>
>
>

Kirim email ke