Baraya,

Hampura ieu di handap postingan ti milist tatangga dibakian deui ka ieu
milist. Pikeun gambaran wae siga kumaha kaayan masjid tina jihat program2na
jeung aspirasi pangurusna di urang, khususna di Jakarta. Tina hasil survey
awal di handap ieu bisa dicindekeun yen teu pati gede porsi khutbah-khutbah
anu bisa dianggap salaku seuneu pikeun "kekeresan" anu ayeuna keur meujeuhna
rame diobrolkeun (kusabab bukti2 na oge luamayan rame, kasus bom teroris,
upamana). Jadi, ti mana mimitina budaya kekerasan teh?

Kumaha di Bandung? tos aya panalungtikan awal siga di Jakarta di handap ieu?
Nyanggakeun.

manar

 #

 Wajah Khutbah 
Kita<http://www.madina-online.net/index.php/review/buku/905-buku/392-wajah-khutbah-kita>

Suatu hari seorang teman diundang rapat di sebuah perusahan media di daerah
Kedoya, Jakarta Barat. Berhubung saat itu hari Jumat, teman yang tidak
pernah ketinggalan salat lima waktu itu ikut salat Jumat di masjid yang
berada di basement gedung tersebut.

Semula semuanya tampak normal-normal saja. Para karyawan datang satu per
satu memenuhi masjid dengan bekal niat untuk melaksanakan salat Jumat dan
air wudhu. Sekali lagi, semuanya normal-normal saja.

Tidak berapa lama khatib naik ke atas mimbar dan menyampaikan khutbah.
Sampai di sini semuanya masih tampak normal-normal saja. Namun semua berubah
tatkala khatib berkata, “Seandainya Hitler beragama Islam, pasti dia akan
saya angkat sebagai saudara saya”. “Gubrak”.

Dalam kata pengantar sebuah buku, Komaruddin Hidayat menulis bahwa beberapa
pekerja profesional dan eksekutif di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta,
mengeluh kepadanya soal khutbah Jumat yang disampaikan di beberapa masjid di
sana. Satu sisi mereka ingin melaksanakan salat Jumat, tapi di sisi yang
lain mereka enggan mendengarkan khutbah.

Alasan mereka: alih-alih memberi ketenangan, khutbah Jumat yang disampaikan
malah mengajak mereka untuk berperang. Makanya, pada salat Jumat
selanjutnya, mereka selalu datang terlambat. Mereka sengaja tidak ingin
mendengar lagi khutbah Jumat yang provokatif seperti itu.

Khatib dan Khutbah di Jakarta
CSRC (Center for the Study of Religion and Culture), salah satu lembaga
kajian dan penelitian yang berada di bawah UIN Jakarta, pernah melakukan
penelitian beberapa masjid yang ada di Jakarta dan Solo. Penelitian itu
dibukukan dan terbit pada 2010. Judulnya Benih-benih Islam Radikal di
Masjid; Studi Kasus Jakarta dan Solo.

Semula penelitian di Jakarta bertema “Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di DKI
Jakarta”. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan (November 2008 sampai
Januari 2009). Dengan pendekatan kuantitatif, survei dilakukan terhadap 250
masjid dari total 2.831 masjid di Jakarta. Data ini diperoleh CSRC dari
Departemen Agama pada 2004.

Objek penelitian CSRC ini tentu saja bukan masjid sebagai ruang dan bangunan
mati. Yang menjadi objek adalah para pengurus masjid yang biasa disebut
takmir masjid. Dan untuk mengetahui orientasi ideologis para takmir masjid,
CSRC menanyakan opini mereka mengenai lima isu: sistem pemerintahan,
formalisasi syariah Islam, jihad, kesetaraan gender, dan pluralisme.

Penelitian ini tidak berpretensi untuk menghasilkan kesimpulan yang
komprehensif. Riset ini dimaksudkan CSRC sebagai riset pendahuluan untuk
menelisik praktek pengajaran keagamaan di masjid-masjid di DKI Jakarta dan
mengukur kecenderungan orientasi ideologis para takmir yang terlibat
langsung dengan aktivitas di dalam masjid.

Selanjutnya:
http://www.madina-online.net/index.php/review/buku/905-buku/392-wajah-khutbah-kita
  #


Kirim email ke