KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (9) MELACAK SITUS
DAN PENINGGALAN

*Tatang M. Amirin; 7 Januari 2011
*

*MELACAK SITUS DAN PENINGGALAN KERAJAAN TALAGA*

*(Ini bagian yang dipotong dari tulisan panjang “Kerajaan Talaga: Melacak
jejak Bujangga Manik”–agar tak terlampau capai membacanya; dimulai dari yang
paling akhir, sehingga sementara ditulis nomor 9, sekedar nomor  paling
akhir dari 1-9, agar yang lainnya bisa muat pakai nomor urut).**
*

*Pengantar*

Saya termasuk orang yang tidak percaya orang-orang Sunda tidak bisa membuat
candi atau keraton dari bahan bebatuan atau batu bata. Sekarang sudah mulai
ditemukan berbagai situs candi dan pemukiman di wilayah Jawa Barat,
tertimbun tanah. Candi di situs Rajegwesi, Ciamis, misalnya, hanya terlihat
sebagai bukit kecil (pasir leutik) yang sudah ditumbuhi belukar dan
pepohonan.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/situs-rajegwesi.jpg>Peninggalan
candi di situs Rajegwesi, Ciamis, yang sudah seperti bukit (pasir leutik)
biasa

Jadi, di wilayah-wilayah Talaga yang berbukit-bukit itu perlu “dicurigai”
ada tinggalan serupa itu. Siapa tahu, ada “tatapakan” karaton yang sudah
tertimbun tanah. Gunung Ciremay pernah meletus dan memuntahkan lahar yang
relatif besar pada abad XVIII, seperti dicatat Balai Taman Nasional Gunung
Ciremay berikut.

*Letusan pertama Gunung Ciremai tercatat terjadi pada 3 Februari 1698. Pada
waktu itu, digambarkan sebuah gunung besar di Cirebon telah roboh dan
menyebabkan permukaan air di sungai-sungai mendadak naik sehingga
menyebabkan korban jiwa, tanpa data jumlah korban yang jelas.*

Gunung Merapi yang meletus beberapa kali Oktober-Nopember 2010 ini sudah
menghancurkan beberapa desa di sekitar Merapi. Rumah tembok saja hancur,
apalagi rumah gedek (bilik, bambu) luluh lantak.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/desahancurmerapi.jpg>Aku
hanya bisa merenungi: Betapa dahsyat Merapi, hingga kampungku luluh lantak
bagai padang pasir tak bertepi

Karena ketidaktahuan, orang bisa pula menghancurkan lingggayoni dan artefak
batu-batuan lainnya. Siapa tahu di “Aggalingga” (pucuk gunung lingga) itu
ada lingganya yang entah ada di mana.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/linggayoni-lakbok.jpg>Lingga
dan yoni dari Rawa Lakbok

Karena tidak tahu dan tidak mengira, bisa saja batu seperti di bawah ini
tidak dianggap batu bersejarah, padahal itu patung tanpa kepala.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/lingga-ciamis.jpg>Patung
tanpa kepala, dari Ciamis. Saya kira “lingga.”

*Situs dan “Poesaka” Tinggalan Kerajaan Talaga*

Juru kunci (kunen) Situ Sangiang ada mengatakan kepada seseorang katanya
keraton Talaga itu ada di Situ Sangiang. Jika situ sedang agak kering,
bebatuan bekas keraton itu tampak. Ah, yang benar?! Kenapa tidak dicek!
Apakah itu “bebatuan buatan”?

*1. Patung Budha dari Talaga*

Di sini diulang lagi, ada tiga patung peninggalan Kerajaan Talaga, menurut
informasi Sandy, dari neneknya di Talaga. Tiga-tiganya, mudah-mudahan benar,
sudah tertemukan fotonya oleh saya. Ketiganya adalah “Wajrapani”, lalu
“Manjuwajra”, dan “Budha.”

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/tropenmuseum-bronzen-bodhisattvabeeld.jpg>Patung
Bodisatwa (Bodhisattva) terbuat dari kuningan dari Kerajaan Talaga

[image: Manjuwajra dari Talaga (yang suka dikira Batara
Guru)]<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/manjuvajra-van-talaga.jpg>Patung
Budha  “Manjuwajra” terbuat dari kuningan dari Talaga

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/tropenmuseum-bronzen-boeddhabeeld-1863-1864.jpg>Patung
Budha terbuat dari kuningan tinggal Kerajaan Talaga (“ditemukan” orang
Belanda 1863-1864)

*2. Pintu gebyog dan pintu tunggal (dari Kerajaan Talaga?)*

Sedikit demi sedikit tinggalan Kerajaan Talaga itu alhamdulillah mulai saya
temukan. Di Museum “Batavia” ada “pintu gebyog” (pintu besar dan lebar),
yang terbuat (tampaknya) dari kayu jati, muncul di internet. Tidak jelas
pasti, memang, apakah itu pintu gedung keraton Talaga.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/pintu-gebyog-talaga.jpg>Pintu
gebyog kuno dari Talaga

Yang satu ini pintu ruangan biasa, bukan “pintu utama.” [Maaf, salah tulis
di dalam gambar; jika diklik]. Juga dari Talaga. Perhatikan tulisan yang ada
di atas dan di bawah gambar. Perhatikan pula ornamen hiasan yang ada pada
daun pintu ini. Di bagian atas ada lukisan burung (merpati, tanda
kedamaian–?). Di tengahnya ada raksasa membawa gada (Dwarapala–penjaga
gerbang–?). Di bagian paling bawah ada gambar kepiting (salah satu dari
zodiak Talaga, “Calicata”).

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/pintu-ukir-talaga.jpg>Pintu
kuno dari Talaga berukir burung merpati, raksasa penjaga gerbang, dan
Calicata (Cancer)

Jadi, simpulannya, keraton Talaga itu tampaknya berupa keraton yang
jelas-jelas megah pada (untuk) jamannya. Sayang seperti apa bentuknya dan di
mana letaknya, masih tanda tanya. Namun demikian, keturunan Talaga perlu cek
pintu itu, punya rumah siapa (saat jaman Belanda), ataukah memang
turun-temurun disimpan karena itu “poesaka Talaga.”

Nah, para “pengelola Museum Talaga Manggung” (*Tumung ‘gung de Talaga*–menurut
Raffles), tampaknya perlu membuat replikanya untuk dipasang sebagai “pintu
utama gedung museum.” Termasuk (jika memang tidak punya) tiga patung Budha
poesaka Talaga, yaitu: (1) *“Bodhisattva*” atau “*Vajrapani*“, (2) “*
Manjuvajra*” (“Batara Guru”), dan (3) Budha yang sudah saya temukan
“fotonya” dari internet.

*3. Naskah lambang zodiak Talaga*

Terlacak pula dari tulisan Raffles dua “lukisan” dari Talaga yang
menggambarkan lambang-lambang zodiac dan “pasaran” (tampaknya mengikuti gaya
Mataram: Pon, Wage, Kaliwon, Legi, Pahing). Lukisan zodiac  yang menurut
mitologi Yunani, dan dibahasalatinkan menjadi Virgo, Pisces, Scorpio, Leo,
Aquarius dsb. itu lukisannya beberapa mirip, kendati penamaannya berbeda
(mengikuti bahasa Sansekerta alias India).

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/zodiac-manuscrittumunggung-talaga.gif>Lambang-lambang
zodiak kuno dari Talaga

Tulisan dari Raffles berbahasa Perancis di bawah lukisan zodiac Talaga itu
berbunyi “*Fac Simile des Signes du Zodiac tire d’un ancien Manuscrit apt in
Tumung’gung de Telaga a Cheribon*.” (Lambang-lambang  zodiak yang terdapat
dalam naskah kuno dari Tumung ‘gung Talaga, Cirebon).

Nama-nama Zodiac tersebut, menurut Raffles sebagai berikut.

The signs of the Zodiac as represented in the ancient MS at Telaga in
Cheribon compared with the Indian are as follows the figures being very
correctly drawn and names with the explanation annexed to each
[Lambang-lambang perbintangan atau zodiak yang dilukiskan dengan bahasa
Sunda Pertengahan dari naskah di Talaga Cirebon itu jika dibandingkan dengan
yang ada di India sebagai berikut, dst.]. Tulisan sudah diedit
penulis–dengan melacak pula zodiac Yunani dari Wikipedia–menjadi tabel
sebagai berikut.
  *Istilah India (Sanskerta)* *Istilah Talaga* *Zodiak Yunani (Latin)* *Arti
*  Mesha Misa Aries Biri-biri  Vrisha (Vṛṣabha) M’risa Taurus Banteng
Mithuna M’ri Kogo (kupu-kupu) Gemini Kembar  Carcata Calicata Cancer
Kepiting  Sinha Singha Leo Singa  Cunya Canya Virgo Gadis, kania  Tula Tula
Libra Neraca  Vrishchica Privata Scorpion Kalajengking  Danus Wanu
Sagitarius Jemparing  Macara Macara Capricornus Kambing-laut  Cumbha Cuba
Aquarius Tempayan  Mina Mena Pisces Ikan, mina

Sebagai perbandingan, berikut simbul-simbul zodiac Yunani (dari Wikipedia),
baik yang masih dalam bahasa Yunani maupoun yang sudah dilatinkan.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/220px-zodiac_woodcut.png>

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/220px-astro_signs-svg.png><http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/greek-zodiac.jpg>

*4. Naskah kuno lambang hari pasaran model Talaga*

Zodiac digambarkan dalam lukisan, itu biasa. Yang tidak lazim (jarang
diketahui) ternyata hari-hari pasaran pun ada gambarnya.

<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/pasaran-tumunggung-talaga.gif>

Lambang-lambang kuno hari pasaran dari Talaga

Tulisan yang ada di bawah lukisan itu berbunyi “*Fac Simile des signes
representant les divisions du jour et les Pasar ou jours de marche … Tire
d’un Manuscrit, appartenant a Tumung’gung de Telaga a Cheribon.*”
(Lambang-lambang hari dan pasaran yang terdapat dalam naskah dari
Tumung’gung Talaga, Cirebon).

Catatan: Kenapa Raffles selalu menuliskan “*Tumung’gung de Telaga*” dalam
naskahnya? Ada kaitan apa dengan sebutan “Talaga Manggung”? Kenapa pula
tulisannya “tumung ‘gung” bukan “tumunggung”? Apakah “tumung ‘gung” itu
sebenarnya singkatan dari “tumung agung”? Atau sebutan lain dari Tumenggung,
atau Demang Agung? Jangan-jangan Sunan Talaga Manggung itu “kebalikan
sebutan” dari *Sunan Tumenggung Talaga*. Dalam salah satu naskah jaman
Belanda tertemukan kebingungan menyebut: *Prang Wangsa* atau *Wangsa Prang*,
sehingga dua-duanya disebut atau dituliskan Prang Wangsa *of * (atau) Wangsa
Prang. Jadi, Tumunggung Talaga *atau* Talaga *Tumunggung* (yang kemudian
berubah menjadi *Manggung*).

*5. Pintu masjid Talaga*

Satu lagi “temuan” saya, ini pintu mesjid Talaga abad ke-19
(1863-1864–tampaknya tahun “dimuseumkannya” atau “ditemukannya”). Tidak tahu
mesjid di wilayah “Telaga, Madjalengka” yang mana. Hanya itu yang bisa
diketahui dari sumbernya, Tropenmuseum.

[image: Pintu mesjid kuno dari
Talaga]<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/collectie_tropenmuseum_houtsnijwerk_op_de_deur_van_een_moskee_tmnr_60014012.jpg>

[image: Pintu ukir masjid di Talaga
1863-1864]<http://tatangmanguny.files.wordpress.com/2011/01/tropenmuseum-houtsnijwerk-op-de-deur-van-een-moskee-1863-1864.jpg>Pintu
mesjid kuno dari Talaga (1863-1864)

Alhamdulillah, betapapun, “bari jeung leukeun mah,” sedikit demi sedikit
sejarah Majalengka yang “kosong melompong” itu akan juga terisi, dengan
benar, tentu! Mulai dari Talaga dulu, siapa tahu lainnya terkuak.

*Baca juga:*

*[Klik tulisan di baris atas blog ini yang berbunyi "Kerajaan Talaga:
Melacak Jejak Bujangga Manik", lalu klik pilihan tulisan yang muncul dalam
"kotak hitam"]:*

*1. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (1) Talaga, Sindangkasih,
Kabupaten Maja*

*2. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (3) Sumber Sejarah*

*3. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (4) Nama, Agama, dan
Historis Pendirian*

*4. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (5) Ibu Kota Walangsuji,
di Mana?*

*
http://tatangmanguny.wordpress.com/kerajaan-talaga/kerajaan-talaga-melacak-jejak-bujangga-manik-5/
*

*
*

Kirim email ke