Hebat geningan Karajaan Talaga teh, meni euyeub titilarna. Kang Tatang oge 
edun, bisa nalungtik jero pisan. Hatur nuhun infona, mh.



--- On Wed, 4/27/11, Ki Hasan <[email protected]> wrote:

From: Ki Hasan <[email protected]>
Subject: [kisunda] Sajarah - Tapak Lacak Bujangga Manik 9?
To: "Ki Sunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" 
<[email protected]>
Date: Wednesday, April 27, 2011, 4:44 AM















 
 



  


    
      
      
      
KERAJAAN TALAGA: MELACAK JEJAK BUJANGGA MANIK (9) MELACAK SITUS DAN PENINGGALAN
                                        
                                        
                                                Tatang M. Amirin; 7 Januari 2011


MELACAK SITUS DAN PENINGGALAN KERAJAAN TALAGA
(Ini bagian yang dipotong dari tulisan panjang “Kerajaan Talaga: 
Melacak jejak Bujangga Manik”–agar tak terlampau capai membacanya; 
dimulai dari yang paling akhir, sehingga sementara ditulis nomor 9, 
sekedar nomor  paling akhir dari 1-9, agar yang lainnya bisa muat pakai 
nomor urut).


Pengantar
Saya termasuk orang yang tidak percaya orang-orang Sunda tidak bisa 
membuat candi atau keraton dari bahan bebatuan atau batu bata. Sekarang 
sudah mulai ditemukan berbagai situs candi dan pemukiman di wilayah Jawa
 Barat, tertimbun tanah. Candi di situs Rajegwesi, Ciamis, misalnya, 
hanya terlihat sebagai bukit kecil (pasir leutik) yang sudah ditumbuhi 
belukar dan pepohonan.
Peninggalan candi di situs Rajegwesi, Ciamis, yang sudah seperti bukit (pasir 
leutik)  biasa

Jadi, di wilayah-wilayah Talaga yang berbukit-bukit itu perlu 
“dicurigai” ada tinggalan serupa itu. Siapa tahu, ada “tatapakan” 
karaton yang sudah tertimbun tanah. Gunung Ciremay pernah meletus dan 
memuntahkan lahar yang relatif besar pada abad XVIII, seperti dicatat 
Balai Taman Nasional Gunung Ciremay berikut.
Letusan pertama Gunung Ciremai tercatat terjadi pada 3 Februari 
1698. Pada waktu itu, digambarkan sebuah gunung besar di Cirebon telah 
roboh dan menyebabkan permukaan air di sungai-sungai mendadak naik 
sehingga menyebabkan korban jiwa, tanpa data jumlah korban yang jelas.
Gunung Merapi yang meletus beberapa kali Oktober-Nopember 2010 ini 
sudah menghancurkan beberapa desa di sekitar Merapi. Rumah tembok saja 
hancur, apalagi rumah gedek (bilik, bambu) luluh lantak.
Aku hanya bisa merenungi: Betapa dahsyat Merapi, hingga kampungku luluh lantak 
bagai padang pasir tak bertepi

Karena ketidaktahuan, orang bisa pula menghancurkan lingggayoni dan 
artefak batu-batuan lainnya. Siapa tahu di “Aggalingga” (pucuk gunung 
lingga) itu ada lingganya yang entah ada di mana.
Lingga dan yoni dari Rawa Lakbok

Karena tidak tahu dan tidak mengira, bisa saja batu seperti di bawah 
ini tidak dianggap batu bersejarah, padahal itu patung tanpa kepala.
Patung tanpa kepala, dari Ciamis. Saya kira “lingga.”

Situs dan “Poesaka” Tinggalan Kerajaan Talaga
Juru kunci (kunen) Situ Sangiang ada mengatakan kepada seseorang 
katanya keraton Talaga itu ada di Situ Sangiang. Jika situ sedang agak 
kering, bebatuan bekas keraton itu tampak. Ah, yang benar?! Kenapa tidak
 dicek! Apakah itu “bebatuan buatan”?
1. Patung Budha dari Talaga
Di sini diulang lagi, ada tiga patung peninggalan Kerajaan Talaga, 
menurut informasi Sandy, dari neneknya di Talaga. Tiga-tiganya, 
mudah-mudahan benar, sudah tertemukan fotonya oleh saya. Ketiganya 
adalah “Wajrapani”, lalu “Manjuwajra”, dan “Budha.”
Patung Bodisatwa (Bodhisattva) terbuat dari kuningan dari Kerajaan Talaga

Patung Budha  “Manjuwajra” terbuat dari kuningan dari Talaga

Patung Budha terbuat dari kuningan tinggal Kerajaan Talaga (“ditemukan” orang 
Belanda 1863-1864)

2. Pintu gebyog dan pintu tunggal (dari Kerajaan Talaga?)
Sedikit demi sedikit tinggalan Kerajaan Talaga itu alhamdulillah 
mulai saya temukan. Di Museum “Batavia” ada “pintu gebyog” (pintu besar 
dan lebar), yang terbuat (tampaknya) dari kayu jati, muncul di internet.
 Tidak jelas pasti, memang, apakah itu pintu gedung keraton Talaga.
Pintu gebyog kuno dari Talaga

Yang satu ini pintu ruangan biasa, bukan “pintu utama.” [Maaf, salah 
 tulis di dalam gambar; jika diklik]. Juga dari Talaga. Perhatikan  
tulisan yang ada di atas dan di bawah gambar. Perhatikan pula ornamen  
hiasan yang ada pada daun pintu ini. Di bagian atas ada lukisan burung  
(merpati, tanda kedamaian–?). Di tengahnya ada raksasa membawa gada  
(Dwarapala–penjaga gerbang–?). Di bagian paling bawah ada gambar  
kepiting (salah satu dari zodiak Talaga, “Calicata”).
Pintu kuno dari Talaga berukir burung merpati, raksasa penjaga gerbang, dan 
Calicata (Cancer)

Jadi, simpulannya, keraton Talaga itu tampaknya berupa keraton yang  
jelas-jelas megah pada (untuk) jamannya. Sayang seperti apa bentuknya  
dan di mana letaknya, masih tanda tanya. Namun demikian, keturunan 
Talaga perlu cek pintu itu, punya rumah siapa (saat jaman Belanda), 
ataukah memang turun-temurun disimpan karena itu “poesaka Talaga.”
Nah, para “pengelola Museum Talaga Manggung” (Tumung ‘gung de Talaga–menurut
 Raffles),  tampaknya perlu membuat replikanya untuk dipasang sebagai 
“pintu utama  gedung museum.” Termasuk (jika memang tidak punya) tiga 
patung Budha poesaka Talaga, yaitu: (1) “Bodhisattva” atau “Vajrapani“, (2) 
“Manjuvajra” (“Batara Guru”), dan (3) Budha yang sudah saya temukan “fotonya” 
dari internet.
3. Naskah lambang zodiak Talaga
Terlacak pula dari tulisan Raffles dua “lukisan” dari Talaga yang 
menggambarkan lambang-lambang zodiac dan “pasaran” (tampaknya mengikuti 
gaya Mataram: Pon, Wage, Kaliwon, Legi, Pahing). Lukisan zodiac  yang 
menurut mitologi Yunani, dan dibahasalatinkan menjadi Virgo, Pisces, 
Scorpio, Leo, Aquarius dsb. itu lukisannya beberapa mirip, kendati 
penamaannya berbeda (mengikuti bahasa Sansekerta alias India).
Lambang-lambang zodiak kuno dari Talaga

Tulisan dari Raffles berbahasa Perancis di bawah lukisan zodiac Talaga itu 
berbunyi “Fac Simile des Signes du Zodiac tire d’un ancien Manuscrit apt in 
Tumung’gung de Telaga a Cheribon.” (Lambang-lambang  zodiak yang terdapat dalam 
naskah kuno dari Tumung ‘gung Talaga, Cirebon).

Nama-nama Zodiac tersebut, menurut Raffles sebagai berikut.
The signs of the Zodiac as represented in the ancient MS at Telaga in
 Cheribon compared with the Indian are as follows the figures being very
 correctly drawn and names with the explanation annexed to each 
[Lambang-lambang perbintangan atau zodiak yang dilukiskan dengan bahasa 
Sunda Pertengahan dari naskah di Talaga Cirebon itu jika dibandingkan 
dengan yang ada di India sebagai berikut, dst.]. Tulisan sudah diedit 
penulis–dengan melacak pula zodiac Yunani dari Wikipedia–menjadi tabel 
sebagai berikut.



Istilah India   (Sanskerta)
Istilah Talaga
Zodiak Yunani   (Latin)
Arti


Mesha
Misa
Aries
Biri-biri


Vrisha   (Vṛṣabha)
M’risa
Taurus
Banteng


Mithuna
M’ri   Kogo (kupu-kupu)
Gemini
Kembar


Carcata
Calicata
Cancer
Kepiting


Sinha
Singha
Leo
Singa


Cunya
Canya
Virgo
Gadis,   kania


Tula
Tula
Libra
Neraca


Vrishchica
Privata
Scorpion
Kalajengking


Danus
Wanu
Sagitarius
Jemparing


Macara
Macara
Capricornus
Kambing-laut


Cumbha
Cuba
Aquarius
Tempayan


Mina
Mena
Pisces
Ikan,   mina



Sebagai perbandingan, berikut simbul-simbul zodiac Yunani (dari 
Wikipedia), baik yang masih dalam bahasa Yunani maupoun yang sudah 
dilatinkan.




4. Naskah kuno lambang hari pasaran model Talaga
Zodiac digambarkan dalam lukisan, itu biasa. Yang tidak lazim (jarang 
diketahui) ternyata hari-hari pasaran pun ada gambarnya.


Lambang-lambang kuno hari pasaran dari Talaga
Tulisan yang ada di bawah lukisan itu berbunyi “Fac Simile des 
signes representant les divisions du jour et les Pasar ou jours de 
marche … Tire d’un Manuscrit, appartenant a Tumung’gung de Telaga a 
Cheribon.” (Lambang-lambang hari dan pasaran yang terdapat dalam naskah dari 
Tumung’gung Talaga, Cirebon).
Catatan: Kenapa Raffles selalu menuliskan “Tumung’gung de Telaga”
 dalam naskahnya? Ada kaitan apa dengan sebutan “Talaga Manggung”? 
Kenapa pula tulisannya “tumung ‘gung” bukan “tumunggung”? Apakah “tumung
 ‘gung” itu sebenarnya singkatan dari “tumung agung”? Atau sebutan lain 
dari Tumenggung, atau Demang Agung? Jangan-jangan Sunan Talaga Manggung 
itu “kebalikan sebutan” dari Sunan Tumenggung Talaga. Dalam salah satu naskah 
jaman Belanda tertemukan kebingungan menyebut: Prang Wangsa atau Wangsa Prang, 
sehingga dua-duanya disebut atau dituliskan Prang Wangsa of  (atau) Wangsa 
Prang. Jadi, Tumunggung Talaga atau Talaga Tumunggung (yang kemudian berubah 
menjadi Manggung).

5. Pintu masjid Talaga
Satu lagi “temuan” saya, ini pintu mesjid Talaga abad ke-19 
(1863-1864–tampaknya tahun “dimuseumkannya” atau “ditemukannya”). Tidak 
tahu mesjid di wilayah “Telaga, Madjalengka” yang mana. Hanya itu yang 
bisa diketahui dari sumbernya, Tropenmuseum.


Pintu mesjid kuno dari Talaga (1863-1864)

Alhamdulillah, betapapun, “bari jeung leukeun mah,” sedikit demi 
sedikit sejarah Majalengka yang “kosong melompong” itu akan juga terisi,
 dengan benar, tentu! Mulai dari Talaga dulu, siapa tahu lainnya 
terkuak.
Baca juga:
[Klik tulisan di baris atas blog ini yang berbunyi 
"Kerajaan   Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik", lalu klik pilihan 
tulisan yang  muncul dalam  "kotak hitam"]:
1. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (1) Talaga, Sindangkasih, 
Kabupaten Maja
2. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (3) Sumber Sejarah
3. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (4) Nama, Agama, dan Historis 
Pendirian
4. Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (5) Ibu Kota Walangsuji, di 
Mana?http://tatangmanguny.wordpress.com/kerajaan-talaga/kerajaan-talaga-melacak-jejak-bujangga-manik-5/






    
     

    
    


 



  








Kirim email ke