emh, nuhun bah willy, hampura uin hilap, yen biasana bah willy anu sok ngalungkeun 'pojok tempo' ka ieu milist teh. mana deui yeuh? tah ........tina data eta ternyata geunin kitu kaayaanana. dina hiji argumentasi, yen lamun madrasah anu di survey, bisa nikel deui tingkat negatipna. sangat wajar lamun pancasila dianggap teu relevan ku barudak sabab kanyahona ngan diajarkeun ( lain di didik) lima sila wungkul sacara tekstual sarua jeung pangajaran agama oge leuheung baheula aya pendidikan budi pekerti, sacara universal dina sabatas lokal ieu anu ngajadikeun uin saluyu jeung tim, dina bag bagan rek nyieun buku budi pekerti berbasis budaya lokal teh. muga pareng hn*R3M
Pada 1 Mei 2011 10:42, Waluya <[email protected]> menulis: > > > > > "Roza R. Mintaredja" <roza.kalasunda@...> wrote: > > kamari uin ngobrol di jkt, cnah di majalah tempo aya survey anu > > ngadata > > satuju 80% bom bunuh diri keur jihad > > di kalangan para guru agama jeung guru sd. > > cik mang H, naha leres aya data eta di tempo? > > Bah Oca, nu kapendak ku kuring mah artikel ti Koran Tempo teh ieu: > > Koran Tempo 26 April 2011 > Pelajar menganggap Pancasila tak lagi relevan. > > Mayoritas pelajar di Jakarta dan sekitarnya ternyata cenderung setuju > menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral. > Fenomena ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan Lembaga Kajian Islam > dan Perdamaian (LaKIP) yang digelar selama Oktober 2010-Januari 2011. > > "Yang mencengangkan, sikap radikal dan tidak toleran itu tak hanya dimiliki > para siswa, tapi juga guru agama,"kata Bambang Pranowo, direktur lembaga > kajian ini, kepada Tempo di Jakarta kemarin. Guru besar Universitas Islam > Negeri Jakarta ini mengaku tertarik meneliti "radikalisasi"di kalangan > pelajar karena melihat banyaknya anak muda usia belasan tahun yang jadi > pelaku bom bunuh diri. "Kami ingin tahu seperti apa persepsi dan sikap para > remaja itu terhadap keberagaman." > > Survei dilakukan di 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri.Tak satu pun > madrasah diambil jadi sampel. Hasilnya? Saat ditanya apakah mereka bersedia > terlibat dalam aksi kekerasan yang terkait dengan agama dan moral, 48,9 > persen siswa menyatakan bersedia."Yang paling mengagetkan: belasan siswa > menyetujui aksi ekstrem bom bunuh diri,"katanya. > > Dalam penelitian yang juga sudah dirilis beberapa media itu, Bambang pun > mengungkapkan, para pelajar itu menganggap Pancasila sudah tidak relevan > lagi sebagai dasar negara. Ia berpendapat, tumbuh suburnya sikap radikal di > kalangan pelajar dan guru agama di sekolah umum itu karena agama Islam > sering diajarkan secara eksklusif."Hanya dua jam satu minggu, sehingga > mereka mencari jawaban moral dari luar sekolah." > > Atas adanya kecenderungan ini, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli > Jalal memastikan akan melakukan pengawasan berjenjang terhadap para siswa > dan guru, termasuk mengubah pola pengajaran agama di sekolah. > > KARTIKA C | MAHARDIKA | MARTHA RT| AMANDRA | WIDIARSI A > > Remaja dan Kekerasan Atas Nama Agama adikalisme, menyukai kekerasan, dan > bersikap tiR dak toleran. Inilah yang kini menjangkiti mayoritas siswa > SMP-SMA dan guru agama di Jakarta dan sekitarnya. Survei yang dilakukan > Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) selama Oktober 2010-Januari 2011 > menemukan fenomena yang mencengangkan tersebut. Berikut ini di antaranya: > Bersediakah terlibat aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral? > Bersedia. Siswa: 48,9 persen, Guru: 28,2 persen Bersediakah terlibat dalam > aksi penyegelan serta perusakan rumah atau fasilitas milik aliran keagamaan > lain? > Bersedia. Siswa: 41,1 persen, Guru: 22,7 persen Apakah bisa dibenarkan aksi > pengeboman seperti yang dilakukan Imam Samudra, Amrozi, dan Noor Din M. Top? > Bisa. Siswa: 14,2 persen, Guru: 7,5 persen Setujukah jika syariat Islam > diberlakukan? > Setuju. Siswa: 84,8 persen, Guru: 76,2 persen Apakah Pancasila masih > relevan menjadi dasar negara? > Tidak. Siswa: 25,8 persen, Guru: 21,1 persen. METODE SURVEI: Wawancara > tatap muka dengan kuesioner di 10 wila yah di Jabodetabek. > > Penarikan sampel acak berdasarkan proporsi masing masing strata. > > Batas kesalahan pengambilan sampel 3,6 persen un tuk guru, 3,1 persen untuk > siswa POPULASI & KARAKTERISTIK RESPONDEN: GURU Populasi: 2.639 Sampel: 590 > Karakteristik: guru pendidikan agama Islam di SMP dan SMA SISWA Populasi: > 611.678 Sampel: 993 Karakteristik: Siswa SMP umum kelas XIV dan XIX, Siswa > SMA kelas X, XI, XII. NASKAH DAN BAHAN: WIDIARSI AGUSTINA | KARTIKA CANDRA | > DIOLAH DARI HASIL LAKIP 2011. > > >
