Inilah Studi Banding DPR di Australia!


ANTARA/ANIS EFIZUDIN
Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding (kanan) dan Wakil Ketua DPD Laode
Ida (kedua dari kiri), didampingi Bupati Temanggung Hasyim Afandi (tengah),
mendengarkan kronologi kerusuhan dari jemaat Gereja Pantekosta saat
mengunjungi lokasi itu di Temanggung, Jawa Tengah, Senin (14/2). Rombongan
DPD dan Komisi VIII juga berdialog dengan tokoh agama untuk mencari solusi
konflik.
 Rabu, 4 Mei 2011 | 17:21 WIB



*MELBOURNE, KOMPAS.com* — Seorang pelajar/mahasiswa Indonesia, Teguh
Iskanto, menulis kegiatan studi banding anggota Komisi VIII DPR di
Australia.  Didi Rul <http://www.kompasiana.com/didirul>, jurnalis warga
yang tinggal di Melbourne, melaporkannya di media sosial
Kompasiana<http://politik.kompasiana.com/2011/05/03/laporan-dialog-antara-perhimpunan-pelajar-indonesia-australia-dengan-komisi-viii-dpr-ri-di-melbourne/>
.

Berikut laporan selengkapnya....

Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto, ketika menghadiri dialog
antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dan Komisi VIII DPR RI
di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne
pada 30 April 2011 pukul 20.00 waktu setempat.

*Pembuka*

Setelah bertahun-tahun menjadi WNI, akhirnya kesampaian juga saya mendapat
kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil
rakyat. Terlebih, tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan
Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya kesempatan bagi
saya untuk bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan para pejabat
negara.

Setelah terburu-buru *nyupir *karena takut terlambat, akhirnya saya beserta
istri sampai juga di KJRI sekitar pukul 18.15 AEST. Walhasil, sesampai di
KJRI, terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang.
Makanan, kursi-kursi tamu beserta meja panelis untuk pembicara, semua sudah
disiapkan dengan rapi. Waktu sudah menunjukan pukul 18.19, tapi belum juga
terlihat tanda-tanda kedatangan para tamu yang "terhormat", padahal di dalam
undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18.00.

*Menunggu sang tamu datang*

Sambil menunggu, akhirnya saya menggunakan waktu yang ada untuk shalat
maghrib, bercengkerama dan beramah tamah dengan kawan-kawan. Di bagian depan
terlihat banyak kamera dan video dari beberapa media komunitas Indonesia di
Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio ABC Australia yang datang untuk
meliput. Sementara beberapa kawan dari PPIA sudah siap dengan siaran
internet radio langsung yang disebarkan ke seluruh dunia via PPI
Internasional, semua alat sudah diset dan disiapkan.

Seputar berita-berita negatif yang ada di internet tentang rencana studi
banding anggota Dewan, saya sebelumnya juga sudah diingatkan oleh istri dan
seorang kawan untuk tidak menghakimi para anggota Dewan. *“Berikan mereka
kesempatan untuk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka,
mungkin ada sesuatu yang kita tidak tahu,” *begitu saran yang saya dapatkan
dan saya pun setuju untuk menjadi lebih netral dan obyektif, lagi pula “*who
are we to judge people anyway*…”.
[image: 13044058042022829676]

Suasana di Konsulat Jenderal RI sesaat sebelum dialog dimulai. Courtesy of
Dirgayuza Setiawan

*Akhirnya sang tamu datang juga*

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang ditunggu-tunggu datang
juga. Secara persis, saya tidak melihat jam, mungkin sekitar pukul
18.50-19.00. Hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana Ruang Bhinneka
di KJRI Melbourne menjadi hidup karena semua orang mulai terlihat antusias.
Beberapa anggota Dewan bahkan ada yang mulai memperkenalkan diri secara
pribadi dan menyapa hadirin satu per satu. Beberapa juga ada yang beramah
tamah dengan staf KJRI. Setelah beramah tamah 5-10 menit, staf KJRI
mengumumkan untuk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih
dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah, ini sepertinya strategi dari
KJRI untuk meredam pertanyaan dari hadirin, dengan membuat mereka kenyang
dan mengantuk setelah makan… :) he-he-he.
[image: 13044035211110947843]

Rombongan anggota Komisi VIII DPR RI di KBRI Canberra. Sumber:
www.kemlu.go.id

*Acara dimulai*

Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul
General, Bapak Hadisapto Pambrastoro, mewakili KJRI Melbourne. Bapak Hadi
mencoba memaparkan komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yang lebih
dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin diingatkan
bahwa acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pukul 21.00 mengingat
jadwal kesibukan anggota tim Komisi VIII keesokan harinya (*which is private
dinner *bersama staf KJRI. Kayak gini dibilang sibuk?).

Sementara dari pihak Komisi VIII diwakili oleh juru bicaranya, Bapak Abdul
Kadir Karding (PKB). Beliau memperkenalkan anggota tim studi banding satu
per satu dengan komposisi 7 orang anggota duduk di meja panelis, yang
terdiri dari perwakilan PDI-P (Ina Ammania), Golkar (Drs H Zulkarnaen
Djabar), PKS (Ahmad Zainuddin, LC), PKB (H Abdul Kadir Karding, SPI - Ketua
Rombongan dan Pembicara), Golkar (Dra Hj Chairun Nisa, MA), Hanura (Dra Hj
Soemintarsih Muntoro, MSi), dan Demokrat (Dra Hj Ratu Siti Romlah, MAg).
Jumlah total keseluruhan anggota Komisi VIII yang datang pada studi banding
kali ini 11 orang.

Beliau juga mencoba memaparkan bidang kerja Komisi VIII yang umumnya
berkonsentrasi di bidang:

   - Keagamaan (mencakup di dalamnya: agama, pendidikan agama, masalah
   ahmadiyah, pluralisme, dan terorisme)


   - Penanggulangan bencana


   - Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak


   - Kementerian sosial (di antaranya: masalah sosial, lansia, kemiskinan,
   orang cacat, dan anak jalanan)

Di salah satu kesempatan, beliau juga menjelaskan, tujuan kedatangan ke
Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, di
antaranya  menyusun konsep rancangan untuk:

   - RUU Fakir Miskin


   - RUU Kebebasan dan Perlindungan Beragama


   - RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap
   donasi/sumbangan


   - RUU Jaminan Produk Halal


   - RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender


   - RUU Pendidikan yang Dikelola Masyarakat Swasta

Beliau juga menjelaskan mengapa Australia menjadi negara yang dituju:

   - Lebih dekat dibanding negara-negara lain (sehingga bisa
   mengurangi biaya)


   - Australia memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan,
   kalau meminjam kata-kata Bpk Karding: “Sistem yang luar biasa”.


   - Salah satu negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme
   sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.
   [image: 1304405968379346989]

   Ketua Rombongan Komisi VIII Bapak Abdul Kadir Karding memperkenalkan diri
   dan rombongan. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.

*Sesi pertanyaan *

Setelah mendengarkan paparan tadi, saya cukup mengakui bahwa Bapak Abdul
Kadir Karding (PKB) memiliki kemampuan komunikasi yang hebat. Beliau mencoba
"meredam" suasana hadirin yang ada di Ruang Bhinneka
dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yang lugas, tenang,
dan terstruktur. Mungkin inilah sebabnya beliau terpilih menjadi ketua
rombongan karena, dari apa yang saya lihat secara pribadi, beliaulah yang
memiliki kemampuan *public speaking* yang paling mencolok dibandingkan
anggota-anggota yang lain. Karena kalau dilihat, ada beberapa anggota yang
hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari
mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yang hanya mencatat, dan ada
pula yang hanya sesekali berkomentar. Kalau dilihat memang "all in all",
sepertinya memang sudah menjadi tugas Bapak Karding untuk "menjinakkan"
hadirin. :)

Pada saat sesi tanya jawab dimulai, ada 3 penanya pertama (dari beberapa
yang berusaha secara antusias):

1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S-3 Bidang Aeronautics Melbourne
University & Nano Tech dari Oxford University)

Mengenai dana yang dikeluarkan untuk 11 anggota Komisi VIII yang pergi studi
banding ke Australia, menurut perhitungan Bagus, jumlah dana yang
dikeluarkan adalah sekitar Rp 811 juta selama 6 hari atau sekitar US$ 5.000
per orang per minggu. Pertanyaannya adalah mengapa sebesar itu? Bukankah itu
dana yang sangat besar untuk dikeluarkan mengingat tingkat efektivitas yang
rendah dari hasil studi banding?

2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media)

Yuza mencoba menyangkal argumen Bapak Karding yang mempertanyakan mengapa
surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke
beliau. Menurut Yuza, karena semua *channel *yang ada telah dicoba, berikut
mengakses *website* pribadi Bapak Karding yang ternyata berstatus
"suspended". Dari *website *DPR RI pun tidak ada keterangan nomor kontak dan
alamat *e-mail *yang bisa dihubungi. Karena itu, Yuza menghubungi media
untuk meminta informasi.

Seperti telah diketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di
Canberra, Bapak Karding mengatakan bahwa alasan anggota Komisi VIII tidak
mengunjungi daerah Northern Territory (NT) adalah karena beliau menangkap
adanya “sinyal-sinyal”  keengganan dari Pemerintah Australia untuk
membolehkan mereka pergi  ke NT. Karena, menurut beliau, *issue *penduduk
miskin Aborigin di Australia adalah *issue *yang sensitif, apalagi untuk
kunjungan parlemen asing. Pada saat yang sama, Yuza mengatakan, hal yang
sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang mengadakan
penelitian di NT untuk menyurvei penduduk miskin, Pemerintah Australia
justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yang menjadi pertanyaan Yuza adalah
“sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal
yang ditangkap Bapak Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa Pemerintah
Australia enggan mengizinkan anggota Komisi VIII DPR RI pergi ke NT?
Terlebih, daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin
terbanyak di Australia.

Pertanyaan yang lain adalah mengapa kunjungan yang dilakukan  hanya mampu
menghubungi pejabat-pejabat setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada
tingkat pemerintah federal? DPR cenderung dianggap tidak siap dalam
menyiapkan bahan-bahan dan memilih narasumber (kurangnya koordinasi dan
tidak tepat sasaran)  dan kalaupun ini memang sudah dipersiapkan jauh-jauh
hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yang ditolak oleh
Pemerintah Australia?

3. Usep Abdul Matin (Mahasiswa S-3 Bidang Sosiologi Monash University)

Beliau menanyakan tentang kerukunan hidup beragama, terutama masalah
perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syiah di Indonesia.

*Sesi  Komisi VIII menjawab (hadirin mulai gelisah/gusar): *

Lagi-lagi saya harus akui kelihaian Bapak Abdul Kadir Karding untuk urusan
"skill" *public speaking*. Sepertinya beliau menguasai betul medan dan trik
untuk mengulur-ulur waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo
bicara dan berbicara hal-hal yang di luar konteks pembicaraan. Hal ini
menyebabkan waktu yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza
(Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota Komisi VIII untuk *straight to the
point* pada pertanyaan yang ditanyakan.

Salah seorang anggota Komisi VIII dalam menjawab/menanggapi pertanyaan dari
Bagus Nugroho bahkan membandingkan, anggaran yang diterima oleh Komisi VIII
dalam studi banding kali ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan
salah satu staf kementerian Australia yang katanya bisa menerima 3 kali
lipat dari apa yang diterima oleh Komisi VIII. Hello!!! Australia itu kan
pendapatan per kapitanya lebih besar dari Indonesia, Kira-kira sekitar US$
55.590 per tahun. Indonesia sekitar US$ 3.015 per tahun (*sumber Wikipedia*).
Apa mereka itu *nggak mikir *ya sebelum menjawab???

Beberapa anggota Dewan yang diberi kesempatan untuk menjawab memulai dengan
meminta kepada kawan-kawan PPIA agar tidak terkesan menghakimi/mengadili
mereka dalam dialog kali ini. Bahkan, ada yang mengalami suasana “kebatinan”
(mungkin maksudnya *feeling so emotional*) ketika mengunjungi Australia kali
ini seraya bercerita tentang beberapa anaknya yang dulu pernah bersekolah di
Melbourne, Australia, dan suaminya yang pernah menjadi ketua perhimpunan
pelajar pada saat itu. Secara pribadi, menurut saya, jawaban-jawaban yang
diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan
cenderung berputar-putar. Apakah ini suatu kesengajaan untuk mengulur waktu?
Wallahualam… hanya Tuhan yang tahu.…

Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar-putar untuk hal-hal yang
tidak penting, sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yang mulai
melakukan interupsi sehingga suasana Ruang Bhinneka menjadi gaduh. Tidak
hanya itu, beberapa kali sudah mulai terdengar suara cemoohan dan kata-kata
“huuuu…kecewaaaaa!!!”  dari hadirin.

Ketika mendekati pukul 21.00, pihak KJRI berusaha menutup sesi tanya jawab,
dengan alasan kesibukan anggota Dewan pada keesokan harinya: *which is
Sunday of course*. :)  Bukankah adalah hak kita sebagai rakyat untuk
meminta/menanyakan hal-hal yang dirasa perlu ke wakil rakyat kita di
parlemen? Pada saat itu, suasana semakin riuh dan sudah ada hadirin yang
berteriak-teriak langsung bertanya… tanpa moderator… :) terus terang suasana
sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan, ada beberapa yang langsung
meninggalkan ruangan dan langsung pulang.


*[image: 1304406245706311786]*

Salah satu anggota Komisi VIII DPR RI mencoba untuk menjawab pertanyaan yang
dilontarkan mahasiswa Indonesia di Melbourne. Courtesy of: Dirgayuza
Setiawan.



*Here comes the bomb shell…*

Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak, “Kenapa *nggak
*pakai *teleconference aja *sih Pak?” Pada saat itu, Bapak Karding menjawab,
“Wah, itu kan teknisnya terlalu rumit…."  Sontak mendengar jawaban tadi,
hadirin yang umumnya mahasiswa langsung tertawa… lalu ada lagi yang *
nyeletuk*, “Pak, mau *dibikinin account *Skype sama saya *nggak*?”

*Trus*, ada beberapa anggota Komisi VIII yang mengatakan, karena
keterbatasan waktu, kawan-kawan bisa menghubungi kami lewat *e-mail*. Tapi,
ketika serentak kami menanyakan apa alamat *e-mail *beliau, yang keluar
adalah… [email protected] :) .

Beberapa hadirin, termasuk saya, tampak kesal dengan jawaban tersebut,
kemudian hadirin  menanyakan, “Kami ingin alamat resmi Bapak!” Dan dibalas
dengan, “Nanti… nanti akan diberikan….”  Pada saat itu penyiar radio PPI
Internasional menginterupsi, “Tolong disebutkan saja Pak di sini, jadi semua
orang bisa dengar….” Bahkan dengan tantangan itu pun sepertinya mereka,
bapak-bapak/ibu-ibu anggota Komisi VIII itu, tidak tahu… apa alamat *e-mail
*resmi mereka…  Saya lihat ada 1 orang staf ahli yang mendampingi Komisi
VIII sibuk bolak-balik mencoba membagikan kartu nama (yang itu pun dalam
kartu nama tersebut tercantum alamat *e-mail *Gmail dan Yahoo ) …???

Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staf anggota Komisi
VIII) berteriak, ” KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE
ALAMAT E-MAIL: KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!!” Pada saat itu, tawa
hadirin langsung pecah.... Saya sendiri geleng-geleng kepala dan sudah tidak
tahu mau bicara apa lagi…. (selengkapnya lihat saja di sini:



Ada teman yang bilang: Wah, kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak
saya yang masih kecil juga udah bisa bikin e-mail Yahoo sendiri… :)

BTW, setelah acara selesai, salah seorang kawan mencoba mengirim *test
mail*(via BB) ke:

- [email protected]

- [email protected]

- [email protected]

- [email protected]

- [email protected]

- [email protected]

*and guess what, none of them is working*…!!! Semua *e-mail test bouncing
back *ke *sender* alias alamat yang diberikan tidak ada…!!!!

Lagi-lagi karena tidak puas, saya beserta istri dan kawan-kawan mendekati
ibu salah satu staf ahli pendamping anggota Komisi VIII dalam kunjungan
kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang, “Lihat
aja di *website *DPR, nanti kan ada daftar masing-masing kKomisi, nanti dari
situ ada alamat imelnya."

Lagi-lagi kita cek via HP, dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya,
silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id). Kalau begini, mana yang benar? Kalau
yang bekerja di DPR saja  tidak tahu alamat kontak resmi yang bisa
dihubungi, bagaimana dengan orang lain?? Dan jangan salah bahwa 1 staf DPR
memiliki 7 asisten (staf ahli), *Unfortunately* sepertinya tidak satu pun
dari ke-7 asisten beserta anggota DPR itu sendiri tahu alamat kontak resmi
mereka ??? Kalau untuk hal yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten,
bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili???

Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4
terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah
satu kekuatan ekonomi dan pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai
anggaran bertriliun-triliun rupiah untuk gedung baru, lengkap dengan
fasilitas dan tunjangan lainnya…  masih memakai alamat *e-mail *gratis untuk
kontak terhadap rakyat yang diwakilinya…??

Tidakkah mereka berpikir bahwa parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok
parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat * e-mail *dari
Yahoo/Gmail???

Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya,
yang menurut saya sangat-sangat aneh, bukan?? Bagaimana mereka mau mendengar
aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak untuk dihubungi pun
mereka kebingungan menjawabnya??

Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yang tidak puas langsung
menyerbu dan bertanya langsung ke anggota Komisi VIII. Ada dari beberapa di
antara mereka tidak membawa kartu nama!!! Bagaimana mereka ingin
memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama
saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat *e-mail
*gratis (Yahoo/Gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!

Pada saat saya mencoba bertanya kepada Bapak Karding tentang kunjungan studi
banding, saya tanyakan, “Pak, bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa
kunjungan studi banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan, tapi di saat
yang sama DPR menghambur-hamburkan uang rakyat yang akan dientaskan
kemiskinannya???”

Ironis sekali memang ternyata, dan syukur…kalau bukan karena kesempatan ini,
saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota
DPR, tapi untuk saat ini saya bisa melihat, mendengar, dan mengalaminya
sendiri di depan mata.

Saat itu kami sempat bingung dan bertanya kepada salah satu staf senior
KJRI, ”Pak, apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara
kita?” Beliau menjawab (dan mencoba berdiplomasi), “Maaf Dik, saya sendiri
belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, Adik
bisa lihat sendiri apa yang terjadi tadi.” (kayaknya beliau juga *shock*)

*Penutup*

*By the way*, beberapa kawan sebelum pulang, kita sempat bercanda, “Kayaknya
*abis malem *ini kita bakal susah tidur nih….” Dan banyak yang geleng-geleng
kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan
apa yang kita lihat.

Entah mau dibawa ke mana negara ini jika para pemegang amanahnya saja tidak
kompeten di bidangnya.

Dan, memang ternyata benar, sampai sekarang, pukul 6.30 pagi, pun saya belum
bisa tidur… :) Bahkan hingga keesokan harinya, seorang kawan berkelakar di
milis, “Mungkin coba aja imel ini: [email protected], kali aja mereka
ber-*alay* ria…he-he-he….”

*Laporan oleh: Teguh Iskanto*

*Diedit oleh: Didi Rul*

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/05/04/1721573/Inilah.Studi.Banding.DPR.di.Australia

Kirim email ke