Rektor: Orang Sunda Sulit Jadi Presiden
Selasa, 3 Mei 2011 | 23:39 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Rektor Universitas Padjadjaran
 Prof Dr Gandjar Kurnia DEA menyatakan, terlalu jauh jika masyarakat 
Sunda menuntut menjadi Presiden Republik Indonesia. Pada kenyataannya, 
mereka belum memperlihatkan prestasi yang menonjol dalam memimpin 
wilayah sendiri."Gubernur Jabar orang Sunda, para bupati dan wali
 kota di Jabar umumnya juga orang Sunda. Tapi mengapa kita begini terus?
 Kondisi alam kita terus mengalami penurunan," katanya dalam focused group 
discussion di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Selasa 
(3/5/2011).Rektor
 Unpad sepakat dengan MAW Brouwer yang mengatakan bahwa Tuhan 
menciptakan tatar Parahyangan dalam keadaan tersenyum. Sebab, kawasan 
ini memang sangat indah dan subur. Namun, sayang, tatar Pasundan saat 
ini rusak parah."Hutan lindung di Jawa Barat hampir lenyap. Pada 
musim hujan, sebagian besar wilayah ini banjir. Sebaliknya, pada musim 
kemarau, mereka tak memiliki simpanan air. Sungai yang besar tercemar, 
sedangkan sungai kecil tak lagi berbekas," katanya.Ia juga mengkritik bahwa 
masyarakat di mana-mana membuang sampah ke selokan. Budaya bersih belum menjadi 
milik warga Pasundan."Parahnya,
 (misalnya) sawah di daerah Rancaekek seperti di telaga warna. Saat 
tertentu, air sawah berwarna biru, di saat yang lain kuning. Berikutnya 
merah dan seterusnya. Semua warna partai ada di sawah di Rancaekek," 
gurau Gandjar Kurnia.Dalam paparannya bertema "Masyarakat Sunda 
dengan Alamnya", Gandjar mengemukakan, menuju masyarakat yang maju, 
adil, dan makmur harus didukung oleh lingkungan yang kondusif. Sementara
 itu, alam lingkungan di tatar Pasundan semakin tidak kondusif 
menciptakan situasi terbaik itu."Bisa jadi, kalau Albert Einstein
 lahir di tatar Pasundan, ia bukan jadi ahli fisika dan jadi pemikir 
hebat, melainkan sekadar jadi tukang bikin peuyeum (tape). Sebab, 
besar-kecilnya pemikiran seseorang sangat bergantung pada lingkungan sekitar 
yang menciptakannya," kata Gandjar.Sementara
 itu, Rektor UPI Prof Dr Sunaryo Kartadinata, MPd, mengatakan, dalam 
beberapa tahun terakhir, UPI terus menggali mutiara dalam jati diri 
masyarakat Sunda. Nilai tersebut dielaborasi untuk kemudian menjadi 
nilai bangsa dengan melakukan rekayasa sosial melalui pendidikan."Kita
 harus merumuskan tentang pendidikan kesundaan. Paling tidak, ke depan, 
kita harus memiliki pola pikir tentang pendidikan kesundaan," kata 
Sunaryo.Dalam diskusi yang dipandu Prof Dr Aminudin Aziz 
tersebut, Rektor UPI mengatakan, terdapat banyak nilai yang perlu 
digali, diinventarisasi ulang, dan kemudian diformulasikan. Nilai yang 
bagus harus diperkokoh, sementara yang sudah ketinggalan zaman bisa 
disesuaikan, bahkan yang tidak relevan diganti."Banyak nilai Sunda yang 
menunjuk pada kebijakan lokal (local wisdom).
 Hal itu ditandai dengan adanya kemampuan bertahan dari budaya luar, 
memiliki kemampuan mengakomodasikan unsur budaya luar, memiliki 
kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli, 
mempunyai kemampuan mengendalikan dan mampu memberi arah pada 
perkembangan budaya," kata Sunaryo.Dalam kesempatan itu, Rektor 
UPI memperlihatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua 
(suami-istri) dengan etnik yang sama sebanyak 77,07 persen menggunakan 
bahasa ibu, sedangkan 22,97 persen menggunakan bahasa Indonesia.Sementara
 itu, 22,92 persen suami-istri yang bukan satu suku Sunda justru 
menggunakan bahasa ibu sebanyak 81,81 persen dan 18,19 persen 
menggunakan bahasa Indonesia.Adapun Dr Mikihiro Moriyama, guru 
besar tentang Indonesia Studies dari Nanzan University Jepang, 
mengungkapkan pandangan orang Belanda tentang masyarakat Sunda.Ia
 merujuk pada sebuah ensiklopedia (anonim) yang disusun orang Belanda 
awal abad ke-20 yang menyatakan, orang Sunda memiliki beberapa sifat 
yang dirasakan sangat menarik oleh banyak orang Eropa yang pernah 
tinggal bersama bangsa itu."Dia halus, sopan, suka menolong, 
ramah, dan menghindari pertengkaran dan perkelahian. Dia sederhana, 
tidak berlebih-lebihan, tenang, pendiam, pemalu, sopan dalam pergaulan. 
Sudah barang tentu, ada pula sifat yang terselubung. Kesopanan dan 
sifatnya yang penurut sering menjadi sikap membudak dan mencari muka," 
kata Mihikiro Moriyama.Menurut dia, biasanya, orang Sunda tidak 
mempunyai inisiatif, berhemat dianggap aneh baginya, seperti halnya 
menjunjung kebenaran. "Perjudian dan perbuatan asusila menimbulkan 
banyak korban di antara orang Sunda," ujar Mikihiro Moriyama.Ia 
juga mengungkapkan, tingkah laku para pimpinan terhadap orang kecil pada
 umumnya angkuh, khususnya pada zaman dahulu, sehingga dalam hal ini tak
 ada gambaran yang menyenangkan.Mikihiro menyatakan, nilai yang 
bagus pada masyarakat Sunda harus dipertahankan. Sebaliknya, nilai yang 
sudah ketinggalan harus ditinggalkan.  

Sumber: 
http://oase.kompas.com/read/2011/05/03/23393719/Rektor.Orang.Sunda.Sulit.Jadi.Presiden

Kirim email ke