APA DAN BAGAIMANA KESENIAN SINTREN ITU ?
Sabtu, 09 September 2006 16:55
[image:
Cetak]<http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/ekonomi/138-apa-dan-bagaimana-kesenian-sintren-itu-.html#>
Isian artikel kali ini akan memuat Deskripsi Kesenian Daerah "Sintren" yang
masih hidup dan berkembang di Kabupaten Pekalongan. Artikel ini akan dimuat
secara bersambung yang sumbernya diambil dari Buku Deskripsi Kesenian
Daerah terbitan Pemerintah Kabupaten Pekalongan - Kantor Pariwisata dan
Kebudayaan, beralamat di Jl. Alun-alun No.3 Kajen Telp. (0285) 381783
Pekalongan 51161.
*DESKRIPSI KESENIAN SINTREN (BAGIAN 1)
*
MENGAPA BERNAMA SINTREN ?
Dari segi asal usul bahasa (etimologi) Sintren merupakan gabungan dua suku
kata "Si" dan "tren". Si dalam bahasa Jawa berarti "ia" atau "dia" dan
"tren" berarti "tri" atau panggilan dari kata "putri" (Sugiarto, 1989:15).
Sehingga Sintren adalah " Si putri" yang menjadi pemeran utama dalam
kesenian tradisional Sintren.
LEGENDA SINTREN
Kesenian sintren diawali dari cerita rakyat/legenda yang dipercaya oleh
masyarakat dan memiliki dua versi.
Versi pertama, berdasar pada legenda cerita percintaan Sulasih dan R.
Sulandono seorang putra Bupati di Mataram Joko Bahu atau dikenal dengan nama
Bahurekso dan Rr. Rantamsari. Percintaan Sulasih dan R. Sulandono tidak
direstui oleh orang tua R. Sulandono. Sehingga R. Sulandono diperintahkan
ibundanya untuk bertapa dan diberikan selembar kain ("sapu tangan") sebagai
sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah masa bertapanya selesai.
Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari pada setiap acara
bersih desa diadakan sebagai syarat dapat bertemu R. Sulandono.
Tepat pada saat bulan purnama diadakan upacara bersih desa diadakan berbagai
pertunjukan rakyat, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian
pertunjukan, dan R. Sulandono turun dari pertapaannya secara
sembunyi-sembunyi dengan membawa sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih yang
menari kemudian dimasuki kekuatan spirit Rr. Rantamsari sehingga mengalami
"trance" dan saat itu pula R. Sulandono melemparkan sapu tangannya sehingga
Sulasih pingsan. Saat sulasih "trance/kemasukan roh halus/kesurupan" ini
yang disebut "Sintren", dan pada saat R. Sulandono melempar sapu tangannya
disebut sebagai "balangan". Dengan ilmu yang dimiliki R. Sulandono maka
Sulasih akhirnya dapat dibawa kabur dan keduanya dapat mewujudkan
cita-citanya untuk bersatu dalam mahligai perkawinan.
Versi kedua, sintren dilatar belakangi kisah percintaan Ki Joko Bahu
(Bahurekso) dengan Rantamsari, yang tidak disetujui oleh Sultan Agung Raja
Mataram. Untuk memisahkan cinta keduanya, Sultan Agung memerintahkan
Bahurekso menyerang VOC di Batavia. Bahurekso melaksanakan titah Raja
berangkat ke VOC dengan menggunakan perahu Kaladita (Kala-Adi-Duta). Saat
berpisah dengan Rantamsari itulah, Bahurekso memberikan sapu tangan sebagai
tanda cinta.
Tak lama terbetik kabar bahwa Bahurekso gugur dalam medan peperangan,
sehingga Rantamsari begitu sedihnya mendengar orang yang dicintai dan
dikasihi sudah mati. Terdorong rasa cintanya yang begitu besar dan tulus,
maka Rantamsari berusaha melacak jejak gugurnya Bahurekso. Melalui perjalan
sepanjang wilayah pantai utara Rantamsari menyamar menjadi seorang penari
sintren dengan nama Dewi Sulasih. Dengan bantuan sapu tangan pemberian Ki
Bahurekso akhirnya Dewi Rantamsari dapat bertemu Ki Bahurekso yang
sebenarnya masih hidup.
Karena kegagalan Bahurekso menyerang Batavia dan pasukannya banyak yang
gugur, maka Bahurekso tidak berani kembali ke Mataram, melainkan pulang ke
Pekalongan bersama Dewi Rantamsari dengan maksud melanjutkan pertapaannya
untuk menambah kesaktian dan kekuatannya guna menyerang Batavia lain waktu.
Sejak itu Dewi Rantamsari dapat hidup bersama dengan Ki Bahurekso hingga
akhir hayatnya.
BENTUK PENYAJIAN SINTREN
1. pra pertunjukan, adalah saat dimulainya tabuhan gamelan sebagai tanda
akan dimulainya pertunjukan kesenian sintren dan dimaksudkan untuk
mengumpulkan massa atau penonton.
2. Dupan, yaitu acara berdoa bersama-sama diiringi membakar kemenyan
dengan tujuan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama
pertunjukan terhindar dari mara bahaya.
3. Membentuk (menjadikan) sintren.
Tahapan menjadikan sintren dilakukan oleh Pawang yang dengan membawa
calon penari sintren bersama dengan 4 (empat) orang pemain. Dayang sebagai
lambang bidadari (Jawa: Widodari patang puluh) sebagai cantriknya Sintren.
Kemudian Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan berpakain biasa dan
didampingi para dayang/cantrik. Pawang segera menjadikan penari sintren
secara bertahap, melalui tiga tahapan. Kesenian sintren disajikan secara
komunikatif antara seniman dan seniwati dengan penonton menyatu dalam satu
arena pertunjukan.
Dalam pertunjukan kesenian sintren dibagi menjadi urutan-urutan sebagai
berikut :
(Bersambung).-
http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/ekonomi/138-apa-dan-bagaimana-kesenian-sintren-itu-.html