Sigana lamun ganti ngaran tina kongres "bahasa" jadi kongres "budaya" sunda; 
bakal jadi rame.  Da ari bahasa mah ngan sakitu-kituna. Ceuk kuring dina raraga 
"lauk buruk milu mijah". :). Dijamin ngawangKONG nu teu beRES beres bakal 
haneuteun. Dimana aya nu haneut hartina didinya aya kahirupan.

Pada Ming, 10 Jul 2011 10:38 ICT Jalak Pakuan menulis:

>Gajleng, gejebur we lah.....piraku rek disaha-saha. Lamun can merenah judulna 
>KBS IX A. Ke lamun geus bulan haji atawa akhir taun rek diayakeun nu leuwih 
>sugema kantun KBS IX B. Punten ceuk kuring mah dina kaayaan ayeuna mah (isuk 
>rek prung) Just Do It, gajleng gejebur. Saenggeusna nembe 5 point asupan ti 
>Kang Djasepudin diperhatikeun jeung ditarekahan. Wilujeng ka nu bade kongres, 
>Just do it, make us proud! Gajleng norolong makarya keur ngareueuskeun sunda.
>
>
>baktos
>tirta
>
>Dari: hangjuang bodas <[email protected]>
>Kepada: [email protected]
>Dikirim: Minggu, 10 Juli 2011 6:46
>Judul: Re: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX
>
>  
>Tah ieu aya tulisan Kang Djadjas nu dimuat di Tribun Jabar poe Rebo, 6/7/2011
>
>Lima Ayat Kongres Bahasa Sunda Tidak Bergema
>Oleh DJASEPUDIN
>
>
>
>Sejak prakemerdekaan hingga pascareformasi Kongres Bahasa Sunda (KBS) 
>sedikitnya sudah empat belas kali dilaksanakan. Namun, dari tahun ke tahun 
>semangat, gema, penerapan, dan aura yang terasa dalam KBS makin menyurut.
>Padahal, ahli kesundaan saban tahun terus membengkak. Baik produksi insttitusi 
>pendidikan yang bergelar sarjana, master, dan doktor maupun yang belajar 
>secara otodidak yang menamakan diri penulis lepas atau pengamat. Dukungan dana 
>juga ayeuna mah disediakan pemerintah dan beberapa pihak swasta. Tidak hanya 
>itu, media sebagai sarana informasi juga mendukung. Terbukti beberapa media 
>cetak dan elektronik di Bandung turut terlibat. 
>Tapi, mengapa KBS IX di Bogor pertengah Juli ini masih hambar dan kurang 
>bergairah? Tentu saja, jawaban yang tepat, utuh, dan menyeluruh mesti diadakan 
>penelitian, kajian, perdebatan, dan simpulan yang mendalam. 
>Sebagai salah satu warga Bogor, Jawa Barat, yang kebetulan bersuku bangsa 
>Sunda, ada beberapa catatan yang, saya pikir, patut dicatat dan direnungkan 
>oleh réngréngan Panitia KBS IX dan pengurus Lembaga Basa & Sastra Sunda (LBSS) 
>sebagai mitra yang sering ditunjuk oleh Dinas Pariwisata dan Budaya 
>(Disparbud) untuk menyelanggarakan kongres.
>Pertama, KBS kurang sosialiasi. Kabar akan berlansungnya kongres memang sudah 
>mengemuka sekitar empat minggu kebelekang. Namun, ketika saya menanyakan kabar 
>itu kepada beberapa aktivis kesundaan dan wartawan di seputar Bandung banyak 
>yang tidak engeuh. Malah, wartawan sekaligus aktivis kesundaan Dhipa Galuh 
>Purba mah hanya menjawab “teu nyaho nanaon, apalna ogé kakara ayeuna”.
>Maka, sungguh tidak aneh jika wartawan senior dan kolumnis Karno Kartadibrata 
>menulis di rubrik Balébandung edisi 30 Juni-6 Juli mempertanyakann KBS kurang 
>aweuhanana alias kurang bergema. Karno juga mengabarkan, ada redaktur koran 
>ternama di Bandung tidak mengetahui rencana kegiatan KBS IX di Bogor. 
>Itu baru di Bandung, bagaimana jadinya dengan warga Sunda di saampar Jawa 
>Barat? Ah, boro-boro engeuh apalagi peduli, diberitahu juga. Lantas, saya juga 
>bertanya kepada beberapa guru dan aktivis kesundaan di sekitar Bogor. 
>Jawabannya hampir sama dengan Dhipa dan sejumlah aktivis Bandung: ”teu 
>nyaho-nyaho acan”. Malah, salah satu wartawan Sunda yang bergerak di Bogor, 
>mengungkapkan nada nyinyir dan satir yang kemudian kalimat itu saya umumkan di 
>jejaring sosial facebook, kalimat itu adalah “paling ogé ngan katempatan 
>wungkul, ari panitiana mah ti bandung.”
>Kedua, kurang membumi. KBS IX ini, konon, akan akan dilaksanakan di Cipayung, 
>Cisarua, Bogor, 11-13 Juli 2011. Akan tetapi, hingga tulisan ini dibuat, 
>Sabtu, 2 Juli 2011, banyak warga Bogor yang tidak mengetahui hajat warga 
>bahasa Sunda itu. Jangankan warga Jonggol di ujung timur Kabupaten Bogor atau 
>warga Jasinga di ujung Barat Kabupaten Bogor, masyarakat yang berbahasa Sunda 
>di Kota Bogor dan warga sekitar Cisarua juga banyak yang tidak tahu adanya KBS 
>IX. 
>Padahal, kelemahan tersebut bisa sedikit diminimalisasi jika Panitia KBS mau 
>merangkul warga dan wartawan Bogor dengan penuh kesadaran dan keterbukaan.. 
>Jika mau merangkul dan terbuka mah tidak akan tercetus ungkapan “paling ogé 
>ngan katempatan wungkul, ari panitiana mah ti bandung.”
>Ketiga, terlalu Bandung. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung menjadi puat di 
>pelbagai bidang. Tidak terkecuali Bandung. Beragam kegiatan berikut 
>kepanitiaan kegiatan di Jawa Barat sering didominasi warga atau aktivis 
>Bandung. Masyarakat di daerah hanya dilibatkan sebagai pendukung saja. Bahkan, 
>dalam pelaksanaan KBS IX hal itu makin berasa dan kentara.
>Tidak hanya kepanitiaan, peserta, dan pengisi acaranya juga umumnya dikuasai 
>oleh orang Bandung. Dengan demikian keterlibatan daerah terkesan hanya 
>seperlunya. Dalam tataran ini, disadarai atau tidak, diakui atau tidak, 
>aktivis Bandung itu merasa yang paling pintar dan superior. 
>Sebagai bukti, salah satu majalah berbahasa Sunda yang terbit di Bogor dan 
>diisi umumnya oleh warga Bogor tidak diundang menghadiri acara KBS IX. 
>Redaktur, pemimpin redaksi, skretaris redaksi, atau pimpinan majalah 
>dwibulanan yang sudah 17 kali terbitan itu tidak satu orangpun diundang 
>sebagai peserta. Padahal, di antara mereka, jangankan diundang sebagai 
>peserta, diundang sebagai pembicara atau pemakalah sekalipun sangat pantas. 
>Jika panitia KBS atau orang-orang Disparbud dan LBSS tidak mengetahui majalah 
>Balébat, umpanya, kacida teuing. Sebab, majalah tersebut tidak hanya beredar 
>di Bogor, tapi meneyebar juga ke Jakarta, Sukabumi, Bandung, dan Jatinangor. 
>Maka, ketika awak redaksi majalah tersebut tidak diundang leuwih ti kacida 
>teuing.
>Sebab, majalah yang kantor redaksiya di sekitar Ciampea dan dipimpin oleh 
>Hendra M. Astari itu, saya pikir, memahami betul perkembangan bahasa dan 
>sastra Sunda di sekitar Bogor. Sebab, selain mengurus majalah juga secara 
>rutin berhubungan langsung dengan sejumlah guru dan mempertanykan perkembangan 
>bahasa Sunda di kabupaten dan kota Bogor.
>Keempat, tidak peka. Peringatan dari sebagian warga Jabar tentang kurang 
>bergemanya KBS IX tidak cepat dicarikan jalan keluar yang cepat dan tepat. 
>Sebab, sedikitpun info yang didapat tentang KBS IX sejatinya mesti ada reaksi, 
>evaluasi, solusi, dan antisipasi. Ini mah tidak, padahal, jika ingin sukses, 
>masukan, harapan, atau cibiran sekalipun dan dari siapapun mesti ditanggapi 
>dengan penuh kesadaran dan keterbukaan.
>Kelima, asal aya. Pelaksanaan KBS IX sejauh yang saya tahu hanya memenuhi 
>proyek lima tahunan saja. Dengan demikian kegiatan tersebut digarap sahinasna. 
>Maka, saya sependapat dengan ungkapan Ajip Rosidi pada tahun 2005 di majalah 
>Manglé dan koran Pikiran Rakyat bahwa, KBS hanya proyek menghambur-hamburkan 
>uang rakyat, lebih baik uang tersebut digunakan untuk kepetingan yang lebih 
>berguna.
>Menutup artikel ini saya teringat lontaran Hawe Setiawan pada tahun 2005 
>bahwa, sejumlah rekomendasi yang dihasilkan (KBS) pada umumnya hanya berupa 
>usulan, ajakan, atau pun imbauan. Tidak ada satu pun rekomendasi merupakan 
>program kerja yang akan dilaksanakan LBSS. Benarkah begitu? Mudah-mudahan 
>tahun ini mah tidak.
>Yang jelas, wilujeng kongres para Juragan.
>
>Djasepudin, kolumnis, tingggal di Bogor.
>
>--- On Sat, 7/9/11, Ki Hasan <[email protected]> wrote:
>
>
>>From: Ki Hasan <[email protected]>
>>Subject: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX
>>To: "Ki Sunda" <[email protected]>
>>Date: Saturday, July 9, 2011, 6:51 PM
>>
>>
>>  
>>Kongres teh tanggal 11-13 Juli nya. Atuh isukan.
>>Ngulayaban wartana di Internet, berekah teu manggih hiji-hiji acan, kajaba 
>>warta PR poe ieu jeung serelek ti MJ.
>>Sakitu fasilitas Internet aya, jigana panitia kongres kacida pisan sibukna 
>>nya, nepi ka teu sempet migunakeun fasilitas Internet pikeun ngabewarakeun 
>>ieu kongres ka balarea. 
>>
>>
>>2011/7/10 Ki Hasan <[email protected]> 
>>
>>>
>>>
>>>Kongres Bahasa Sunda IX Siap Digelar di Cipayung
>>>Sabtu, 09/07/2011 - 18:55 
>>>BANDUNG, (PRLM).- Kongres Bahasa Sunda IX digelar Senin (11/7) hingga Rabu 
>>>(13/7), di Hotel Jaya Raya Cipayung, Bogor, Jawa Barat. Kongres ini 
>>>dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Sunda akan pentingnya 
>>>melestarikan, membina dan mengembangkan bahasa Sunda sebagai identitas 
>>>daerah dan kekayaan budaya nasional.
>>>“Masyarakat Sunda tidak akan mengenal dengan baik kebudayaannya apabila 
>>>tidak memahami bahasanya, yaitu bahasa Sunda,” kata Sekretaris Panitia 
>>>Pelaksana Dr. Dingding Haerudin, M.Pd., di Bandung, Sabtu (9/7).
>>>Menurut Dr. Dingding Haerudin, suku bangsa Sunda, seperti halnya suku bangsa 
>>>lain di Nusantara semakin sadar akan pentingnya melestarikan, membina dan 
>>>mengembangkan bahasa, sastra dan huruf Sunda di tengah kehidupannya. 
>>>Kesadaran itu sesuai dengan inti yang terkandung dalam kebijakan otonomi 
>>>daerah yang bertumpu pada harapan agar setiap daerah mengetahui potensinya 
>>>sendiri, sehingga mampu melangkah tegap dalam kiprah pembangunan bangsa dan 
>>>negara, di samping sesuai dengan perubahan sistem pemerintahan yang 
>>>sentralistis menjadi desentralisasi, dengan tetap mempertahankan integritas 
>>>Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
>>>Hal tersebut tersirat pada Pasal 32 UUD 1945 (mengenai kebudayaan) yang 
>>>memiliki hubungan erat dengan Pasal 36 (mengenai bahasa), kata Dingding 
>>>Haerudin. Hubungan itu lebih jelas tampak dalam penjelasan masing-masing 
>>>pasal. “Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak kebudayaan daerah 
>>>di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa”, demikian bunyi 
>>>salah satu kalimat penjelasan pasal 32. Bahasa-bahasa itu pun merupakan 
>>>sebagian dari kebudayaan” demikian bunyi seluruh kalimat penjelasan pasal 36 
>>>UUD 1945.
>>>Dikatakannya, budaya daerah merupakan salah satu kekuatan yang mendukung 
>>>tegapnya langkah. Sedangkan bahasa daerah pada hakikatnya merupakan pintu 
>>>gerbang untuk memasuki wilayah kebudayaan daerah sebagai bagian dari 
>>>kebudayaan nasional.
>>>Karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, dengan istilah sekarang 
>>>salah satu unsur kebudayaan, dan bahasa merupakan alat komunikasi pendukung 
>>>utama serta perekam kebudayaan suatu bangsa, suku, marga, pribadi dalam 
>>>bentuk tutur dan sebagainya, dan tidak ada bangsa yang tidak mempunyai 
>>>bahasa, walaupun sangat sederhana, maka bahasa pun merupakan puncak dari 
>>>kebudayaan bangsa, khususnya bagi masyarakat daerah Jawa Barat dan 
>>>sekitarnya serta penutur bahasa Sunda dialek, seperti Cirebon, Indramayu, 
>>>Bekasi, dan Depok dan dialek lainnya, itu semua merupakan buah usaha budi 
>>>bangsa, sebagai masyarakat penutur bahasa Sunda.
>>>“Itu sebabnya sebunyi dengan penjelasan di atas, bahasa-bahasa daerah 
>>>seperti bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan sebagainya yang dihormati dan 
>>>dipelihara negara, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Hal itu 
>>>mengisyaratkan bahwa pemakaian, pemeliharaan, dan perkembangan bahasa daerah 
>>>diatur dengan undang-undang,” ujar Dr. Dingding..
>>>Dr. Dingding menjelaskan, Kongrés Basa Sunda IX merupakan forum bagi 
>>>masyarakat Sunda untuk membahas perkembangan berbagai aspek kebahasasundaan. 
>>>Kongres yang akan diselenggarakan ini merupakan pelaksanaan dari amanat 
>>>masyarakat Sunda yang menghendaki dilakukannya kajian terhadap semua aspek 
>>>kebahasasundaan setiap kurun waktu lima tahunan.
>>>Diungkapkan, Kongrés Basa Sunda I dilaksanakan tahun 1954 di Bandung; 
>>>Kongrés Basa Sunda II pada tahun 1956 di Bandung; Kongrés Basa Sunda III 
>>>pada tahun 1958 di Bandung; Kongrés Basa Sunda IV pada tahun 1961 di 
>>>Bandung; Kongrés Basa Sunda V pada tahun 1988 di Cipayung, Bogor; Kongrés 
>>>Basa Sunda VI pada tahun 1993 di Bandung; Kongrés Basa Sunda VII pada tahun 
>>>2001 di Garut, dam Kongres Basa Sunda VIII pada tahun 2005 di Subang.
>>>“Dalam kehidupan masa kini, perkembangan bahasa Sunda ada yang 
>>>menggembirakan namun tak sedikit pula yang mengkhawatirkan. Yang 
>>>menggembirakan, seyogianya didukung dan dikembangkan agar semakin memuaskan. 
>>>Sedangkan yang mengkhawatirkan sepatutnya diupayakan untuk ditanggulangi 
>>>secepatnya. Itulah yang melatarbelakangi Lembaga Basa jeung Sastra Sunda 
>>>menetapkan Kongres Basa Sunda IX, di samping melaksanakan program kerja dan 
>>>amanat kongres basa Sunda sebelumnya,” ujar Dingding.
>>>Kongrés Basa Sunda IX ini akan diikuti 250 orang yang terdiri atas panitia, 
>>>pemakalah, dan peserta, yang terdiri dari unsure birokrat di bidang 
>>>pemerintahan, pendidikan, kebudayaan dan kebahasaan tingkat pusat, provinsi, 
>>>kabupaten/kota Jawa Barat dan luar Jawa Barat; LSM Kesundaan di Jawa Barat 
>>>dan di luar Jawa Barat; pakar bahasa Sunda dari berbagai perguruan tinggi di 
>>>Jawa Barat dan luar Jawa Barat; para guru bahasa Sunda dan sastrawan Sunda; 
>>>para tokoh masyarakat Sunda; dan para tokoh di luar masyarakat Sunda. (Rls. 
>>>Wakhudin Abubakar/A-88)***
>>>http://www.pikiran-rakyat.com/node/151339
>>>
>>>
>>> 



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke