Tokoh di sekitar proklamasi cenah diantarana: Chaerul Shaleh, Darwis,
Wikana, Ahmad Soebarjo, Sujarni, Yusuf Kunto, Singgih, Soekarno-Hatta, Ibu
Fatmawati, Laksamana Tasadhi Maeda, Sukarni, jeung Sayuti Melik.

Urang cobaan susud hiji-hiji. Mun kapanggih kitu ge nya. Hehehe.

Urang mimitian ku Wikana, nu cenah urang Sumedang.

=====
Mencari Wikana (1)
Sepakterjang Pemuda dari Sumedang
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:23:10 WIB

*Dia berperan penting pada hari-hari buncit menjelang proklamasi. Hidupnya
berakhir tragis.*

PADA lokasi bekas rumah bersejarah di jalan Pegangsaan Timur No. 56 berdiri
sebatang tiang menjulang tinggi dengan simbol petir di pucuknya. Sederet
kalimat tertera pada dasar tiang itu: “*Disinilah Dibatjakan Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung
Karno dan Bung Hatta.”*

Enam puluh lima tahun lalu, sesosok pemuda kurus berambut klimis berkacamata
minus mendatangi rumah bersejarah yang dulu masih berdiri tegak. Wikana,
pemuda itu, ditemani pemuda lain, Aidit, kelak menjadi orang nomor satu
Partai Komunis Indonesia (PKI), Darwis, Yusuf Kunto dan Soebadio
Sastrosatomo. Kepada Bung Karno Wikana meyakinkan kalau kemerdekaan harus
segera diumumkan malam ini juga, kalau tidak “besok akan terjadi pertumpahan
darah,” kata Wikana setengah mengancam. Bung Karno tersinggung. Dia
membentak balik Wikana seraya menantang menyembelih lehernya malam itu juga,
“Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini
juga. Jangan menunggu sampai besok pagi!”

Cuplikan adegan itulah yang melambungkan nama Wikana sebagai pemuda
revolusioner dan banyak dikutip di dalam kitab-kitab sejarah. Selebihnya,
samar-samar. Padahal ada banyak peran penting lain yang dimainkannya. Dia
pernah aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, mulai Angkatan Pemuda
Indonesia (API) sampai Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Setahun setelah
proklamasi, dia juga tercatat pernah menjadi Menteri Negara Urusan Pemuda
selama empat kali periode kabinet, dua kali dalam kabinet Sjahrir dan dua
kali pada kabinet Amir Sjarifuddin.

Wikana terlahir dari keluarga menak Sumedang. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman,
pendatang dari Demak, Jawa Tengah. Kendati menak merupakan golongan yang
mendapatkan previlese semasa penjajahan, tidak demikian halnya dengan
keluarga Wikana. “Dia datang dari keluarga perjuangan, kakaknya, Winanta
seorang Digulis,” kata Soemarsono, tokoh pemuda angkatan ’45 yang ditemui
pekan lalu (12/8) oleh *Majalah Historia Online* di kediaman putrinya di
Bintaro, Jakarta Selatan.

Boleh dibilang Wikana punya otak encer. Sebagai anak priayi, dia punya hak
untuk mengenyam pendidikan. Tapi untuk masuk ELS (Europeesch Lagere School),
sekolah dasar yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, tidak cukup
bermodal anak raden saja. Kemampuan bahasa Belanda dan kepintaran si anak
menjadi standar utama. Wikana kecil memenuhi syarat itu dan berhasil lulus
dari ELS. Lepas dari ELS Wikana melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid
Lager Onderwijs). Semasa muda itulah Wikana sempat menjadi salah satu dari
sekian pemuda satelit Bung Karno di Bandung.

Selain menguasai bahasa Belanda, Wikana juga pandai bercasciscus bahasa
Inggris, Jerman, Prancis dan Rusia. Tati Sawitri Apramata, putri ketiga
Wikana, mengenang ayahnya sebagai kutu buku yang pandai berbahasa asing.
“Bapak bisa banyak bahasa, hobinya baca buku. Pulang dari sidang, selalu
bawa buku, dari mana-mana selalu buku yang dibawa,” kenang perempuan berusia
61 tahun yang kini tinggal di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur itu. Sidang
yang dimaksud Tati adalah sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
(MPRS), di mana ayahnya menjadi anggota.

Sosok Wikana yang cerdas dan tajam diamini oleh Soemarsono. Menurut lelaki
yang pernah satu kos dengan Achmad Azhari, kawan sekerja Wikana, pemuda dari
Sumedang itu dikenal sebagai orang yang tak banyak bicara, cerdas, dan
tajam. Kepada Wikana pula Soemarsono sempat berguru soal teori-teori dalam
dunia politik. “Dia yang mengajari saya tentang terminologi dan
istilah-istilah dalam politik,” kata Soemarsono yang telah mengenal Wikana
sebelum Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Bukan saja Soemarsono, Aidit
dan MH Lukman termasuk anak muda yang mengagumi pemimpin PKI Jawa Barat
itu.

Dua tahun sebelum Jepang mendarat di Indonesia, Wikana, bersama dengan Adam
Malik dan Pandu Kartawiguna sempat masuk kerangkeng atas tuduhan subversif
terhadap pemerintah kolonial. Dia menyebarkan pamflet *Menara Merah* yang
punya kaitan dengan PKI bawah tanah. PKI sendiri telah dilarang oleh
pemerintah kolonial pascapemberontakan 1926.

Trikoyo Ramidjo, salah satu anggota PKI yang sempat terlibat dalam upaya
pembangunan kembali partai setelah Madiun *affairs,* mengatakan kalau Wikana
memang anggota PKI bawah tanah. “Dia jadi anggota partai sejak tahun
1930-an, cita-citanya jelas sekali untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar pria
yang pernah melewati masa kecilnya di Boven Digul, Papua mengikuti ayahnya
sebagai tahanan politik kolonial.

Tak hanya sebagai anggota PKI bawah tanah, Wikana juga tercatat pernah aktif
sebagai anggota Partai Indonesia (Partindo) yang didirkan oleh Mr Sartono
pada 1931 pascapenangkapan Bung Karno. Pada 1938 ketika Barisan Pemuda
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan, dia terpilih sebagai ketuanya
yang pertama. Keyakinannya yang anti-kolonialisme mendorong Wikana aktif
mengikuti berbagai organisasi politik yang melawan Belanda secara frontal.

Semasa zaman kolonial, Wikana menjadi pemimpin PKI bawah tanah di Jawa
Barat. Ia juga berkawan dekat dengan Widarta tokoh PKI bawah tanah yang
bertanggungjawab di wilayah Jakarta. Widartalah yang merekrut Aidit dan MH
Lukman masuk PKI namun ironisnya harus mati karena keputusan internal
partainya sendiri. Sohib Wikana itu diadili *in absentia* oleh Amir
Sjarifuddin gara-gara menjalankankan kebijakan yang dianggap tak sejalan
dengan garis partai pada peristiwa Tiga Daerah di wilayah karesidenan
Pekalongan. Sebuah eksekusi di Pantai Parangtritis meringkus nyawanya.

Berbeda dengan Widarta yang meregang nyawa di ujung bedil, karier Wikana
jalan terus. Dia menjadi tokoh pemuda dari sekian banyak pemuda yang
bergerak di pusaran arus revolusi. Ketokohan Wikana mendapatkan pengakuan
dan karena itulah dia dipercaya oleh Perdana Menteri Sjahrir untuk duduk
sebagai menteri negara urusan pemuda dalam kabinet Sjahrir kedua dan ketiga.
Tak jelas capaian apa yang dia buat semasa memegang jabatan itu.

Tapi jalan terang hidup Wikana mulai meredup setelah peristiwa Madiun 1948.
Posisinya sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta digantikan oleh Gatot
Subroto. Sampai tahun 1950-an dia masih tercatat sebagai anggota Comite
Central (CC) PKI yang mulai menggeliat di bawah kepemimpinan triumvirat
Aidit, Njoto dan Lukman. Namun praktis Wikana tak memainkan peran penting
sebagaimana yang pernah dilakukannya pada era-era awal revolusi. Dia punya
posisi yang lumayan terhormat: sebagai anggota MPRS, anggota Dewan
Pertimbangan Agung (DPA) dan sejumlah aktivitas organisasi lainnya.
Satu-satunya yang dia tak miliki adalah kekuasaan, baik di pemerintahan
maupun di dalam partai.

Beberapa pekan sebelum peristiwa G.30.S 1965 terjadi, Wikana berserta
beberapa elemen PKI lainnya pergi ke Peking untuk menghadiri perayaan hari
Nasional Cina 1 Oktober 1965. Tapi sontak terdengar kabar dari tanah air
tentang insiden penculikan dan pembunuhan para jenderal. PKI disalahkan.
Delegasi terceraiberai. Wikana meminta anggota delegasi lain untuk tetap
berada di Peking selagi menunggu kepastian dari berita yang simpang siur.
Dia sendiri memilih pulang ke tanah air. “Kalau harus mati, saya pilih mati
di tanah air,” kata Wikana sebagaimana dikatakan oleh Abriyanto, cucu
menantu yang beberapa waktu belakangan tekun menyusun biografi Wikana.

Wikana benar. Kurang dari setahun setelah peristiwa G.30.S 1965, dia
ditangkap. Sempat bermalam di Kodam Jaya namun dipulangkan kembali. Tak
berapa lama kemudian segerombolan tentara tak dikenal datang ke rumahnya di
Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Mereka membawa Wikana dan
sampai hari ini, pemuda garang yang sempat membuat Bung Karno naik pitam
itu, tak pernah kembali pulang. Dia hilang tak tentu rimbanya. *[BONNIE
TRIYANA]*

*
http://www.majalah-historia.com/berita-301-sepakterjang-pemuda-dari-sumedang.html
*

Kirim email ke