Mencari Wikana (3)
Lakon dalam Pusaran Revolusi
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:16:22 WIB

*Relasi Wikana yang luas di kalangan intelijen Jepang berhasil mengamankan
pembacaan teks proklamasi.*

KEMAYORAN, pada sebuah sore, 14 Agustus 1945. Beberapa pemuda berkumpul di
sebuah kebun pisang dekat lapangan terbang Kemayoran. Saat itu Chaerul
Saleh, Asmara Hadi, A.M. Hanafi, Sudiro, S.K. Trimurti dan Sajuti Melik
berniat menemui Bung Karno dan Bung Hatta yang kabarnya akan mendarat dari
Saigon, Vietnam. Sesuatu telah membuat mereka gundah. Jepang telah kalah
perang sementara kemerdekaan untuk Indonesia direken sebagai hadiah Jepang.

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta menapakkan kaki keluar dari tangga dan
berjalan menjauhi pesawat tiba-tiba para pemuda itu menghampiri keduanya.

“Selamat datang kembali Bung Karno, Bung Hatta. Kami semua menunggu
oleh-oleh yang Bung bawa dari Saigon,” kata Chaerul Saleh

“Pokoknya kemerdekaan sudah dekat. Kita semua harus siap,” sahut Bung Karno.

“Proklamirkan kemerdekaan sekarang juga Bung,” timpal Chaerul Saleh.

“Kita tidak bisa bicara soal itu di sini, Kempetai mengawasi kita. Bubarlah!
Nanti kita bicarakan lagi,” tandas Bung Karno menutup percakapan.

Bung Karno dan Bung Hatta pergi begitu saja dan terkesan tak menghiraukan
anak-anak muda itu. Mereka pun membubarkan diri kenang A.M. Hanafi dalam
bukunya *Menteng 31 Jembatan Dua Angkatan*. Bola panas dari pertemuan itu
masih terus bergulir pada beberapa jam ke depan.

Dalam pertemuan itu Wikana tidak hadir. Dia masih berada di kantor Subardjo
di jalan Kebon Sirih. Menurut Suhartono, dalam buku *Kaigun Penentu Krisis
Proklamasi,* meski saat itu Subardjo termasuk golongan tua dan Wikana
golongan muda, namun keduanya dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat.
Ketika Maeda meminta Subardjo untuk mendirikan sebuah asrama pendidikan
pemuda-pemuda Indonesia yang kemudian diberi nama Asrama Indonesia Merdeka,
Subardjo meminta Wikana untuk mengepalai Asrama itu yang terletak di Jalan
Bungur Raya 56.  Di Asrama itu Wikana, atas permintaan Subardjo, mengadakan
diskusi-diskusi politik dan kebangsaan yang  menghadirkan Sukarno, Mohammad
Hatta, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Sjahrir, RP Singgih, J. Latuharhary,
Maramis, dan Buntaran sebagai pembicaranya.

Malam harinya sekitar pukul 20.00 para pemuda yang sempat menemui Bung Karno
dan Bung Hatta di Kemayoran kembali berkumpul di belakang *Eijkman* *
Instituut* (Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur No. 17 sekarang
Fakultas Kesehatan Masyarakat UI-*Red*). Di sana pemuda dari kelompok
Menteng 31 seperti Chaerul Saleh, Djohar Noer, Abu Bakar Lubis, Armansyah,
dan Subadio Sastrosatomo sudah menunggu. Kali ini Wikana turut serta bersama
Aidit. Mereka kembali membahas rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada pukul 23.00 diputuskan untuk mengirim perwakilan pemuda menemui Bung
Karno dan Bung Hatta. Wikana dipilih menjadi ketua utusan sekaligus juru
bicara. Pertimbangannya, dia dianggap sudah kaya pengalaman berorganisasi.
Wikana pernah menjadi anggota Barisan Pemuda Gerindo, Laskar Jawa Barat,
Angkatan Pemuda Indonesia. “Saat itu Wikana termasuk yang paling senior. Dia
sudah menjadi *top figure,*” kata Soemarsono.

Bersama Chaerul Saleh, Subadio Sastrosatomo dan beberapa pemuda lain Wikana
menuju kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Di sana rupanya
sudah ada Bung Hatta, Subarjo, Iwa Kusumasumantri, Joyopranoto dan Buntaran.
Setelah menjelaskan maksud kedatangannya Wikana mulai melobi Bung Karno.

“Proklamasi kemerdekaan harus segera dibacakan,” kata Wikana

“Tunggu sebentar…” kata Bung Karno meminta pertimbangan tokoh-tokoh yang
lain.

“… Kami tidak setuju kalau pemuda-pemuda yang memproklamasikan kemerdekaan,
kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap. Boleh coba! Saya ingin
melihat kesanggupan saudara-saudara,” Bung Hatta menantang.

“Kalau Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, di Jakarta besok akan
terjadi pertumpahan darah yang amat dahsyat…”

Mendengar ucapan Wikana yang bernada ancaman, Bung Karno naik darah.
Setengah melompat dia berdiri di hadapan Wikana.

“Ini batang leherku. Seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam
ini juga jangan menunggu besok…” Wikana terkejut mendengar kekukuhan hati
Bung Karno. Dia sebenarnya tidak bermaksud mengancam namun “Bung Karno salah
paham,” kata Soemarsono

Dalam autobiografinya, *Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat*, dia
menceritakan alasan penolakannya. Saat itu Bung Karno merasa bahwa para
pemuda belum memiliki kesiapan total bila sewaktu-waktu terjadi bentrokan
fisik melawan kekuatan senjata Jepang. Sedangkan Harry Poeze dalam *Tan
Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia* mengatakan penolakan Bung Karno
dan Bung Hatta karena keduanya tak ingin meninggalkan anggota Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sudah berada di Jakarta untuk
rapat.

Yang jelas lobi Wikana gagal. Menjelang sahur pukul 1.30 dini hari para
pemuda akhirnya undur diri. Mereka melanjutkan rapat ke Asrama BAPERPI
(Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia), Jalan Cikini No. 71, tak
jauh dari kediaman Bung Karno.

Saat itu asrama merupakan eksponen penting dalam merancang strategi-strategi
perjuangan menuju kemerdekaan. Ada tiga asrama yang saat itu popular sebagai
dapur dialektika kebangsaan, rapat-rapat rahasia, dan merancang strategi
perjuangan. Asrama Menteng 31, Asrama Indonesia Merdeka, dan Asrama Cikini
71. Menurut Ben Anderson dalam buku *Revolusi Pemuda*, asrama menjadi tempat
yang penting bagi sejarah pergerakan kaum muda Indonesia di zaman pendudukan
Jepang.

Hasil rapat para pemuda kemudian memutuskan kemerdekaan harus dinyatakan
sendiri oleh rakyat, jangan menunggu kemerdekaan dari Jepang. Para pemuda
juga berencana untuk menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari tangan
Jepang. Para pemuda sepakat untuk membawa kedua tokoh keluar Jakarta,
pilihan lokasi jatuh ke Rengasdengklok, Karawang.

Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya *Sekitar Proklamasi 17 Agustus
1945 *pukul 6.00 pagi sebuah mobil keluar dari Cikini 71 membawa beberapa
orang yang akan menculik Bung Karno. Chaerul Saleh, Wikana, dan dr. Muwardi
pergi ke Pegangsaan Timur No. 56 untuk membangunkan Sukarno dan menyiapkan
keberangkatan. Sementara itu Sukarni dan Yusuf Kunto menuju kediaman Bung
Hatta di Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro-*Red*).

Kepada Bung Karno Wikana mengatakan, “Situasi gawat dan tidak stabil Bung
harus disingkirkan!”

“Lalu bagaimana dengan istri dan anakku.”

“Dibawa sekalian saja Bung. Segera kemasi barang-barang.”

Sementara itu, kelompok pemuda yang mendapat tugas mengambil Bung Hatta
menggunakan dalih bahwa Bung Karno memanggil Bung Hatta karena ada situasi
genting. “Para pemuda tahu Bung Hatta tidak bisa diancam apalagi
ditakut-takuti makanya mereka menggunakan nama Bung Karno untuk membawanya,”
tutur Soemarsono.

Tapi ternyata di Rengasdengklok para pemuda juga gagal membujuk Bung Karno
dan Bung Hatta untuk membacakan proklamasi. Sementara itu di Jakarta muncul
kepanikan karena hilangnya Bung Karno dan Bung Hatta. Subardjo dan Sudiro
kemudian membujuk Wikana untuk mengatakan di mana Bung Karno dan Bung Hatta
berada. Setelah mendengar janji Subardjo untuk membantu melaksanakan
proklamasi kemerdekaan Wikana akhirnya tak kuat hati untuk terus menyimpan
rahasia. Kepada Subardjo dan Sudiro dia ceritakan di mana Bung Karno dan
Bung Hatta disembunyikan.

“Nyanyian” Wikana ini sempat disesalkan oleh Chaerul Saleh dan A.M. Hanafi.
“Saya dan Chaerul Saleh menggasak Wikana habis-habisan. Tapi mau apalagi?!
Untunglah dia mengakui kesalahannya kalau tidak habislah namanya sebagai
pejuang di mata kami,” kata A.M. Hanafi mengungkapkan kekesalannya.

Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada Subardjo
langsung menjemput keduanya kembali ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan
beberapa pemuda yang memang sengaja ditinggal di Jakarta untuk memantau
situasi mengadakan rapat dadakan. Saat itu hadir Wikana, A.M. Hanafi,
Pardjono, Pandu Kartawiguna, Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar.
Masing-masing membagi tugas untuk persiapan penyelenggaraan proklamasi.
Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar bertugas menghubungi kantor berita
* Domei* dan kantor Radio *Hosokioku*. Pardjono mengurus stensil dan
penyebaran kabar proklamasi kemerdekaan.

Sementara itu Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi
di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Maeda untuk
menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. Wikana
pulalah yang mengatur agar para Kaigun (Angkatan Laut Jepang) untuk tidak
mengganggu jalannya proklamasi. Melalui perantara Subardjo, Wikana memang
punya hubungan luas di kalangan Jepang, tidak terkecuali di kalangan
intelijen Kaigun. Karena perannyalah perhelatan proklamasi aman dari jamahan
Kempetai yang bisa saja menghabisi para tokoh itu sewaktu-waktu.

Dini hari 17 Agustus 1945 setelah kembali dari Rengasdengklok Bung Karno dan
Bung Hatta langsung mengadakan rapat bersama beberapa tokoh pemuda lain di
antaranya Sukarni dan B.M. Diah untuk merumuskan teks naskah proklamasi.
Setelah dirasa pas, Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya menandatangani teks
naskah proklamasi pada pukul 04.00 dinihari di kediaman Laksamana Maeda di
Jalan Imam Bonjol No. 1. Proklamasi baru dibacakan pagi hari pukul 10.00 di
teras depan kediaman Bung Karno. Wikana sempat pula ketar-ketir karena si
Bung Besar itu sedang kambuh sakit malarianya. Namun kekhawatirannya pupus
ketika Bung Karno membacakan naskah proklamasi itu. Dan Indonesia pun
menyatakan kemerdekaannya.*[JAY AKBAR]*

*
http://www.majalah-historia.com/berita-299-lakon-dalam-pusaran-revolusi.html
*

Kirim email ke