Mencari Wikana (2)
Anak Menak Revolusioner
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:20:03 WIB

*Lahir dari keluarga priayi bukan halangan untuk jadi pejuang. Sangat
membenci penjajah. *

MUNGKIN Nonoh tak pernah menyangka kalau anak lelakinya itu kelak menjadi
seorang pemuda yang punya peran menentukan dalam periode revolusi Indonesia.
Dia lahir pada 16 Oktober 1914 di Sumedang, Jawa Barat sebagai anak
keempatbelas dari enambelas bersaudara. Ayahnya Raden Haji Soelaiman,
seorang pendatang Demak, Jawa Tengah.

Wikana lahir pada tahun yang sama ketika Belanda memperkuat pertahanan kota
Sumedang dari serangan musuh. Pada masa Perang Dunia I (1914-1918) Belanda
membangun benteng-benteng di sekitar kota Sumedang. Perjuangan politik bukan
hal baru buat keluarga menak itu. Kakaknya Winanta, pernah ditahan di Boven
Digul atas tuduhan terlibat pemberontakan komunis 1926. Wikana muda belajar
politik pada Winanta yang menuangkan pengalamannya selama di Digul dalam
buku “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul”* *yang disunting
oleh Pramoedya Ananta Toer dalam *Cerita Dari Digul.*

Menurut Ben Anderson, Wikana mengenyam pendidikan di ELS *(Europeesche
Lagere School)* dan MULO *(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)*.  “Setelah
lulus dari MULO pada 1932, Wikana bergerak dengan penanya dalam
mingguan *Fikiran
Rakjat* di Bandung. Dia masuk menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo)
cabang Bandung,” tulis mingguan *Merdeka*, 15 Mei 1947. Partindo merupakan
pecahan dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pascapenangkapan Bung Karno.
PNI-Baru yang lain didirikan oleh Bung Hatta dengan mengganti “Partai”
menjadi “Pendidikan” sesuai dengan nafas politiknya.

“Wikana (bersama Asmara Hadi, Soepeno, Sukarni, Goenadi, dan SK. Trimurti-*
Red*) pernah menjadi anak didik Sukarno di Bandung (Sukarno bergabung dengan
Partindo pada 1 Agustus 1932-*Red*),” tulis Anderson dalam *Revolusi Pemuda:
Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa* *1944-1946.*

Wikana juga mempunyai hubungan erat dengan sekolah Taman Siswa di Jawa
Barat. Bahkan, “Wikana merupakan produk Taman Siswa yang terkemuka,” tulis
LK Hing dalam *The Taman Siswa in Postwar Indonesia. *

“Wikana kemudian hijrah ke Surabaya pada 1935. Di sana dia memimpin mingguan
*Pedoman Masjarakat Baroe*. Pada 1938, dia kemudian pindah ke Jakarta dan
memimpin harian *Kebangoenan*. Pada tahun itu juga dia diangkat menjadi
Penulis Umum II Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo),” tulis mingguan *
Merdeka*, 15 Mei 1947.

Gerindo yang didirikan pada 24 Mei 1937 di Jakarta oleh Amir Sjarifuddin dan
Muhammad Yamin lahir setelah gerakan non-kooperatif yang dilancarkan
Partindo dibubarkan pada November 1936, dan PNI-Baru lumpuh. Kandasnya
gerakan non-kooperatif menimbulkan pemikiran baru yaitu gerakan kooperatif
dengan Belanda untuk melawan ancaman fasisme, terutama fasisme Jepang.

Pada Kongres Gerindo pertama di Jakarta, 20-24 Juli 1938, AK Gani terpilih
sebagai Ketua dan Amir Sjarifuddin sebagai Wakil Ketua. Dan pada Kongres
Kedua, 24-30 Juli 1939* *di Palembang, Amir Sjarifuddin terpilih menjadi
Ketua dan Wilopo sebagai Wakil Ketua Komite Tetap.

Di bidang kepemudaan dibentuk Barisan Pemuda Gerindo setelah Juli 1938. Azas
dari Barisan Pemuda Gerindo ini sama dengan Gerindo itu sendiri. Ia adalah
pendukung dan pelaksana putusan-putusan Gerindo. “Wikana terpilih sebagai
ketua pertamanya,” tulis Anderson.

Wikana kemudian diganti oleh Ismail Widjaja dan AM Hanafi sebagai Sekretaris
Umum. “Saya menjabat Sekretaris Jenderal Pucuk Pimpinan Barisan Pemuda
Gerindo sejak tahun 1939, menggantikan saudara Wikana yang didesak
mengundurkan diri oleh Ketua PB. Gerindo Dr A.K. Gani karena
tercium keradikalannya yang ‘komunistis’ demi untuk keselamatan dan
kelangsungan perjuangan Gerindo,” kata AM Hanafi dalam bukunya *AM Hanafi
Menggugat.*

Kira-kira satu tahun sebelum Jepang datang, Soemarsono kenal dengan Wikana
karena kebetulan sama-sama berkegiatan di daerah Kemayoran.

“Di Jakarta, bapak tinggal di Jalan Garuda,” kata Lenina.

Soemarsono kenal Wikana sekaligus kenal temannya yang juga anggota Gerindo,
Achmad Azhari dari Palembang. Soemarsono yang baru mau masuk Gerindo juga
kenal dengan teman Wikana yang lain, yaitu pelukis S. Sudjojono dan
Hariyadi.

“Ahmad Azhari dan Wikana satu tempat kerja sebagai tukang ketik di
Percetakan Negara di Salemba. Azhari satu rumah sama saya. Saya banyak
dengar mengenai Wikana dari Azhari. Azhari sangat menyanjung sekali Wikana.
Wikana dianggap senior di antara pemuda-pemuda Gerindo. Wikana dianggap
paling matang mengenai pengertian-pengertian perjuangan dan politik. Di
kalangan pemuda pergerakan, Wikana memiliki pengaruh yang kuat. Ketokohannya
satu level di bawah Amir Sjarifuddin,” kata Soemarsono.

Saat Wikana menikahi Asminah binti Oesman di Kemayoran pada 1940, Soemarsono
datang memberi selamat. “Dia dapat anak Sunter. Saya datang waktu perkawinan
itu karena Azhari. Saya kasih salam dan perkenalan sama Wikana,” ujar
Soemarsono.

Dari hasil pernikahannya, Wikana dan Asminah dikaruniai enam anak, yaitu
Lenina Soewarti Wiasti Wikana Putri, Temo Zein Karmawan Soekana Pria (alm.),
Tati Sawitri Apramata, Kania Kingkin Pratapa, Rani Sadakarana, dan Remondi
Sitakodana.

Pekerjaan sebagai organisatoris tak membuat Wikana alpa menulis. “Kalau
sudah sampai di rumah, bapak pasti membaca dan menulis. Makan saja sampai
dianter. Jadi kalau sudah namanya menulis, mengetik, dan baca buku,
*gak*bisa diganggu,” kata Tati.

“Bapak adalah pembelajar otodidak. Dia bisa bahasa Jerman, Inggris, Rusia
dan Prancis. Kalau bahasa Belanda adalah bahasa komunikasi sehari-hari,”
kata Lenina.

Lenina menambahkan, kegemaran bapaknya adalah membaca buku. “Kalau anaknya
ulangtahun, hadiahnya pasti buku. Kami diajak ke toko buku untuk memilih
sendiri buku yang disukai. Kalau saya suka buku biografi dan sejarah,” ujar
Lelina.

Melalui penanya Wikana menyebarkan gagasan-gagasan tentang pergerakan dan
komunisme. Dia menulis *Organisatie, Pengoempoelan Boeah Pena *(Oesaha
Penerbitan Tengara, 1947), *Dokumentasi Pemuda Sekitar Proklamasi Indonesia
Merdeka* (bersama DN Aidit, Legiono, dan Badan Penerangan Pusat SBPI, 1948),
*Satu Dua Pandangan Marxisme *(Revolusioner, 194?). Pada Oktober 1938,
Wikana, Amir Sjarifuddin, Asmara Hadi, dan A.M. Sipahutar menjadi dewan
redaksi dalam majalah bulanan politik *Toedjoean Rakjat. *

Menurut Harry Poeze, Wikana juga aktif dalam surat kabar *Menara Merah* yang
diterbitkan oleh PKI bawah tanah. *Menara Merah* menganut garis Moskow, yang
menetapkan pembentukan front rakyat untuk membendung gerakan maju
kekuatan-kekuatan totaliter Jerman dan Jepang. *Menara Merah *kemudian
dilanjutkan oleh “generasi ketiga” PKI di bawah pimpinan Widarta dan K.
Midjaja.

“Wikana bertugas menyebarkan *Menara Merah* di Jawa Barat, tapi
penanggungjawab utama adalah Pamoedji yang telah menyuruh suratkabar ini
dicetak di Surabaya. Pada bulan Juni 1940, satu eksemplar surat kabar ini
disita. Dalam hubungan ini, Amir Sjarifuddin, Adam Malik, dan Wikana diduga
tersangkut,” tulis Poeze dalam *Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi
Indonesia, Jilid 1, Agustus 1945-Maret 1946*.

“Wikana ditangkap oleh Belanda karena menyebarkan *Menara Merah *dengan Adam
Malik dan Pandu Kartawiguna,” tulis Anderson.

Wikana tidak suka sama Belanda. “Karena bapak pernah ditempeleng sama orang
Belanda,” kata Tati. Wikana bersama Sukarni, Adam Malik, dan lainnya
dibebaskan dari penjara Cilacap setelah penyerahan Belanda kepada Jepang
pada 8-9 Maret 1942. Sidik Kertapati mengenang Wikana sebagai orang yang
dikenal lama oleh para pemuda pergerakan sejak sama-sama aktif dalam gerakan
revolusioner zaman Belanda. Karena aktivitasnya, “Wikana selalu menjadi
buronan politik dan sering keluar-masuk penjara di zaman kolonial Belanda,”
tulis Sidik dalam *Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945*. *[HENDRI F. ISNAENI]
*

*http://www.majalah-historia.com/berita-300-anak-menak-revolusioner.html
*

Kirim email ke