Muslim Bali Warisi Megibung dan Ngejot
  TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/08/21/00515042/Muslim.Bali.Warisi.Megibung.dan.Ngejot#>
ILustrasi
 Minggu, 21 Agustus 2011 | 00:51 WIB

Oleh *I Ketut Sutika*

*DENPASAR, KOMPAS.com*--Menu makanan yang dihidangkan itu berderet diatur
sedemikian rupa, satu porsi untuk empat-lima orang memenuhi ruangan masjid
dan halaman sekitarnya yang cukup luas.

Tradisi "megibung", yakni berbuka puasa bersama umat muslim di Kampung Islam
Kepaon, Denpasar Selatan hingga sekarang masih mewarisi tradisi leluhurnya
dalam melaksanakan bulan suci Ramadhan.

Tradisi "Megibung" yakni makan bersama atau makan dalam satu wadah telah
diwarisi secara turun temurun hingga sekarang masih tetap lestari, sebagai
upaya mempererat tali persaudaraan, tutur H Ishak Ibrahim, Takmir masjid Al
Muhajirin, Kampung Islam Kepaon, Denpasar.

Kegiatan tersebut melibatkan seluruh warga kampung Kepaon yang sebagian
besar beragama Islam, sekaligus sebagai upacara selamatan warga dan jamaah
masjid Al Muhajirin Kepaon Denpasar yang telah lancar melakukan pembacaan 30
juz Al Quran atau khataman.

Tradisi megibung sudah diwarisi sejak umat muslim masuk ke daerah Kepaon,
Denpasar Selatan sekitar tahun 1362 Masehi.

Umat muslim sudah berbaur dengan umat muslin dari berbagai daerah di
Indonesia, baik orang muslim asal Melayu, Bugis, Palembang maupun dari  Bali
sendiri.

Dalam kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah itu diawali para jemaah
berbuka puasa dengan takjil yang telah disiapkan, kemudian sebelum melakukan
shalat magrib secara berjamaah, kaum pria langsung menikmati makanan yang
sudah disediakan secara bersama-sama.

Jenis makanan yang disajikan pun beragam, mulai dari nasi tumpeng yang
dihidangkan dengan berbagai lauk pauk seperti ayam goreng, sayur, telur dan
buah-buahan dan berbagai jenis minuman.

Sidik Abas (11) misalnya, salah seorang anak yang bermukim di lingkungan
Kampung Kepaon mengaku sudah sebanyak sepuluh kali mengikuti tradisi
"megibung" di masjid itu.

Meskipun hanya dengan lauk seadanya jika dimakan secara bersama-sama akan
tetap terasa nikmat dan menyenangkan. Warga Kampung Kepaon tercatat sekitar
600 kepala keluarga selama ini hidup rukun dan damai meskipun berada di
sekeliling umat beragama Hindu yang berbeda budaya.

Kerukunan hidup sesama warga kampung maupun antarumat beragama* *lainnya
selama ini sangat mesra dan harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya,
tanpa pernah terjadi masalah.

Umat Islam yang tinggal dalam satu pemukiman yang telah menetap secara turun
temurun di Pulau Dewata dengan bernuansa budaya Bali selain di Kampung
Kepaon Denpasar juga Desa Pegayam, Kabupaten Buleleng, Saren Jawa,
Budekeling Kabupaten Karangasem dan Desa Banyubiru Kabupaten Jembrana.

Bahkan kegiatan "Megibung" yang pernah dilaksanakan Pemkab Karangasem, Bali
timur tercatat pada lembaran Museum Rekor Indonesia (MURI) karena melibatkan
lebih dari 20.000 orang.

"Megibung", memang merupakan salah satu potensi unik yang sarat dengan
nilai-nilai luhur untuk tetap dilestarikan sebagai warisan budaya bagi anak
cucu di masa mendatang.

*Tradisi Ngejot*

Umat muslim di kampung Kepaon dan di Bali pada umumnya hingga sekarang masih
mewarisi tradisi "ngejot" yakni memberi menu makanan dan minuman kepada
warga dan kerabat dekat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi "Ngejot" hingga kini masih lestari, khususnya komunitas yang
bermukim di daerah pedesaan, sekaligus cermin kerukunan antarumat beragama,
tutur Drs Haji Mulyono, seorang tokoh Islam di Bali.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Provinsi Bali itu menilai, tradisi
"ngejot" bagi umat muslin di perkotaan lambat laun hilang, meskipun sebagian
kecil masih memegang teguh tradisi tersebut.

Meskipun demikian kerukunan antarumat beragama di Bali tetap mesra dan
harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya. Kondisi seperti itu telah
diwarisi turun temurun sejak 500 tahun silam, berkat adanya saling
mengertian dan menghormati satu sama lainnya.

"Tredisi ’ngejot’ bagi komunitas muslim menunjukkan adanya kekerabatan yang
begitu akrab dengan umat lainnya yang beragama Hindu maupun agama lainnya,"
tutur Haji Mulyono, mantan asisten I Sekprov Bali.

Umat muslim "ngejot" menjelang Hari Raya Idul Fitri dan umat Hindu biasanya
membalas pemberian itu menjelang Hari Raya Nyepi atau Hari Raya Galungan dan
Kuningan.

Hal itu mencerminkan keakraban dalam kehidupan sehari-hari, yang secara
tidak langsung memberikan dampak positif dalam memantapkan kerukunan hidup
beragama yang telah dapat diwujudkan selama ini.

Umat Islam di Bali juga telah berbaur dengan budaya setempat, terlihat dari
lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali sama dengan lembaga adat
masyarakat Bali Hindu.

Komonitas muslim yang bergelut dalam bidang pertanian juga menerapkan sistem
pengairan subak, pola pengaturan air seperti yang dilakukan petani beragama
Hindu, meskipun cara mensyukuri saat panen berbeda, sesuai  kepercayaan dan
agama yang dianut.

Umat Islam yang mengolah lahan pertanian di Subak Yeh Sumbul, Medewi,
Pekutatan, dan Subak Yeh Santang, Kabupaten Jembrana, daerah ujung barat
Pulau Bali, menerapkan sistem pengairan secara teratur seperti umumnya
dilakukan petani Pulau Dewata.

Adanya unsur kesamaan antara Islam dan Hindu, termasuk terpeliharanya
tradisi "megibung" dan "ngejot" dapat dijadikan tonggak lebih menciptakan
kemesraan dan tali persaudaraan antara Hindu dan Islam, termasuk umat lain
di Pulau Dewata, harap H Mulyono.

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/08/21/00515042/Muslim.Bali.Warisi.Megibung.dan.Ngejot

Kirim email ke