PESANTREN TAHFIZUL QURAN AMANAH UMMAH, ARCAMANIK Minim Fasilitas Tak Kurangi Semangat Menghafal Alquran * Didirikan Bagi Kaum Duafa Sabtu, 20 Agustus 2011 | 10:38 WIB
*MENUNTUT *ilmu tidak harus disertai dengan fasilitas lengkap. Yang paling penting adalah semangat. Sebab, dengan semangat, kekurangan akan menjadi terasa lengkap. Begitulah yang dirasakan oleh para santri Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Amanah Ummah di Jalan Cicukang, Kelurahan Cisaranten Bina Harapan, Kecamatan Arcamanik. Meski pondok mereka hanya seukuran 3x6, mereka tetap semangat mengikuti pelajaran atau materi yang diberikan oleh ustaz-ustaznya. Bahkan bau domba dan kambing dari kandang ternak di samping pondok yang kerap mampir di hidung sudah tak dihiraukan. Pondok pesantren ini memang belum lama berdiri, dibangun di atas tanah seluas 2.300 meter persegi hasil pembelian dengan sistem lelang wakaf. Santrinya juga masih belum banyak, baru tiga belas santri dari berbagai daerah di Indonesia serta tiga orang santri yang memilih pulang pergi dan sebelas santri lain akan datang dalam waktu dekat ini. Meski begitu, semangat para santri untuk menuntut ilmu patut ditiru. Mereka juga berusaha mandiri dan tidak mengandalkan donatur dengan cara bersama-sama mengelola sebuah unit usaha. Menurut pantauan Tribun, pondok pesantren ini hanya terdiri dari satu ruangan besar dan dua ruangan kecil. Satu ruangan besar digunakan untuk tempat ibadah seperti salat berjemaah karena belum ada musala atau masjid. Ruangan ini juga difungsikan sebagai tempat tidur serta ruang belajar atau menerima materi dari ustaz. Sedangkan ruangan lainnya digunakan sebagai ruang tamu. Persis di sebelah pondok yang hanya berjarak satu langkah kaki orang dewasa, terdapat kandang domba dan kambing. Bisa dibayangkan bila angin berembus, bau dua jenis hewan ini akan menyergap hidung para santri. Situasi ini sudah bisa mereka atasi. Bahkan menjadi bagian dari keseharian hidup para santri. "Seperti inilah kehidupan santri di sini. Namun bukan berarti kita ingin tetap seperti ini. Pastinya akan ada perubahan, tapi harus bertahap. Yang penting ada tempat bagi santri untuk menjalani kegiatan dan menginap," kata H Abdulah Wahyu, pimpinan Pontren sekaligus Pemimpin Yayasan Amanah Ummah, saat ditemui Tribun, Rabu (17/8). Menurut dia, pontren ini didirikan memang dengan niat ditujukan bagi kaum duafa. Para santri ini gratis masuk pontren, bahkan akan mendapat pakaian serta beberapa kebutuhan sehari-hari secara gratis. Walau begitu, mereka pun tidak menutup diri bagi orang yang mampu untuk masuk ke pontren ini. Rata-rata santri yang sebagian adalah anak yatim dan putus sekolah berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Maluku, Nusa Tenggara Timur, Gresik, Cianjur, Ciamis, Garut, dan Bandung. Bahkan ustaznya pun datang dari Aceh, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, antara lain Ustaz Mahfud Tanjung, Ustaz Sukri, Ustaz Yono Cahyono, Ustaz Wahyu, dan Ustaz Ijang Kamaludin. "Ustaz dan santri datang dari latar belakang budaya yang berbeda, termasuk latar belakang kehidupannya, tapi kami berusaha saling membaur dan alhamdulillah sampai saat ini semua seperti keluarga," katanya. Selain harus menuntut ilmu dengan "aroma" domba dan kambing, keunikan lain dari pontren ini yakni bertujuan mencetak generasi hafiz (hafal) Quran. Para santri diharapkan bisa menghafal Quran dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Tapi mereka juga mendapat pelajaran lain seperti belajar kitab kuning, nahwu sharaf, fikih, bahasa Arab, serta akhlak atau adab. Khusus yang terakhir, menurut Ustaz Ijang Kamaludin, para santri diajari mulai dari menjaga sikap yang paling kecil atau paling mudah seperti tersenyum saat menyapa orang hingga adab saat akan masuk ke dalam kamar mandi. "Kami inginnya mereka semua bisa menjadi hafiz Quran yang didukung dengan akhlak mulia sebagai hamba Allah," katanya saat di temui di lokasi yang sama. Bukan hanya itu, pada diri para santri ini juga ditanamkan jiwa mandiri serta diberikan keahlian dengan diikutkan dalam kegiatan unit usaha mandiri berupa usaha ekonomi produktif jual domba akikah dan domba kurban. Unit usaha ini tergolong lumayan, dalam sebulan rata-rata dapat menjual enam puluh ekor domba. Pada hari raya Iduladha, bisa laku hingga 300 ekor. *(tif) * Artikel lebih lengkap bisa dibaca di edisi cetak *Tribun Jabar*, Sabtu (20/8) Penulis : Siti Fatimah Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/61175/Minim-Fasilitas-Tak-Kurangi-Semangat-Menghafal-Alquran
