Nuhun MH kiriman ngeunaan pasantren2. Menarik jeung sababaraha unik boga khasna 
sorangan. Nu jadi panasaran mah bahasa panganteurna naon nya? Basa Sunda kitu? 
Lamun sapopoe mah tangtuna basa sunda utamana campur meureun basa indonesia 
jeung arab, ngan eta basa panganteurna naha basa sunda? Sugan dulur ki sunda nu 
ngajrek sabundeureun eta pasantren2 aya nu uninga?


jp

Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]>
Dikirim: Minggu, 21 Agustus 2011 7:37
Judul: [kisunda] Atikan - Pasantren Syamsul Maarif, Cileunyi


  
PESANTREN SYAMSUL MAARIF, CILEUNYI
Santri Intensif Menekuni Ilmu Falak 
Senin, 15 Agustus 2011 | 10:45 WIB

BIASANYA orang mempelajari ilmu tentang penanggalan, benda-benda langit, dan 
tata surya dengan mengambil jurusan ilmu astronomi di perguruan tinggi umum. 
Tapi sebenarnya ada pilihan tempat lain untuk belajar ilmu tersebut, yaitu 
pondok pesantren.

Hanya memang tidak semua pondok pesantren mengajarkan astronomi. Dari 
segelintir itu, Pondok Pesantren Syamsul Maarif salah satunya. Pesantren yang 
berlokasi di Jalan Ciburial, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, itu 
memiliki program pembelajaran ilmu falak sebagai bagian dari ilmu astronomi. 

Para santri di pesantren ini umumnya mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati dan 
Unpad, serta santri yang berasal dari berbagai daerah, seperti Bandung, 
Cianjur, Purwakarta, Sukabumi, Cililin, dan Lampung.

Selama bulan Ramadan ini, pesantren tersebut mengkhususkan program pembelajaran 
ilmu falak secara intensif. "Kami bisa menghitung kapan gerhana matahari atau 
bulan akan muncul. Berdasarkan perhitungan kami, gerhana matahari akan muncul 
tahun ini pada bulan Desember," kata KH Asep Zaenal Muttaqyn, Kepala Pondok 
Pesantren Syamsul Maarif, Sabtu (13/8). 

Menurutnya, ponpes yang didirikan tahun 1989 ini telah lama mempelajari ilmu 
tersebut. Dan itu dipelajari secara turun-temurun. "Pertama ilmu ini dipelajari 
kakek saya KH Muhammad Suja'i, yang pertama kali mendirikan MUI Jabar tahun 
1958 dari Syekh Muhammad Mansur. Setelah itu ilmu tersebut diturunkan lagi ke 
orang tua saya, KH Aceng Zaeni Dahlan dan kemudian diturunkan lagi ke saya dan 
akhirnya pada para santri di pesantren ini," kata Asep. 

Di Jawa Barat ini, kata Asep, pondok pesantren Syamsul Maarif paling intensif 
mempelajari ilmu tersebut. Dengan mempelajari ilmu tersebut, para santri dapat 
membuat penanggalan, waktu salat, dan mengetahui kapan gerhana matahari atau 
bulan muncul. 

"Jika para ahli menggunakan kacamata zahir, sedangkan kami menggunakan 
haroqatul hamsu, yakni penentuan ijtima dan istikmal. Hal itu perlu untuk 
saling menguatkan. Pada beberapa kesempatan, kami sering diundang Badan Hisab 
Rukyat Jabar untuk menentukan penanggalan," katanya. 

Memang tidak mudah untuk mempelajari ilmu falak. Namun dengan mengetahui 
angka-angka dalam bahasa Arab dan rumus-rumus saja, ilmu falak mudah 
dipelajari. 

"Selain itu, dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian. Sebab, meski telah hafal 
angka dan rumus, jika tidak teliti, hasilnya akan sangat melenceng," kata Oma 
Komarudin, Ketua Dewan Santri.

Bagi Oma, ilmu falak itu terbilang unik dan menantang. "Unik karena itu 
bersifat prediksi dengan hitungan, sedangkan para ahli dengan menggunakan alat. 
Menantang karena ilmu tersebut sangat menuntut ketelitian dan kehati-hatian. 
Meski demikian, para santri sangat antusias mempelajari ilmu tersebut," ujar 
Oma.
 
Selain itu, menurutnya, lama atau tidaknya menguasai ilmu falak tergantung dari 
kecerdasan, kesabaran serta keseriusan dari santri. "Tidak jarang ada juga 
santri yang menghindar saat belajar ilmu itu karena saking pusingnya," kata 
Oma. 

Agar mempermudah santri belajar, Pesantren Syamsul Maarif memiliki metode 
khusus mempelajari ilmu falak, yaitu sistem cara belajar santri aktif (CBSA). 

"Minggu pertama belajar teori, yakni pelajari buku pengantar yang dibuat kakek 
saya. Setelahnya langsung belajar ilmu falak disertai kitab dan praktik di 
depan murid saat di kelas. Contohnya menghitung tanggal 1 Ramadan dan 1 
Syawal," kata Asep.

Tidak semua santri di Syamsul Maarif belajar ilmu falak. Ilmu ini lebih 
diutamakan diberikan kepada santri yang sudah menjadi mahasiswa. Walau begitu, 
tidak tertutup kemungkinan pula mereka yang bukan mahasiswa belajar ilmu ini.

"Ya, setiap tahunnya, dari puluhan santri yang belajar ilmu falak, paling yang 
benar-benar menguasai hanya 5-10 orang," kata Asep. 

Santri yang bisa menguasai prediksi soal gerhana matahari atau bulan juga masih 
sedikit karena butuh kemampuan khusus. "Biasanya yang mempelajari itu hanya 
mereka yang meneruskan kelas lanjutan," kata Asep.

Selain ilmu falak, di bulan Ramadan ini, pesantren ini mengkhususkan pendalaman 
hadis. "Santri tingkat mahasiswa mempelajari kitab hadis Riyadus Solihin, 
tingkat SMA mempelajari Muhtarul Ahadis, dan SMP mempelajari Hadits Arbain," 
kata Asep.

Santri juga diwajibkan khatam membaca Alquran dua kali. "Jika tidak, santri 
tidak boleh pulang ke asrama. Saat itu juga saya pantau di masjid agar santri 
bisa khatam," ujar Asep.

Uniknya, di pesantren ini santri dilarang memakai ponsel yang canggih. Mereka 
hanya boleh memakai ponsel lama yang tidak berwarna, tidak memiliki fitur 
internet, video, dan MP3 player. Toleransi yang diberikan hanyalah ponsel yang 
punya fitur radio.

"Saya juga memakai HP jadul. Itu semua dilakukan semata-mata untuk menghindari 
dampak buruk dari teknologi dan memperteguh keimanan dan ketakwaan para santri. 
Dan para santri pun memahami kewajiban tersebut," kata Asep. (*)
Penulis : Mega Nugraha 
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/60678/Santri-Intensif-Menekuni-Ilmu-Falak-


Kirim email ke