PESANTREN SYAMSUL MAARIF, CILEUNYI Santri Intensif Menekuni Ilmu Falak Senin, 15 Agustus 2011 | 10:45 WIB
*BIASANYA *orang mempelajari ilmu tentang penanggalan, benda-benda langit, dan tata surya dengan mengambil jurusan ilmu astronomi di perguruan tinggi umum. Tapi sebenarnya ada pilihan tempat lain untuk belajar ilmu tersebut, yaitu pondok pesantren. Hanya memang tidak semua pondok pesantren mengajarkan astronomi. Dari segelintir itu, Pondok Pesantren Syamsul Maarif salah satunya. Pesantren yang berlokasi di Jalan Ciburial, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, itu memiliki program pembelajaran ilmu falak sebagai bagian dari ilmu astronomi. Para santri di pesantren ini umumnya mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati dan Unpad, serta santri yang berasal dari berbagai daerah, seperti Bandung, Cianjur, Purwakarta, Sukabumi, Cililin, dan Lampung. Selama bulan Ramadan ini, pesantren tersebut mengkhususkan program pembelajaran ilmu falak secara intensif. "Kami bisa menghitung kapan gerhana matahari atau bulan akan muncul. Berdasarkan perhitungan kami, gerhana matahari akan muncul tahun ini pada bulan Desember," kata KH Asep Zaenal Muttaqyn, Kepala Pondok Pesantren Syamsul Maarif, Sabtu (13/8). Menurutnya, ponpes yang didirikan tahun 1989 ini telah lama mempelajari ilmu tersebut. Dan itu dipelajari secara turun-temurun. "Pertama ilmu ini dipelajari kakek saya KH Muhammad Suja'i, yang pertama kali mendirikan MUI Jabar tahun 1958 dari Syekh Muhammad Mansur. Setelah itu ilmu tersebut diturunkan lagi ke orang tua saya, KH Aceng Zaeni Dahlan dan kemudian diturunkan lagi ke saya dan akhirnya pada para santri di pesantren ini," kata Asep. Di Jawa Barat ini, kata Asep, pondok pesantren Syamsul Maarif paling intensif mempelajari ilmu tersebut. Dengan mempelajari ilmu tersebut, para santri dapat membuat penanggalan, waktu salat, dan mengetahui kapan gerhana matahari atau bulan muncul. "Jika para ahli menggunakan kacamata zahir, sedangkan kami menggunakan haroqatul hamsu, yakni penentuan ijtima dan istikmal. Hal itu perlu untuk saling menguatkan. Pada beberapa kesempatan, kami sering diundang Badan Hisab Rukyat Jabar untuk menentukan penanggalan," katanya. Memang tidak mudah untuk mempelajari ilmu falak. Namun dengan mengetahui angka-angka dalam bahasa Arab dan rumus-rumus saja, ilmu falak mudah dipelajari. "Selain itu, dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian. Sebab, meski telah hafal angka dan rumus, jika tidak teliti, hasilnya akan sangat melenceng," kata Oma Komarudin, Ketua Dewan Santri. Bagi Oma, ilmu falak itu terbilang unik dan menantang. "Unik karena itu bersifat prediksi dengan hitungan, sedangkan para ahli dengan menggunakan alat. Menantang karena ilmu tersebut sangat menuntut ketelitian dan kehati-hatian. Meski demikian, para santri sangat antusias mempelajari ilmu tersebut," ujar Oma. Selain itu, menurutnya, lama atau tidaknya menguasai ilmu falak tergantung dari kecerdasan, kesabaran serta keseriusan dari santri. "Tidak jarang ada juga santri yang menghindar saat belajar ilmu itu karena saking pusingnya," kata Oma. Agar mempermudah santri belajar, Pesantren Syamsul Maarif memiliki metode khusus mempelajari ilmu falak, yaitu sistem cara belajar santri aktif (CBSA). "Minggu pertama belajar teori, yakni pelajari buku pengantar yang dibuat kakek saya. Setelahnya langsung belajar ilmu falak disertai kitab dan praktik di depan murid saat di kelas. Contohnya menghitung tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal," kata Asep. Tidak semua santri di Syamsul Maarif belajar ilmu falak. Ilmu ini lebih diutamakan diberikan kepada santri yang sudah menjadi mahasiswa. Walau begitu, tidak tertutup kemungkinan pula mereka yang bukan mahasiswa belajar ilmu ini. "Ya, setiap tahunnya, dari puluhan santri yang belajar ilmu falak, paling yang benar-benar menguasai hanya 5-10 orang," kata Asep. Santri yang bisa menguasai prediksi soal gerhana matahari atau bulan juga masih sedikit karena butuh kemampuan khusus. "Biasanya yang mempelajari itu hanya mereka yang meneruskan kelas lanjutan," kata Asep. Selain ilmu falak, di bulan Ramadan ini, pesantren ini mengkhususkan pendalaman hadis. "Santri tingkat mahasiswa mempelajari kitab hadis Riyadus Solihin, tingkat SMA mempelajari Muhtarul Ahadis, dan SMP mempelajari Hadits Arbain," kata Asep. Santri juga diwajibkan khatam membaca Alquran dua kali. "Jika tidak, santri tidak boleh pulang ke asrama. Saat itu juga saya pantau di masjid agar santri bisa khatam," ujar Asep. Uniknya, di pesantren ini santri dilarang memakai ponsel yang canggih. Mereka hanya boleh memakai ponsel lama yang tidak berwarna, tidak memiliki fitur internet, video, dan MP3 player. Toleransi yang diberikan hanyalah ponsel yang punya fitur radio. "Saya juga memakai HP jadul. Itu semua dilakukan semata-mata untuk menghindari dampak buruk dari teknologi dan memperteguh keimanan dan ketakwaan para santri. Dan para santri pun memahami kewajiban tersebut," kata Asep. (*) Penulis : Mega Nugraha Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/60678/Santri-Intensif-Menekuni-Ilmu-Falak-
