Tah ieu conto, tetela basa Sunda teh ngeunah geuning dipake ngaran:
Sirnamiskin, Sukamiskin, jeung sajabana. Teu eleh pamor ku ngaran tina basa
Arab.
Najan muslim, tetep nyunda. Coba mending mana, jadi "Muslim Nyunda" atawa
"Sunda Ngarab"? Hehehe

===

PESANTREN SIRNAMISKIN, KOPO
Kerap Disambangi Gus Dur
Sabtu, 13 Agustus 2011 | 11:49 WIB

*HUBUNGAN *antara satu pondok pesantren (Pontren) dengan pontren lainnya,
tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang sang pendiri pontren yang
bersangkutan. Hubungan harmonis antar pontren ini, kemudian berkembang pada
hubungan pribadi antartokoh pontren.

Pontren Sirnamiskin di Kelurahan Kebonlega, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota
Bandung, misalnya tak bisa dilepaskan dari Pontren Tebuireng, Jombang.
Pontren di Jawa Timur yang didirikan KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul
Ulama (NU) itu bisa dikatakan sebagai pencetak ulama besar di Indonesia.

Pendiri Pontren Sirnamiskin, alm KH Ahmad Dimyati, pula yang lama belajar di
Pontren Tebuireng. Selepas nyantri di Tebuireng, KH Ahmad Dimyati mendirikan
Pontren Sirnamiskin pada tahun 1935. Ini berarti pontren yang terletak di
pinggir Jalan Kopo Bandung itu telah berusia 76 tahun.

Sejak tahun 1957 tongkat kepemimpinan Pontren Sirnamiskin beralih ke KH
Muhammad Amar Soleh. Kiai yang kini berusia 75 tahun itu adalah menantu KH
Ahmad Dimyati. Di era kepemimpinan KH Muhammad Amar Soleh, pontren ini
mengembangkan diri dengan mendirikan sekolah formal.

Sekarang, pendidikan formal mulai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Taman
Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, hingga Madrasah
Aliyah, tersedia di Pontren Sirnamiskin. Gabungan ilmu agama dengan
pendidikan umum inilah yang membuat alumni Pontren Sirnamiskin bisa
melanjutkan pendidikan ke universitas manapun.

"Banyak lulusan perguruan tinggi ternama, dulunya pernah nyantri di Pontren
Sirnamiskin," kata KH Muhammad Amar Solihin, Pemimpin Pontren Sirnamiskin,
saat ditemui di Pontren Sirnamiskin, Rabu (10/8).

Tentang kedekatannya dengan keluarga besar KH Hasyim Asyari, kiai berkulit
putih ini mengatakan, ketika KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asyari atau
ayahanda KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, mendapat kecelakaan lalu lintas
hingga meninggal dunia, santri Pontren Sirnamiskin lah yang turut
mengurusinya.

Hal ini, kata KH Muhammad Amar Solihin, tak lepas dari figur KH Ahmad
Dimyati yang berhubungan dekat dengan keluarga besar KH Hasyim Asyari.
Kedekatan hubungan itu kemudian menurun kepada KH Muhammad Amar Solihin
dengan Gus Dur.

"Almarhum Gus Dur itu setiap ke Bandung pasti mampir ke Sirnamiskin.
Sebelum, ketika, maupun sesudah jadi Presiden, Gus Dur sering datang
kesini," ujar KH Amar.

Menurut KH Muhammad Amar Solihin, Sirnamiskin itu berasal dari dua kata
dalam Bahasa Arab yaitu Syara yang artinya berjalan dan Misiq yang artinya
wangi. Jadi Sirnamiskin itu, kata KH Amar, artinya berjalan di tempat yang
wangi.

Namun kata KH Amar, entah mengapa dalam perkembangannya di Bahasa Indonesia,
Sirna iru artinya hilang, sedangkan miskin artinya sengsara. "Tapi yang
penting artinya bagus, hilangnya kemiskinan," ujar KH Amar, sambil
tersenyum.

Kini jumlah santri di Pontren Sirnamiskin sebanyak 1.200 orang. Namun yang
mondok di pontren hanya 200 orang. Sisanya tinggal di luar pontren atau
disebut santri kalong. Santri ini bersal dari sejumlah tempat di Jawa Barat.
Bahkan ada yang  dari Sumatera dan Kalimantan.

Pada bulan Ramadan ini, pihak pengurus pontren mewajibkan santrinya khatam
Alquran. Di pontren ini pula selain belajar ilmu umum, yang terutama mereka
diajari tentang ilmu agama Islam. Di antaranya Ilmu Fiqh, Tauhid, Nahwu
Saraf, hingga kepiawaian berceramah. "Kami memang bertekad mencetak banyak
dai. Diharapkan mereka bisa berdakwah kepada masyarakat luas," ujar KH Amar.
(*)

Penulis : Ichsan
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/60495/Kerap-Disambangi-Gus-Dur-

Kirim email ke