PESANTREN MANIIS, SALOPA
Santri Lebih Memilih Liliwetan Bersama
Kamis, 4 Agustus 2011 | 11:09 WIB

*SEMILIR *angin pegunungan menyibak kain sarung santri yang tengah mengambil
air wudu. Air yang dingin sudah menjadi teman sehari-hari mereka. Sesaat
kemudian para santri dengan tertib masuk ke masjid untuk menunaikan salat
Zuhur. Sebelumnya, mereka bersama jemaah lain melaksanakan tadarusan di
dalam mesjid.

Itulah sekilas suasana di Pondok Pesantren (Pontren) Maniis, yang terletak
di kawasan pegunungan Kampung Maniis, Desa Mekarjaya, Kecamatan Salopa,
Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (2/8) siang. Jeda waktu antara pukul 10.00
sampai menjelang waktu salat Zuhur, merupakan jeda waktu bebas pagi para
santri, dalam jadwal kegiatan khusus Ramadan.

Namun sebagian besar santri memanfaatkan jeda waktu istirahat itu untuk
bertadarusan. "Lebih baik membaca ayat suci Al-Quran daripada melakukan
kegiatan yang tidak bermanfaat," tutur Ipang (24), salah seorang santri yang
sudah sebelas tahun menimba ilmu agama di pontren yang terletak di dataran
tinggi itu.

Pada Ramadan 1432 H kali ini, para santri lebih diarahkan untuk mempelajari
lebih  dalam kitab kuning. Pelajaran tersebut diterima para santri selepas
salat subuh hingga pukul 10.00. Sementara sebagian besar sisa waktu,
diarahkan untuk melakukan tadarusan bersama. Waktu istirahat selain
menjelang salat Zuhur juga diberikan waktu leluasa selepas menunaikan salat
tarawih.

"Jadwal ibadahnya cukup banyak, dan itu membuat kami betah. Apalagi suasana
dan lingkungan pontren sangat nyaman. Air sangat melimpah dan bersih," tutur
Ipang. Untuk buka puasa dan sahur, pihak pontren menyerahkan sepenuhnya
kepada para santri. Santri sendiri sebagian besar lebih memilih liliwetan
bersama.

Pontren Maniis didirikan tahun 1950 oleh almarhum KH Udin Samsudin atau
lebih dikenal dengan panggilan Mama Maniis. Beberapa tahun kemudian sempat
berhenti karena lokasi pontren dibakar gerombolan DI/TII pimpinan
Kartosuwiryo. Tahun 1963 mulai dirintis kembali, dengan menambah beberapa
bangunan pondok.

Uniknya, sejak pertama kali berdiri, pontren yang sudah dikenal hingga
Madura ini, selalu memiliki jumlah santri hanya 50 orang saja. Hal itu
diduga berkaitan dengan arah pendidikan Pontren Maniis yang lebih terfokus
ke ajaran tasawuf. Oleh karena itu pula, pontren ini dikenal sebagai pontren
yang bersahaja, namun banyak jemaahnya hingga mencapai angka ribuan.

KH Iling, salah seorang sesepuh Pontren Maniis, menuturkan, semangat
pendidikan agama di pontren yang diasuhnya memang cenderung ke arah ajaran
tasawuf, sesuai dengan tokoh ahli tasawuf yang mereka agungkan, Syekh Abdul
Qodir Jaelani. "Ajaran tasawuf menjadi ajaran sangat mendasar bagi umat
Islam, terutama agar mereka lebih paham terhadap ajaran tauhid," ujarnya.

Karenanya, kondisi Pontren Maniis tampak bersahaja. Bangunan yang berdiri
sebagian besar bangunan lama yang dibangun tahun 1963. Terdiri dari masjid,
madrasah, lima rumah serta empat pondok. Semuanya dibangun dengan arsitektur
tradisional, berdinding campuran tembok dan bilik serta beratapkan ijuk.

Untuk kegiatan belajar, tidak hanya madrasah dan masjid saja yang bisa
digunakan, tapi juga sejumlah beranda yang ditata sedemikian rupa sehingga
sangat nyaman untuk belajar maupun tadarusan. Tata letak setiap bangunan
tampak artistik bertingkat-tingkat, karena berada di sebuah lereng bukit.

Tidak hanya santri yang bisa menimba ilmu, tapi juga jemaah di sekitar
pontren maupun dari luar daerah. Pihak pontren rutin menyelenggarakan
pengajian Selasa dan Kamis untuk pria dan Sabtu untuk ibu-ibu. Selain itu
sebulan sekali setiap tanggal 11 bulan hijriyah digelar acara manakiban
Rasul serta para wali khususnya ahli tasawuf Syekh Abdul Qodir Jaelani.
Acara  ini dihadiri jemaah dari Jabar, Jateng hingga Madura.* (*)*

Penulis : Firman Suryaman

Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/59434/Santri-Lebih-Memilih-Liliwetan-Bersama

Kirim email ke