Kang Jalak,ngaliwetna sok ditumpangan nilem ti balong ajengan? Hehehe 2011/8/25 <[email protected]>
> ** > > > ** Laah ngaliwet matak waas, baheula mah make kastrol, matak menu > favoritna peda atawa rebon dicabe hejoan dibungkus daun cau nu ditumpangkeun > luhureun liwet. Duka ayeuna masih kastrology atawa tos make panci/rice > cooker? Baheula mah beuki malah rebutan kerakna, ari barudak ayeuna mah teu > ditoel2 acan tah kerak teh. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Ki Hasan <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Thu, 25 Aug 2011 05:02:14 +0800 > *To: *Ki Sunda<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *Baraya Sunda<[email protected]>; Urang Sunda< > [email protected]> > *Subject: *[kisunda] Atikan - Pasantren Maniis, Salopa Tasikmalaya > > > > PESANTREN MANIIS, SALOPA > Santri Lebih Memilih Liliwetan Bersama > Kamis, 4 Agustus 2011 | 11:09 WIB > > *SEMILIR *angin pegunungan menyibak kain sarung santri yang tengah > mengambil air wudu. Air yang dingin sudah menjadi teman sehari-hari mereka. > Sesaat kemudian para santri dengan tertib masuk ke masjid untuk menunaikan > salat Zuhur. Sebelumnya, mereka bersama jemaah lain melaksanakan tadarusan > di dalam mesjid. > > Itulah sekilas suasana di Pondok Pesantren (Pontren) Maniis, yang terletak > di kawasan pegunungan Kampung Maniis, Desa Mekarjaya, Kecamatan Salopa, > Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (2/8) siang. Jeda waktu antara pukul 10.00 > sampai menjelang waktu salat Zuhur, merupakan jeda waktu bebas pagi para > santri, dalam jadwal kegiatan khusus Ramadan. > > Namun sebagian besar santri memanfaatkan jeda waktu istirahat itu untuk > bertadarusan. "Lebih baik membaca ayat suci Al-Quran daripada melakukan > kegiatan yang tidak bermanfaat," tutur Ipang (24), salah seorang santri yang > sudah sebelas tahun menimba ilmu agama di pontren yang terletak di dataran > tinggi itu. > > Pada Ramadan 1432 H kali ini, para santri lebih diarahkan untuk mempelajari > lebih dalam kitab kuning. Pelajaran tersebut diterima para santri selepas > salat subuh hingga pukul 10.00. Sementara sebagian besar sisa waktu, > diarahkan untuk melakukan tadarusan bersama. Waktu istirahat selain > menjelang salat Zuhur juga diberikan waktu leluasa selepas menunaikan salat > tarawih. > > "Jadwal ibadahnya cukup banyak, dan itu membuat kami betah. Apalagi suasana > dan lingkungan pontren sangat nyaman. Air sangat melimpah dan bersih," tutur > Ipang. Untuk buka puasa dan sahur, pihak pontren menyerahkan sepenuhnya > kepada para santri. Santri sendiri sebagian besar lebih memilih liliwetan > bersama. > > Pontren Maniis didirikan tahun 1950 oleh almarhum KH Udin Samsudin atau > lebih dikenal dengan panggilan Mama Maniis. Beberapa tahun kemudian sempat > berhenti karena lokasi pontren dibakar gerombolan DI/TII pimpinan > Kartosuwiryo. Tahun 1963 mulai dirintis kembali, dengan menambah beberapa > bangunan pondok. > > Uniknya, sejak pertama kali berdiri, pontren yang sudah dikenal hingga > Madura ini, selalu memiliki jumlah santri hanya 50 orang saja. Hal itu > diduga berkaitan dengan arah pendidikan Pontren Maniis yang lebih terfokus > ke ajaran tasawuf. Oleh karena itu pula, pontren ini dikenal sebagai pontren > yang bersahaja, namun banyak jemaahnya hingga mencapai angka ribuan. > > KH Iling, salah seorang sesepuh Pontren Maniis, menuturkan, semangat > pendidikan agama di pontren yang diasuhnya memang cenderung ke arah ajaran > tasawuf, sesuai dengan tokoh ahli tasawuf yang mereka agungkan, Syekh Abdul > Qodir Jaelani. "Ajaran tasawuf menjadi ajaran sangat mendasar bagi umat > Islam, terutama agar mereka lebih paham terhadap ajaran tauhid," ujarnya. > > Karenanya, kondisi Pontren Maniis tampak bersahaja. Bangunan yang berdiri > sebagian besar bangunan lama yang dibangun tahun 1963. Terdiri dari masjid, > madrasah, lima rumah serta empat pondok. Semuanya dibangun dengan arsitektur > tradisional, berdinding campuran tembok dan bilik serta beratapkan ijuk. > > Untuk kegiatan belajar, tidak hanya madrasah dan masjid saja yang bisa > digunakan, tapi juga sejumlah beranda yang ditata sedemikian rupa sehingga > sangat nyaman untuk belajar maupun tadarusan. Tata letak setiap bangunan > tampak artistik bertingkat-tingkat, karena berada di sebuah lereng bukit. > > Tidak hanya santri yang bisa menimba ilmu, tapi juga jemaah di sekitar > pontren maupun dari luar daerah. Pihak pontren rutin menyelenggarakan > pengajian Selasa dan Kamis untuk pria dan Sabtu untuk ibu-ibu. Selain itu > sebulan sekali setiap tanggal 11 bulan hijriyah digelar acara manakiban > Rasul serta para wali khususnya ahli tasawuf Syekh Abdul Qodir Jaelani. > Acara ini dihadiri jemaah dari Jabar, Jateng hingga Madura.* (*)* > > Penulis : Firman Suryaman > > Editor : Darajat Arianto > > http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/59434/Santri-Lebih-Memilih-Liliwetan-Bersama > >
