Kenging artikel ti web Unpad. Kumaha tah ketak urang ka payunna?

http://www.unpad.ac.id/archives/45745

Prof. Mikihiro Moriyama, “Keunikan Budaya Sunda Justru Daya Tarik Dunia Global”
[Unpad.ac.id, 24/08/2011] Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita bisa belajar 
dari 
apa saja dan siapa saja. Bagaimana pendapat Anda jika kiat-kiat tentang 
meneliti kajian informasi di masyarakat Sunda, justru disampaikan oleh 
seorang berkebangsaan Jepang? Itulah yang terjadi dalam seminar bertema 
“Kajian Informasi Pada Masyarakat Sunda” di Ruang Oemi Abdurrachman 
Gedung 1, Lantai 2, Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas 
Padjadjaran Jatinangor, Rabu ini (24/08).
Prof. Mikihiro Moriyama (Foto Hera Khaerani)*
Dalam seminar yang digelar oleh Jurusan Ilmu Informasi dan  Perpustakaan  
Fikom Unpad itu, Prof. Mikihiro Moriyama dari Nanzan University, Nagoya, Japan, 
diundang sebagai pembicara.  Selain menguasai bahasa Indonesia, 
Prof. Mikihiro juga dapat berbahasa Sunda dengan baik.
Hal itu 
karena ia sempat berkuliah di Fakultas Sastra Unpad. Di tanah 
kelahirannya sendiri, ia bahkan mengajar mata kuliah Indonesia sejak 
1988 silam. Ia juga menerbitkan buku pelajaran Bahasa Indonesia dan buku 
kosakata Indonesia, untuk digunakan mahasiswa Jepang. Selain itu, Prof. 
Mikihiro juga banyak menerjemahan karya sastra kontemporer Indonesia ke dalam 
bahasa Jepang, di antaranya karya-karya Putu Wijaya dan Seno 
Gumira.
Terkait kemampuan bahasa Sunda pria tersebut, Dekan 
Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Prof. Deddy Mulyana, MA., PhD., mengaku 
sangat terkesan karena ia mampu menggunakan bahasa Sunda yang halus. 
Pandangannya sebagai seorang akademisi Jepang juga diharapkan bisa 
memberikan perspektif yang menarik. Menambahkan apa yang dikatakan Prof. Deddy, 
Ketua Program Studi Informasi dan Ilmu Perpustakaan, Wina Erwina Dra, MA., 
mengatakan bahwa kita yang berada di tatar Sunda sendiri 
harusnya lebih mau mengenal bagaimana informasi yang hidup di masyarakat Sunda.
Di tengah banyaknya orang yang meyakini bahwa kebudayaan 
lokal rentan punah tergerus arus globalisasi karena globalisasi seolah 
telah mempersempit peluang untuk budaya lokal, Prof. Mikihiro justru 
meyakini bahwa hal itu salah kaprah. “Arus balik globalisasi justru 
memberi peluang pada budaya lokal,” sebutnya.
Kekhasan dan 
keunikan budaya Sunda sebagai budaya lokal, justru dianggap menarik bagi dunia 
yang global. Karena itu, menurutnya kita tidak perlu khawatir 
budaya lokal akan hilang. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa di 
situlah letak pentingnya perpustakaan untuk menyelamatkan arsip-arsip 
lokal.
Ia menjelaskan bahwa globalisasi baru benar-benar ada saat 
kita mulai bisa membagi ilmu dengan orang-orang di luaran sana. “Dengan 
bantuan internet, diskusi yang dilangsungkan di Bandung bisa dibaca di 
Nagoya,” katanya mencontohkan. Selanjutnya, Prof. Mikihiro berpendapat 
bahwa tanpa lokalitas, tidak ada globalisasi.
Berbagi kiat untuk 
para peneliti, ia menjelaskan bahwa topik yang layak diangkat dari 
budaya Sunda selain dari topik yang belum diteliti, bisa juga berbentuk 
perbandingan. Untuk itu, diperlukan bacaan yang luas dan nantinya 
biarkan bahan-bahan yang telah dikumpulkan untuk berbicara sendiri. Satu hal 
lainnya yang tak kalah penting adalah menyenangkan atau tidaknya 
tema yang dipilih. “Kalau kita tidak suka, nanti di tengah jalan bisa 
bosan dan penelitian tidak selesai,” tuturnya.
Meski percaya bahwa kekhasan bisa membawa kita ke dunia, Prof. Mikihiro 
mengingatkan para 
peneliti kebudayan Sunda tentang perlunya mengaitkan kekhasan budaya 
lokal itu dengan hal yang lebih universal. Hal ini diperlukan agar 
penelitian tersebut dibaca oleh orang-orang dari belahan dunia yang 
lain. Selain itu, penguasaan beberapa bahasa nantinya akan sangat 
bermanfaat bagi peneliti yang secara khusus mengkaji budaya lokal.
Prof. Mikihiro mengaku sangat senang bisa sesekali mengisi acara di Unpad. 
“Saya ingin mulang tarima,” ungkapnya dalam bahasa Sunda. Sementara itu, 
tentang kesundaan yang 
menjadi spesialiasinya di ranah akademis, ia menyatakan bahwa Sunda itu 
subur dengan banyak bahan yang patut diteliti. Hingga kini, masih banyak dari 
budaya Sunda yang belum diteliti.
Laporan oleh: Hera Khaerani *

Kirim email ke