urang sunda teaaaaaaaa hebring, lain rek agul ku payung butut, lain rek gede hulu bongan rek dikawinkeun ku panghulu...... urang sunda mah unik. coba we tingali si Cepot goreng patut, tapi mun geus panas jempol suku, si Cepot bisa ngarubah ujud jadi satria kasep.....nya kitu oge mun ningali sunda asli di pedalam kabupaten Lebak (katelah suku Baduy). Urang Baduy mun melak pare tara nyieun sawah, cara melakna model ngahuma satahun sakali, can kabeja sampe ka poe ayeuna urang Baduy kalapran. angklung bisa manggung di mancanagara, nu can katelah nyaeta bi Enok tukang karedok anu montok.....he..he..he...
Dari: Deni Indra Kelana <[email protected]> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Dikirim: Kamis, 25 Agustus 2011 9:32 Judul: [kisunda] arus balik budaya Kenging artikel ti web Unpad. Kumaha tah ketak urang ka payunna? http://www.unpad.ac.id/archives/45745 Prof. Mikihiro Moriyama, “Keunikan Budaya Sunda Justru Daya Tarik Dunia Global” [Unpad.ac.id, 24/08/2011] Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita bisa belajar dari apa saja dan siapa saja. Bagaimana pendapat Anda jika kiat-kiat tentang meneliti kajian informasi di masyarakat Sunda, justru disampaikan oleh seorang berkebangsaan Jepang? Itulah yang terjadi dalam seminar bertema “Kajian Informasi Pada Masyarakat Sunda” di Ruang Oemi Abdurrachman Gedung 1, Lantai 2, Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Jatinangor, Rabu ini (24/08). Prof. Mikihiro Moriyama (Foto Hera Khaerani)* Dalam seminar yang digelar oleh Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fikom Unpad itu, Prof. Mikihiro Moriyama dari Nanzan University, Nagoya, Japan, diundang sebagai pembicara. Selain menguasai bahasa Indonesia, Prof. Mikihiro juga dapat berbahasa Sunda dengan baik. Hal itu karena ia sempat berkuliah di Fakultas Sastra Unpad. Di tanah kelahirannya sendiri, ia bahkan mengajar mata kuliah Indonesia sejak 1988 silam. Ia juga menerbitkan buku pelajaran Bahasa Indonesia dan buku kosakata Indonesia, untuk digunakan mahasiswa Jepang. Selain itu, Prof. Mikihiro juga banyak menerjemahan karya sastra kontemporer Indonesia ke dalam bahasa Jepang, di antaranya karya-karya Putu Wijaya dan Seno Gumira. Terkait kemampuan bahasa Sunda pria tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Prof. Deddy Mulyana, MA., PhD., mengaku sangat terkesan karena ia mampu menggunakan bahasa Sunda yang halus. Pandangannya sebagai seorang akademisi Jepang juga diharapkan bisa memberikan perspektif yang menarik. Menambahkan apa yang dikatakan Prof. Deddy, Ketua Program Studi Informasi dan Ilmu Perpustakaan, Wina Erwina Dra, MA., mengatakan bahwa kita yang berada di tatar Sunda sendiri harusnya lebih mau mengenal bagaimana informasi yang hidup di masyarakat Sunda. Di tengah banyaknya orang yang meyakini bahwa kebudayaan lokal rentan punah tergerus arus globalisasi karena globalisasi seolah telah mempersempit peluang untuk budaya lokal, Prof. Mikihiro justru meyakini bahwa hal itu salah kaprah. “Arus balik globalisasi justru memberi peluang pada budaya lokal,” sebutnya. Kekhasan dan keunikan budaya Sunda sebagai budaya lokal, justru dianggap menarik bagi dunia yang global. Karena itu, menurutnya kita tidak perlu khawatir budaya lokal akan hilang. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa di situlah letak pentingnya perpustakaan untuk menyelamatkan arsip-arsip lokal. Ia menjelaskan bahwa globalisasi baru benar-benar ada saat kita mulai bisa membagi ilmu dengan orang-orang di luaran sana. “Dengan bantuan internet, diskusi yang dilangsungkan di Bandung bisa dibaca di Nagoya,” katanya mencontohkan. Selanjutnya, Prof. Mikihiro berpendapat bahwa tanpa lokalitas, tidak ada globalisasi. Berbagi kiat untuk para peneliti, ia menjelaskan bahwa topik yang layak diangkat dari budaya Sunda selain dari topik yang belum diteliti, bisa juga berbentuk perbandingan. Untuk itu, diperlukan bacaan yang luas dan nantinya biarkan bahan-bahan yang telah dikumpulkan untuk berbicara sendiri. Satu hal lainnya yang tak kalah penting adalah menyenangkan atau tidaknya tema yang dipilih. “Kalau kita tidak suka, nanti di tengah jalan bisa bosan dan penelitian tidak selesai,” tuturnya. Meski percaya bahwa kekhasan bisa membawa kita ke dunia, Prof. Mikihiro mengingatkan para peneliti kebudayan Sunda tentang perlunya mengaitkan kekhasan budaya lokal itu dengan hal yang lebih universal. Hal ini diperlukan agar penelitian tersebut dibaca oleh orang-orang dari belahan dunia yang lain. Selain itu, penguasaan beberapa bahasa nantinya akan sangat bermanfaat bagi peneliti yang secara khusus mengkaji budaya lokal. Prof. Mikihiro mengaku sangat senang bisa sesekali mengisi acara di Unpad. “Saya ingin mulang tarima,” ungkapnya dalam bahasa Sunda. Sementara itu, tentang kesundaan yang menjadi spesialiasinya di ranah akademis, ia menyatakan bahwa Sunda itu subur dengan banyak bahan yang patut diteliti. Hingga kini, masih banyak dari budaya Sunda yang belum diteliti. Laporan oleh: Hera Khaerani *
