Jempol ^_^
On 08/25/2011 03:24 PM, Ki Hasan wrote:
Pikeun urang Jepang, ngulik kasundaan aya sababaraha kauntungan.
Keur nyalurkeun minat akademis, nu bisa dijadikeun kasab keur
kahirupanana.
Disagigireun eta oge boga nilai strategis keur mikanyaho leuwih jero
kultur urang Sunda khususna, urang Indonesia umumna. Hal ieu bisa
ngamuluskeun misi ekonomi Jepang, keur ngarebut pasar Indonesia.
Produk Jepang mahabu di unggal juru. Lain wae otomotif, tapi oge
kadaharan.
Numatak ceuk uing mah kaliru, mun urang Sunda hayoh wae
ngampul-ngampul Mikihiro. Hadena mah baraca ku sorangan khazanah Sunda
teh, lain nungguan dipangmacakeun wae ku deungeun-deungeun.
2011/8/25 Deni Indra Kelana <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
Kenging artikel ti web Unpad. Kumaha tah ketak urang ka payunna?
http://www.unpad.ac.id/archives/45745
Prof. Mikihiro Moriyama, “Keunikan Budaya Sunda Justru Daya
Tarik Dunia Global”
[Unpad.ac.id <http://Unpad.ac.id>, 24/08/2011] Ada pepatah yang
mengatakan bahwa kita bisa belajar dari apa saja dan siapa saja.
Bagaimana pendapat Anda jika kiat-kiat tentang meneliti kajian
informasi di masyarakat Sunda, justru disampaikan oleh seorang
berkebangsaan Jepang? Itulah yang terjadi dalam seminar bertema
“Kajian Informasi Pada Masyarakat Sunda” di Ruang Oemi
Abdurrachman Gedung 1, Lantai 2, Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran Jatinangor, Rabu ini (24/08).
<http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2011/08/Prof.-Mikihiro-Moriyama.jpg>
Prof. Mikihiro Moriyama (Foto Hera Khaerani)*
Dalam seminar yang digelar oleh Jurusan Ilmu Informasi dan
Perpustakaan Fikom Unpad itu, Prof. Mikihiro Moriyama dari Nanzan
University, Nagoya, Japan, diundang sebagai pembicara. Selain
menguasai bahasa Indonesia, Prof. Mikihiro juga dapat berbahasa
Sunda dengan baik.
Hal itu karena ia sempat berkuliah di Fakultas Sastra Unpad. Di
tanah kelahirannya sendiri, ia bahkan mengajar mata kuliah
Indonesia sejak 1988 silam. Ia juga menerbitkan buku pelajaran
Bahasa Indonesia dan buku kosakata Indonesia, untuk digunakan
mahasiswa Jepang. Selain itu, Prof. Mikihiro juga banyak
menerjemahan karya sastra kontemporer Indonesia ke dalam bahasa
Jepang, di antaranya karya-karya Putu Wijaya dan Seno Gumira.
Terkait kemampuan bahasa Sunda pria tersebut, Dekan Fakultas Ilmu
Komunikasi Unpad, Prof. Deddy Mulyana, MA., PhD., mengaku sangat
terkesan karena ia mampu menggunakan bahasa Sunda yang halus.
Pandangannya sebagai seorang akademisi Jepang juga diharapkan bisa
memberikan perspektif yang menarik. Menambahkan apa yang dikatakan
Prof. Deddy, Ketua Program Studi Informasi dan Ilmu Perpustakaan,
Wina Erwina Dra, MA., mengatakan bahwa kita yang berada di tatar
Sunda sendiri harusnya lebih mau mengenal bagaimana informasi yang
hidup di masyarakat Sunda.
Di tengah banyaknya orang yang meyakini bahwa kebudayaan lokal
rentan punah tergerus arus globalisasi karena globalisasi seolah
telah mempersempit peluang untuk budaya lokal, Prof. Mikihiro
justru meyakini bahwa hal itu salah kaprah. “Arus balik
globalisasi justru memberi peluang pada budaya lokal,” sebutnya.
Kekhasan dan keunikan budaya Sunda sebagai budaya lokal, justru
dianggap menarik bagi dunia yang global. Karena itu, menurutnya
kita tidak perlu khawatir budaya lokal akan hilang. Kendati
demikian, ia mengingatkan bahwa di situlah letak pentingnya
perpustakaan untuk menyelamatkan arsip-arsip lokal.
Ia menjelaskan bahwa globalisasi baru benar-benar ada saat kita
mulai bisa membagi ilmu dengan orang-orang di luaran sana. “Dengan
bantuan internet, diskusi yang dilangsungkan di Bandung bisa
dibaca di Nagoya,” katanya mencontohkan. Selanjutnya, Prof.
Mikihiro berpendapat bahwa tanpa lokalitas, tidak ada globalisasi.
Berbagi kiat untuk para peneliti, ia menjelaskan bahwa topik yang
layak diangkat dari budaya Sunda selain dari topik yang belum
diteliti, bisa juga berbentuk perbandingan. Untuk itu, diperlukan
bacaan yang luas dan nantinya biarkan bahan-bahan yang telah
dikumpulkan untuk berbicara sendiri. Satu hal lainnya yang tak
kalah penting adalah menyenangkan atau tidaknya tema yang dipilih.
“Kalau kita tidak suka, nanti di tengah jalan bisa bosan dan
penelitian tidak selesai,” tuturnya.
Meski percaya bahwa kekhasan bisa membawa kita ke dunia, Prof.
Mikihiro mengingatkan para peneliti kebudayan Sunda tentang
perlunya mengaitkan kekhasan budaya lokal itu dengan hal yang
lebih universal. Hal ini diperlukan agar penelitian tersebut
dibaca oleh orang-orang dari belahan dunia yang lain. Selain itu,
penguasaan beberapa bahasa nantinya akan sangat bermanfaat bagi
peneliti yang secara khusus mengkaji budaya lokal.
Prof. Mikihiro mengaku sangat senang bisa sesekali mengisi acara
di Unpad. “Saya ingin /mulang tarima,/” ungkapnya dalam bahasa
Sunda. Sementara itu, tentang kesundaan yang menjadi
spesialiasinya di ranah akademis, ia menyatakan bahwa Sunda itu
subur dengan banyak bahan yang patut diteliti. Hingga kini, masih
banyak dari budaya Sunda yang belum diteliti.
Laporan oleh: Hera Khaerani *